Musik Bambu Untuk Melestarikan Angklung
Ilustrasi musik bambu
Masyarakat agraris seperti Indonesia mempunyai banyak tradisi yang dilakukan turun temurun. Termasuk tradisi tetabuhan yang menghasilkan bunyi irama yang dilakukan pada momentum-momentum tertentu, terutama saat menjelang panen padi.
Bunyi irama yang dikenal sebagai musik bambu atau pun musik alami ini dilakukan untuk mengundang Dewi Sri agar hasil panen melimpah.
Di Jawa kita tentu mengenal tetabuhan kayu lesung yang menghasilkan bunyi bersahut-sahutan untuk mengundang Dewi Sri. Di Jawa Barat, kita juga mengenal bunyi tetabuhan yang dihasilkan dari bambu yang dibuat bersusun dengan menghasilkan irama.
Tetabuhan inipun dilakukan untuk maksud yang sama. Inilah sejarah musik bambu bernama angklung yang telah dilakukan masyarakat Sunda sejak 400 tahun yang lalu.
Kolaborasi
Upaya melestarikan musik khas Indonesia dari bambu terus dilakukan berbagai pihak. Pada awal Oktober 2010 yang lalu, juga diadakan Festival Musik Bambu Nusantara di Bandung yang juga diikuti berbagai daerah di Indonesia. Bahkan sejumlah pemusik dan peminat musik dari luar negeri tak sedikit yang turut menghadiri acara itu.
Selain angklung, beberapa alat musik dari bambu yang ditampilkan adalah seruling, kenthongan, berbagai jenis alat musik tiup bambu, dan masih bak lagi. Melalui even tahunan ini, kita juga menyaksikan bagaimana musik bambu bisa berkolaborasi dengan berbagai jenis musik modern lainnya, seperti pop, dangkut, rock, hingga jazz.
Target lain yang tak kalah pentingnya dari penyelenggaraan festival semacam itu adalah mengangkat musik bambu sebagai musik yang khas Indonesia. Utamanya lagi untuk mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa agar menetapkan angklung sebagai musik asli Indonesia. Apalagi ada indikasi angklung akan diklaim sebagai musiknya orang Malaysia.
Musik Khas
Musik bambu sebagai musik tradisional Indonesia sangat beragam jenisnya. Setiap daerah bahkan memiliki kekhasannya masing-masing. Di Sulawesi juga terdapat beragam jenis musik bambu, dari bentuk seperti seruling, terompet, hingga klarinet. Begitu juga dengan kawasan nusantara lainnya, selalu memiliki musik daerah yang unik.
Dalam perkembangannya, bunyi atau irama yang dihasilkan bambu juga mendorong munculnya alat-alat musik baru yang lebih kreatif. Apalagi tak sedikit seniman musik yang tak pernah kering ide untuk menciptakan berbagai jenis musik lain dari bahan bambu.
Belakangan kita juga mengenal alat musik berupa bambu yang diisi pasir hingga menimbulkan bunyi seperti air terjun. Dan inilah kekayaan tradisi khas Indonesia yang harus terus dilestarikan dan dikembangkan.

