The Voice Melengkapi Eksistensi Musik Barat di Indonesia
Ilustrasi musik barat
Seseorang dikatakan lebih maju satu langkah dalam pergaulan jika ia menyenangi musik Barat. Siapa yang bilang? Tidak ada yang mengutarakan pernyataan itu secara langsung. Namun, konsepsi kehidupan telah membangun kesan tersebut. Menciptakan perbedaan selera yang seolah mengedepankan salah satunya.
Hafal lagu-lagu Barat dianggap memiliki gengsi dan nilai plus sendiri bagi setiap orang agar tidak “dikucilkan” dalam pergaulan. Setidaknya, jika ingin dianggap manusia modern, seseorang harus mengenal musik Barat dan menyanyikan liriknya dengan benar meskipun dengan nada fals. Yang penting Baratnya, bukan pembawaannya.
Prestise musik Barat di Indonesia memang menjadi hal yang terbilang wajar dan mendarah daging sejak dulu. Hal ini terbukti dengan padatnya konser-konser musisi luar negeri di Indonesia. Setiap event yang menghadirkan penyanyi luar pasti sukses dan dipenuhi kalangan sosialita. Banyak kaum selebritis berseliweran di acara tersebut.
Menonton konser penyanyi luar merupakan penilaian khusus berdasarkan strata ekonomi dan kualitas pergaulan. Bagaimana lagi? Toh, hal itu telanjur mengalir dalam darah masyarakat Indonesia. Kecintaan terhadap musik Barat pun dibuktikan dengan kunjungan orang-orang Indonesia ke luar negeri untuk menonton konser salah satu penyanyi atau band Barat.
Apa Kabar Musik Lokal?
“Virus” musik Barat memang kian mewabah di kalangan masyarakat Indonesia. Bahkan, balita pun sudah hafal minimal satu lagu Barat. Misalnya, yang sempat tren belakangan adalah lagu Oh Baby yang dinyanyikan Justin Bieber. Lagu JB menyebar sangat cepat laksana virus pada setiap individu di Indonesia. Bahkan, balita.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana kecintaan masyarakat terhadap musik lokal? Boleh dikatakan, geliat musik lokal nyaris tergerus di tengah musik Barat yang kian berpengaruh. Terlebih, di era modernisasi. Meskipun demikian, eksistensi musik lokal masih tetap diperhitungkan dan memiliki penggemar.
Akan tetapi, musik lokal tampaknya harus rela berbagi eksistensi dengan musik Barat. Musik Barat terlampau menjangkiti ranah kehidupan dan pergaulan masyarakat Indonesia. Selain harus rela berbagi eksistensi, kehadiran musik Barat seharusnya menjadi pemicu musisi lokal untuk berkarya lebih baik dan berkualitas serta orisinil.
Orisinil. Itulah kuncinya. Sebuah karya yang diciptakan sendiri memiliki keistimewaan luar biasa ketika meledak di pasaran. Perasaan bangga pun akan muncul dengan sendirinya, di samping berbagai penghargaa trofi dan materi.
Musik Lu, Gaya Lu!
“Musik lu, gaya lu!” Ya. Itulah pernyataan yang kerap dijadikan patokan seseorang untuk menyenangi musik Barat. Kesan gaul yang begitu melekat pada musik Barat membuat seseorang memilih jenis musik tersebut sebagai kegemarannya. Yang tadinya kurang begitu suka atau bahkan tidak suka, mencoba suka demi pergaulan.
Pada dasarnya, kepribadian seseorang dapat tecermin dari apa yang dipilihnya. Dengan kata lain, apa yang Anda pilih, itulah gambaran kepribadian Anda. Oleh sebab itu, seseorang harus berlaku jujur dalam memilih sesuatu. Selera tidak bisa dibentuk dan dipaksakan. Selera lahir dari dalam diri seseorang secara alami.
The Voice Melengkapi Koleksi Musik Barat
Dunia musik barat patut berbangga hati. The Voice telah menelurkan lagi seorang penyanyi berkualitas. Tayangan acara yang melibatkan pilihan pemirsa itu sudah kali kedua berlangsung. Pada 2012, acara tersebut dianggap lebih sukses daripada tahun sebelumnya karena kualitas peserta yang lebih baik.
Akhirnya, terpilihlah Jermaine Paul sebagai pemenang The Voice 2012. Dia berhasil merebut pilihan jutaan pemirsa di dunia karena alunan suaranya yang khas dan penuh karakter. Dia, yang sebelumnya dikenal sebagai penyanyi latar Alicia Keys, berhasil menapakkan diri di dunia musik barat, khususnya Amerika Serikat.
Euforia itu sudah usai. Gegap-gempita serta gemerlap tampilan para penyanyi bak bintang terkenal dan juri itu pun sudah berlalu. Sang pemenang sedang menikmati kemenangannya. Konon, persaingannya sangat ketat sehingga perbedaan pemenang dengan tiga finalis lainnya hanya terpaut sedikit saja persentasenya.
Dalam waktu singkat, keempat finalis itu memang sudah merebut jutaan hati pemirsa di seluruh dunia. Alunan suara mereka yang dahsyat berhasil membawakan lagu-lagu yang melengkapi kancah musik barat saat ini meskipun banyak di antaranya merupakan lagu-lagu yang telah dibawakan oleh penyanyi lain.
The Voice adalah reality show yang ditayangkan sejak tahun lalu oleh stasiun televisi NBC, Amerika Serikat. Tidak hanya di negeri asalnya, acara tersebut ditayangkan pula di seluruh dunia.
Selain di negeri asalnya, para pemirsa yang berlangganan televisi berbayar dapat menikmati acara tersebut. Acara yang tidak hanya menampilkan musik barat dalam nuansa progresif, melainkan juga menampilkan profesionalisme para penyanyi yang baru muncul dalam kancah musik barat, khususnya kancah musik di Amerika Serikat.
The Voice sebagai Ajang Pencarian Talenta di Dunia Musik Barat
Pada 2011, The Voice ditayangkan kali pertama di televisi Amerika Serikat yang juga serentak ditayangkan ke seantero dunia dalam bentuk siaran televisi berbayar. Seketika itu pula, acara ini menjadi saingan mutlak tayangan sejenis yang pada tahun tersebut telah menginjak masa penayangannya yang ke-10.
Kenyataannya, kedua acara itu telah berhasil merebut pilihan para pemirsa dari seantero dunia karena keduanya menawarkan pertunjukan menarik yang masing-masing punya ciri khas tersendiri dalam dunia musik barat. Talenta menakjubkan yang ditayangkan dalam profesionalisme dunia pertunjukan: gemerlap dan penuh kemewahan bak para bintang tenar, namun tak membuat silap mata akan kualitas yang juga tampak tersaji dengan indah.
Pada 2012, The Voice yang memasuki masa tayang kedua telah berhasil menggaet sposor merek-merek ternama dunia. Sebut saja pasar musik barat mendunia terbitan merek gadget terkemuka Apple, yaitu iTunes, yang bekerja sama untuk memasarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh para peserta acara, sekaligus juga terhitung sebagai jumlah suara pemilih.
Selain itu, ada pula minuman kopi yang dipasarkan oleh kafe terkemuka asal Amerika Serikat, yang juga telah dipasarkan tidak hanya di negara asalnya, melainkan telah menjejaring ke mana-mana.
The Voice digawangi oleh empat orang juri yang dianggap mewakili empat genre musik dan tak hanya musik barat: pop, rock, country (musik yang merakyat di Amerika Serikat), dan musik khas bangsa Afrika-Amerika, yaitu blues (atau biasa disebut juga r ‘n b).
Keempat juri tersebut adalah Ceelo Green, Adam Levine (penyanyi utama dalam kelompok Maroon 5), Christina Aguilera, dan Blake Shelton. Keempat juri inilah yang menggodok 32 peserta terpilih yang lolos saringan audisi menjadi 4 finalis yang salah satunya akan menjadi pemenang.
Terpilihnya 32 peserta tadi cukup unik. Tidak seperti kontes idola pada umumnya, pemilihan tersebut hanya melibatkan ketajaman pendengaran keempat tokoh yang telah ditunjuk sebagai juri. Keempatnya membalikkan kursi duduk mereka masing-masing sehingga mereka tidak menyaksikan langsung setiap peserta yang bertarung mempertunjukkan kebolehannya.
Jadi, keempat juri tersebut hanya mendengarkan suara peserta sehingga ajang pencarian bakat ini digembar-gemborkan lebih berkualitas karena mekanisme pemilihan tidak disilapkan oleh penampilan setiap peserta.
Sejak awal, juri hanya mendengarkan suara mereka dan membuat keputusan berdasarkan suara yang mereka dengar: apakah seorang peserta layak atau tidak untuk memasuki babak selanjutnya, sesuai dengan nama babak penyisihan ini, yaitu blind audition.
Jika satu atau lebih juri merasa tertarik dan menganggap seorang peserta layak memasuki tahap berikutnya, dia akan membalikkan kursinya sebagai tanda persetujuan. Kemudian, peserta terpilih akan menjadi anak didik dari sang juri.
Jika ada lebih dari satu juri yang membalikkan kursinya, menjadi hak khusus dari peserta untuk menentukan juri yang akan menjadi mentornya. Saat inilah, para juri berebut mengambil hati peserta dengan mempromosikan kelebihan dan keutamaan diri masing-masing.
Terpilihnya Sang The Voice
Proses pemilihan ke-32 peserta tadi dianggap sebagai proses yang paling penting. Setiap peserta terpilih langsung menjadi anggota tim yang dipimpin oleh keempat juri sehingga tim yang terbentuk diberi nama sesuai nama juri bersangkutan.
Selain oleh juri masing-masing, peserta akan dilatih juga oleh pelatih tamu yang telah dipercaya oleh setiap juri seperti salah satunya adalah Kelly Clarkson dan Jewel. Keduanya telah dikenal sebagai ikon musik barat saat ini, khususnya musik pop di Amerika Serikat.
Setelah terpilih, ke-32 peserta tersebut mengikuti masa pelatihan di bawah didikan juri dalam tim masing-masing, dengan setiap tim terdiri atas 8 peserta. Selama masa penggodokan itu, juri akan menciutkan kembali anggota timnya sehingga masing-masing juri hanya memiliki 4 anggota tersisa.
Pada masa proses penciutan kembali itu, setiap peserta akan dipasangkan dengan peserta lain dalam timnya. Kemudian mereka akan adu kebolehan dalam babak battle round. Mereka akan menyanyi duet, selanjutnya juri dalam tim masing-masinglah yang akan menentukan siapa yang berhak melanjutkan masa pelatihannya.
Pada saat inilah, setiap juri harus “tega” untuk memulangkan peserta didiknya sehingga akhirnya tersisa 16 peserta karena setengahnya harus dipulangkan juri pada babak battle round.
Pada babak 16 besar peserta, pilihan pemirsa diperhitungkan untuk kelangsungan peserta. Pada babak ini, setiap peserta akan menampilkan talentanya dan dua peserta dengan penampilan terburuk akan dipulangkan oleh juri, sedangkan penampilan peserta terbaik akan ditentukan melalui penghitungan suara yang diberikan oleh pemirsa di seluruh dunia.
Pemberian suara dilakukan melalui berbagai media: pesan singkat di telepon seluler, pembelian lagu melalui iTunes, ataupun melalui jejaring sosial facebook.
Dalam waktu singkat, kancah musik barat menambah anggotanya dengan bermunculannya penampil-penampil baru yang punya kualitas bertalenta prima dan patut diperhitungkan. Minimal, hal itu bisa dilihat dari respons pemirsa di jejaring sosial facebook acara The Voice yang selalu memberikan komentar, berupa dukungan dan kritik penampilan setiap idola mereka.
Babak selanjutnya, tersisa 8 peserta untuk memasuki semifinal. Kembali, pemirsa dapat ikut serta menentukan peserta yang layak untuk memasuki final, yang diikuti hanya 4 peserta. Tentunya, setiap peserta tak mudah untuk bisa lolos dari setiap babak karena benar-benar bergantung pada selera dan keinginan pemirsa. Hingga akhirnya terpilih pemenang yang mewakili gegap-gempitanya acara reality show ini yang mengedepankan kualitas suara pesertanya.
Karena persaingan yang begitu ketat, tahun 2012 ini, muncul pemenang yang tampaknya tidak dijagokan sebelumnya dibandingkan dua peserta lain yang begitu banyak menyedot perhatian pemirsa. Jermaine Paul telah kalah pamor daripada Tony Lucca dan Juliette Simms, apalagi oleh Chris Mann yang menjadi anak emas sang juri, Christina Aguilera.
Akhirnya, dia memang terpilih sebagai The Voice 2012 sejajar dengan Javier Colon sebagai terpilih pada 2011, dengan kemenangan mutlak setelah terpilih dua besar finalis, yaitu dia dan Juliette. Tawa bahagia dan tangis kemenangan mengiringinya seraya menyanyikan musik barat kemenangannya saat itu, I believe I can fly.
Dengan demikian, tetaplah jujur menentukan pilihan. Termasuk, dalam hal musik. Musik Barat maupun musik lokal sama saja. Perbedaannya hanya terletak dalam hal bahasa, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Kita memang tidak bisa membendung masuknya musik Barat ke Indonesia. Jadi, nikmati saja selama tidak membuat kita melupakan budaya!

