Kembali pada Jenis Musik Melayu
Pernah mendengar musik milik ST12. Pasti pernah. Anda akan merasa jenis lagunya akrab di telinga, nuansa melayunya kental, cengkoknya mirip lagu malaysia campuran dangdut. Harus disadari bahwa munculnya fenomena lagu dengan aliran dan nuansa melayu mendadak merajut tren baru di blantika musik tanah air.
Contohlah kemunculan ST12 dengan aroma melayu nan kental, lalu berlanjut pada D’bagindas, Band sembilan, Hijau Daun yang mengambil aliran serupa. Lalu, mendadak para band papan atas mulai ikut-ikutan tren ini, seolah-olah menjadi latah, sebut saja Ungu yang kemudian mengubah jenis musiknya menjadi melayu Dangdut. Memang sih enak didengar, namun jadi terkesan konyol sekali.
Hanya Ikut-Ikutan
Tidak salah sebuah band musik mengambil satu jenis gendre untuk pembawaan bandnya. Lalu, tetap konsisten dengan pembawaannya. Namun, sayang sekali kalau kemudian hal tersebut malah menjadikan sejenis kelatahan yang rasanya konyol sekali. Katakan saja, saat ini zamannya jenis musik Melayu, namun dapatkah jenis musik melayu ini bertahan dalam jangka waktu yang lama?
Perlu diketahui, ada satu masa sekitar tahun 90’an, di mana saat itu musik SKA digemari. Dari mulai anak-anak sampai kakek-kakek, semua ber-SKA-ria. Lalu berbondong-bondong banyak band-band beraliran SKA muncul. Merekah, namun sekejap langsung layu. Mengapa? Karena tren ikut-ikutan membuat khalayak lebih cepat mengalami kebosanan.
Katakan seperti ini. rendang itu enak sekali. Bumbunya khas, rasanya nikmat, dimakan pun seperti melumerkan mulut. Namun, apa jadinya kalau rendang disajikan tiap hari? Pasti Anda akan lebih cepat merasa bosan, dan bahkan nyaris eneg bila harus terus-menerus dicekoki Rendang tiap hari. Musik pun sama, telinga kita dicekoki hal serupa, terus menerus, tingkat kebosanan pun lebih cepat datang.
Menyukai sebuah gendre musik, lantas masyarakat mengandrunginya tak ayal membuat para label besar kemudian berlomba-lomba menyajikan bentuk yang sama. Kelatahan menjamur, tingkat suka menjadi jemu lebih cepat. Karena semua terdengar menjadi seragam, keanekaragaman hilang, maka cepatlah punah segala sesuatu yang disukai khalayak.
Sebentar lagi rasa suka itu akan menyisakan muak, lantas masyarakat kemudian akan berganti lagi menyukai jenis lagu lain. Bisa RnB, bisa Rock, tergantung bagaimana angin berhembus, lalu jenis lagu Melayu pun tinggalkan, dan akan berkembang entah kapan lagi, siapa yang tahu?
Belajar Mencintai Keanekaragaman
Dimana-mana, berbeda bukanlah dosa. Begitu pun jenis musik, harusnya hal tersebut disadari dengan baik oleh para pengamat musik dan pemilik label besar. berutunglah para band yang tetap berpegang pada aliran awal, lalu tetap konsisten di jalurnya.
Walau tidak langsung bisa menjaring penggemar sebanyak yang menjadi tren, namun selalu ada penggemar loyal yang akan tetap membeli album-albumnya secara rutin. Jadi, jangan takut berbeda dan tetaplah membuat keanekaragaman, agar telinga masyarakat tidak cepat menjadi bosan.
Untuk para band aliran Melayu, tetap saja di jalur itu, walau kelak akan tidak laku, namun selalu ada yang pasti mencintai dengan benar-benar tulus.






