Seni Musik Sunda Tradisional Gedur yang Menghilang
Ilustrasi musik sunda tradisional
Pernah mendengar nama kesenian musik Gedur? Tentu asing buat kita, bukan? Maklum, Gedur bisa jadi salah satu kesenian musik sunda tradisional yang bisa dikatakan hampir punah. Musik ini diperkirakan sudah berusia ratusan tahun.
Musik Sunda Tradisional Gedur
Sejarah kesenian tak luput dari penalaran para ahli yang mendefinisikan mengenai kata seni itu sendiri. Dick Hartoko menyatakan bahwa seni adalah rumit. Dick Hartoko mengatakan rumit sebab sejarah kesenian selalu berbau abstrak. Tidak begitu mudah untuk dengan tegas melakukan pengkotak-kotakan.
Kesenian memiliki tujuan religius, magis, simbolis, estetis, dan bahkan komersil. Sejarah kesenian memang bermula dari religi atau ritual keagamaan.
Hal-hal yang berbau ritual, biasanya identik pula dengan sesuatu yang sifatnya magis. Acara-acara ritual tertentu memang kerap sangat kental dengan unsur magis, terlebih dengan kultur Indonesia yang semula merupakan masyarakat penganut dinamisme. Kesenian memang memiliki tujuan untuk hal-hal magis atau memberi kesan magis. Beberapa bentuk kesenian memang sangat erat kaitannya dengan hal-hal yang sifatnya tak kasat mata.
Kesenian, berarti juga seni, jelaslah memiliki tujuan untuk keindahan. Nilai estetik kesenian itu terwujud dalam bentuknya. Entah itu berupa seni rupa, tari, musik, atau pun pertunjukan, pastilah mengedepankan kesan estetis. Kesenian merupakan karya yang menimbulkan keindahan. Wujud karyanya yang bisa dilihat oleh mata telanjang memang bisa dinikmati dan terasa betul sisi-sisi unik, indah, dan bernilai.
Sebagai sebuah karya, yang juga dilihat oleh orang banyak, yang mengandung unsur keindahan untuk diapresiasi, dihargai, dan dinikmati, kesenian bertujuan komersil juga. Bentuk-bentuk kesenian bisa dihadirkan dalam rencana yang disengaja dengan maksud untuk mendapatkan keuntungan secara finansial.
Keuntungan materi bisa kita dapatkan dengan mempertontonkan bentuk-bentuk kesenian tersebut. Melalui cara inilah kesenian memenuhi tujuannya sebagai sesuatu yang juga bisa menjadi komersil.
Penghargaan kepada pekerja seni atas bentuk-bentuk kesenian dan apa-apa yang telah mereka lakukan diapresiasi dalam bentuk penghargaan yang lain, yakni materi. Bukan menghargakan kesenian dengan sekian rupiah, namun bentuk penghargaan berupa materi ini bisa menjadi sumber pendapatan sehari-sehari para pekerja seni yang menyuguhkan karya-karya keseniannya.
Begitu juga dengan kesenian Gedur. Musik Sunda tradisional ini lahir di daerah Bandung Timur, tepatnya di daerah Cibiru dan Sukamiskin, Gedur dibawa oleh alim ulama yang melakukan syiar Islam di daerah sana. Karena itu, kesenian ini juga masuk pada salah satu kategori kesenian tradisional Islam.
Di beberapa daerah, Gedur memiliki istilah berbeda. Di Banten, orang menyebutnya dengan Mawalan, Sumedang menyebutnya Terbangan, dan Purwakarta mengenalnya dengan sebutan Pantulan.
Gedur adalah kesenian musik yang langka dan menarik. Gedur menggunakan alat musik utama yang disebut Terbang. Alat musik ini mirip dengan rebana, simbalnya terbuat dari kulit kambing dan diikat pada kayu bulat, sebanyak empat buah. Ukurannya berbeda-beda, dari diameter 40 cm, 35 cm, 30 cm, dan 25 cm. Di kalangan musisi tradisional, satu set terbang harganya Rp1,5 juta.
Perkusinya ada satu gendang kecil yang disebut Kulanten dan beduk. Dalam atraksinya, semua alat ini ditabuh bersama-sama. Dengan irama tetabuhan dinamis naik turun, mengiringi dendang shalawat nabi, dzikir, serta puluhan lagu dari barjanji.
Agar lebih menarik, seni musik ini juga menampilkan atraksi kesenian benjang. Sebuah atraksi yang menampilkan dua orang laki-laki saling bergulat diiringi tetabuhan.
Pemain Gedur biasanya berjumlah lima orang. Semuanya laki-laki. Pengiring yang menyanyikan shalawat bisa lebih banyak lagi jumlahnya. Kelompok seni musik Gedur ini biasa tampil di bulan Syawal dan Maulud.
Persisnya mereka tampil pada acara syukuran 40 hari kelahiran anak, cukuran, hingga pindahan rumah baru. Bayarannya tak begitu mahal antara Rp1,5 juta hingga Rp3 juta. Tergantung berapa lama mereka diminta memainkan Gedur.
Musik Gedur memiliki durasi bermain yang panjang. Jika ditanggap di sebuah acara potong rambut bayi, waktu yang diambil bisa dari jam 9 pagi sampai pukul tiga sore. Namun, dahulu kala, Gedur dimainkan masyarakat ketika usai sholat Isya hingga menjelang adzan Shubuh.
Di daerah cibiru, masih ada beberapa orang yang bisa diundang untuk memainkan Gedur. Akan tetapi, rata-rata mereka sudah berusia sepuh alias tua. Dalam kondisi tertentu, kesenian ini sering dimainkan di Kampung Seni Manglayang, Cibiru, Kabupaten Bandung.
Menurut pemiliknya, kesenian ini bisa saja sering ditampilkan di sana, syaratnya jika pengunjung banyak yang meminta. Tapi, karena usia pemainnya rata-rata sudah tua, kelompok seni musik Gedur paling tidak harus diundang satu bulan sebelumnya. Selama satu bulan, kakek-kakek pemain Gedur ini akan berlatih untuk memantapkan tetabuhan.
Pelestarian Kesenian Tradisional
Kebudayaan dan kesenian di Indonesia semakin hari semakin terkikis. Masyarakat Indonesia semakin terpengaruh oleh kebudayaan luar melalui perkembangan teknologi yang semakin canggih ini, sehingga melupakan kebudayaan sendiri.
Pelajaran tentang kesenian hanya didapatkan di sekolah saja. Itu pun hanya teori saja yang diterima oleh para siswa, prakteknya jarang. Jadi, yang diterima oleh para siswa tentang kebudayaan dan kesenian Indonesia tetap kurang.
Pelajaran dari luar sekolah lebih berpengaruh pada seseorang dari pada pelajaran yang diterimanya di bangku sekolah. Untuk itu, perlu adanya dukungan dari luar sekolah untuk membantu seseorang mempelajari kebudayaan Indonesia.
Begitu juga tentang kebudayaan dan kesenian di Indonesia. Kebudayaan Indonesia semakin hilang di telan waktu. Penyebabnya karena perkembangan zaman yang memengaruhi masyarakat Indonesia dari kebudayaan luar yang banyak masuk ke Indonesia.
Hal tersebut menjadikan masyarakat Indonesia melupakan seni dan budaya sendiri. Pengaruh dari luar memang sangat kuat untuk mempengaruhi kebudayaan yang ada di Indonesia.
Memang perkembangan zaman itu dapat mengubah suatu negara dan masyarakatnya sendiri. Akan tetapi, perubahan tersebut harus dibarengi dengan norma-norma dan kebudayaan yang berlaku di negara ini.
Pengaruh kebudayaan dari luar yang masuk ke Indonesia harus disaring terlebih dahulu. Harus ada penyeleksian, mana yang baik dan mana yang buruk untuk kemajuan negara ini. Jangan asal menerima begitu saja pengaruh atau kebudayaan dari luar.
Perkembangan teknologi yang semakin canggih, membuat kebudayaan dari luar Indonesia masuk dan perkembang. Dalam berbagai bidang, pengaruh dari luar itu ada, bahkan sampai mengubah sistem yang telah berlaku di negara ini.
Dalam bidang kebudayaan saja, banyak hal yang berubah karena perkembangan zaman tersebut. Kebudayaan tradisional, mulai dari bahasa, suku, adat istiadat, tarian, pakaian, rumah adat, dan lain sebagainya, mulai jarang dipelajari dan dihapal oleh masyarakat, terutama generasi mudanya.
Kesenian tradisional, pakaian dan tarian tradisional, sudah jarang dipakai dan dipentaskan di depan umum. Sekarang orang-orang lebih tertarik memakai pakaian yang modelnya lebih modern dan menarikan tarian-tarian modern dari pada menampilkan pakaian dan tarian tradisional.
Masyarakat lebih tertarik untuk mempelajari budaya dari luar dari pada seni dan budaya negara sendiri. Alasannya, agar tidak ketinggalan zaman dan lebih gaul, menurut anak zaman sekarang.
Mengenal seni dan budaya sendiri dan mempraktekkannya di dalam sebuah pentas seni, seharusnya menjadi kebanggaan bagi masyarakat sendiri. Sebenarnya, negara yang maju adalah negara yang mencintai dan mengharagai kebudayaan dan keseniannya sendiri.
Apabila kita tidak menghargai kebudayaan sendiri, bagaimana kita dapat menghargai diri sendiri di luar sana. Kebudayaan dalam negeri seharusnya menjadi kebanggaan bagi masyarakat Indonesia di dunia internasional sana.
Orang asing yang berkunjung ke Indonesia saja ingin mengetahui dan mempelajari kebudayaan dan kesenian tradisional Indonesia karena mereka tertarik pada kebudayaan yang ada di Indonesia. Akan tetapi, mengapa penduduk pribuminya sendiri malah malas dan gengsi untuk mempelajari kebudayaan dan kesenian tradisional sendiri.
Bagaimana masyarakat Indonesia memperkenalkan seni dan budaya sendiri di kancah internasional apabila masyarakatnya sendiri kurang pengetahuannya tentang kebudayaan sendiri.
Untuk itu, kebudayaan dan kesenian tradisional yang ada di Indonesia ini, perlu dirawat dan dilestarikan oleh masyarakatnya sendiri. Kalau bukan masyarakat sendiri sudah tidak dapat melestarikan kebudayaan tersebut, maka kebudayaan itu akan hilang bersamaan dengan hilangnya para pewaris ilmu budaya.
Banyak cara yang dapat dilakukan untuk melestarikan kebudayaan dan kesenian tradisional. Dengan mempelajarinya dan tentu saja dengan mempraktekkannya. Selain itu, mewariskan ilmu seni dan budaya tradisional kepada para generasi muda sejak usia dini, sehingga mereka mencintai kesenian dan kebudayaan sendiri.
Meskipun pengaruh kebudayaan dari luar mempengaruhi mereka, tapi karena sejak usia dini sudah ditanamkan cinta kebudayaan sendiri, maka dengan sendirinya mereka akan menyaring kebudayaan dari luar.
Untuk itu, kita harus melestarikan musik Sunda tradisional Gedur, yaitu dengan mempelajari dan meneruskannya kepada para generasi muda agar tidak punah. Tertarik mengundang mereka, sekaligus melestarikan seni musik sunda tradisional ini? Datang saja ke Kampung Seni Manglayang di Cibiru.

