logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Dunia    Cina

Perjalanan Musik Tradisional Cina


Ilustrasi musik tradisional cina
Dalam perkembangan musik dunia, Cina memberikan banyak sekali warisan. Hal ini dikarenakan Cina adalah salah satu negara yang menggunakan musik dalam keseharian hidupnya. Dalam beberapa literatur kuno Cina, negara ini telah mengenal dan memainkan musik sejak 1112 sebelum Masehi. Musik tradisional Cina pun bertahan hingga sekarang. Walaupun keberadaan musik modern dengan segala gerak penyanyi dan formasi penyanyi dalam satu grup begitu menawan, bagi orang-orang tertentu, musik dengan aliran tradisional tetap berada di hati.

Sejarah

Orang Cina terkenal dengan bangsa yang mampu memanfaatkan alam sekitarnya menjadi sesuatu yang berguna bagi kehidupan mereka. Dari bambu, mereka membuat berbagai kerajinan yang dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga. Dari kayu apalagi. Selain digunakan sebagai bahan pembuat rumah dan perabotan rumah tangga, kayu tertentu dengan bentuk tertentu dibuat alat musik. Alat musik ini sendiri ada yang dimainkan dengan cara dipetik dan ada yang dimainkan dengan cara ditiup. Dari alat musik inilah lahir berbagai lagu pujaan terhadap alam dan lagu-lagu yang berkisah tentang cinta.

Kreativitas ternyata tidak pernah berhenti. Setiap orang ingin menciptakan sesuatu yang akan menjadikan sesuatu itu lebih baik. Tak heran, banyak sekali alat musik tradisional berasal dari negeri bambu ini. Ling Lun adalah orang pertama yang disebut-sebut sebagai “Bapak Musik dari Cina”. Ia adalah orang yang berhasil mengubah bambu menjadi seruling. Konon, suling yang diciptakan Ling Lun bisa mengeluarkan suara berbagai burung. Hanya dengan teknik pembuatan seruling dengan besaran lubang yang berbeda yang bisa menimbulkan bebunyian yang berbeda pula.

Tidak ada informasi yang lebih spesifik dan mendetail, beara lama Ling Lun membuat seruling ‘maut’nya itu atau berapa jumlah bambu yang telah dipotongnya dan berapa jumlah seruling yang telah dibuatnya sehingga ia menemukan seruling yang paling tepat dan paling mampu menirukan suara burung dengan sangat baik. Hebatnya lagi, seruling itu tidak hanya mengeluarkan satu jenis suara burung namun beberapa jenis suara burung. Tentu saja hal ini sangat menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitarnya. Suara alam itu akan membuat pikiran lebih tenang.

Dalam kebudayaan Cina kuno, musik merupakan alat terapi bagi para filsuf. Musik adalah sebuah seni tingkat tinggi yang disinyalir punya kekuatan untuk menenangkan dan meredakan hawa nafsu bagi yang mendengarkannya. Musik bisa membuat orang berhenti melakukan aktivitasnya dan memilih menikmati alaunan yang menggetarkan jiwa itu. Dunia ini adalah musik dan penuh dengan suara-suara yang mempunyai nada beraturan sehingga terdengar bagai musik yang indah. Dengarkanlah suara detak jantung yang normal. Suara yang beraturan itu akan menenangkan jiwa. Lewat suara detak jantung ini juga janin menjadi tenang dan tumbuh dengan baik dalam rahim ibu dalam bungkusan air ketuban.

Musik yang indah itu sangat menawan. Itulah kenapa pada awal munculnya musik di negara ini, posisinya bukanlah sebagai alat hiburan. Ia merupakan sebuah “obat penenang” bagi masyarakat. Sebelum memberikan pelajaran atau makan kehidupan kepada orang-orang yang mencari ilmu, seorang filsuf akan memperdengarkan musik-musik yang indah. Saat semua telah tenang, barulah sang filsuf akan memberikan wejangan atau menguraikan kalimat-kalimat yang bermakna kebijakan yang akan menjadi tuntunan hidup yang harmonis sesama manusia dan mahluk lainnya, seperti hewan dan tumbuhan.

Inilah yang membuat musik tradisional Cina mempunyai aliran yang begitu menghanyutkan dengan nada-nda tinggi rendah yang begitu pas di telinga. Nada-nadanya terinspirasi dari aliran sungai dan gemercik air yang jatuh dari ketinggian. Bunyi air terjun yang menggelegar diiringi dengan kicauan burung yang menari, akan membuat suara musik itu bagaikan pendorong gerak jiwa untuk menjadi lebih tenang dan menerima keadaan dengan keikhlasan agar energi tetap sinergi. Energi yang dirusak oleh emosi akan membuat detak jantung dan ketja hati menjadi terganggu.

Sakral dan Eksklusif

Pada awal perkembangannya, musik sangat sakral dan kaku. Itulah mengapa ia hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang saja. Musik sangat suci, bahkan hampir setara dengan kepercayaan yang berkembang kala itu. Musik hanya keluar masuk di kalangan kerajaan. Bahkan seorang kaisar harus memberi standar terhadap musik yang menjadi hak paten dinasti tersebut.  Kesakralan ini mungkin untuk menjaga kualitas suatu musik. Saat musik itu dimodifikasi dan diberi sentuhan lain, tingkat harmonisasi dan daya lekatnya ke hati, mungkin akan berkurang.

Tidak salah kalau seorang kaisar menjaga keaslian harmoni sebuah musik. Tanpa melakukan upaya pelestarian keasliannya, mungkin saja orang-orang yang lain setelah sang kaisar tidak bisa merasakan apa yang telah dirasakan oleh sang kaisar ketika mendengarkan musik tersebut. Saking sucinya, jika ada seorang musisi yang menjadikan musik sebagai alat hiburan, maka ia akan dikucilkan dan dilempar pada kasta yang paling rendah. Maka tak heran jika karakter musik yang dianggap  asli musik tradisonal orang Cina, begitu damai dan tenang.

Hiburan itu dianggap sebagai cara menggunakan waktu dengan sia-sia. Hiburan bagi orang-orang suci itu adalah jalan kesucian tanpa harus menari dengan gaya yang tidak karuan. Orang-orang yang memahami kehidupan akan berusaha memiliki jiwa yang selalu bersih. Kalau orang-orang seperti ini memilih menghibur diri dengan cara-cara yang berbeda, maka ia dianggap bukan orang yang suci lagi.
 Bahkan Kultus Qin, salah satu kultus kuno di Cina menyatakan, walaupun pemain musik Qin raganya ada di galeri atau aula, jiwanya harus tetap berada di hutan ataupun di sungai. Inilah alasan mengapa para musisi Cina kuno sangat identik dengan petapa atau pengembara.

Musik yang tidak dimainkan dengan jiwa yang bersih dan jiwa yang melekat dengan alam sebagai sumber inspirasinya, tidak akan dianggap sebagai musik yang indah. Musik yang berasal dari jiwa itu akan menyentuh jiwa. Para pendengarnya akan bisa merasakan getaran itu. Bila getaran itu tidak ada atau sang pemusik tidak berkonsentrasi, maka musik tidak akan terdengar mendawaikan keharmonisan nada-nada. Bukan orang sembarangan yang bisa memainkan musik Cina kuno. Hanya orang-orang yang menikmati kehidupannya di tengah-tengah alamlah yang akan mampu mengetengahkan keindahan alam yang seseungguhnya melalui alunan nada.

Kalau saat ini agak sulit menemukan pemusik yang mampu menghadirkan alam di tengah-tengah kehidupan di tengah kota, itu karena tidak banyak pemusik yang tinggal dan hidup dengan alam. Kitaro, salah satu pemusik dari Jepang, bisa dikatakan mampu memberikan nuansa alam dalam musiknya walaupun ia telah memodifikasi peralatan musiknya. Tetapi belum banyak nama terkenal dari negeri Cina sendiri. Mungkin saja masyarakt dunia yang tidak memahami bahasa Cina, silit untuk menikmati musik dari Tirai Bambu ini.

Mungkin juga generasi sekarang ini tidak menempatkan musik sebagai sarana terapi atau penenang jiwa. Musik tidak lain sebagai ungkap perasaan emosi yang tidak jarang sangat dangkal. Kedangkalan musik modern itu membuat musik modern mudah sekali menguap ditelan oleh waktu. Hanya musik yang mampu menyuguhkan kekuatan alam dan kekuatan jiwa penciptanyalah yang akan menjadi musik legendaris dan tak lekang oleh zaman.

Alat Musik Tradisional Cina

Untuk menghasilkan harmoni yang indah dalam musik tradisional Cina, ada beberap alat musik yang digunakan. Selama perkembangannya, Cina memiliki beragam alat musik yang mereka cipatakan dan mainkan. Alat musik ini memilik filosofis tersendiri dalam suara, bentuk dan cara memainkannya. Cina kaya akan alat musik. Namun, di antara ratusan alat musik tersebut, inilah yang paling popular.

Guzheng

Konon, kecapi yang ada di Indonesia berasal dari alat musik ini. Bentuknya seperti kecapi. Dibuat dari bambu dan kayu dengan ukiran di badannya. Sampai abad ke-16, lazimnya alat musik ini memiliki 16 senar. Namun perkembangan musik kontemporer membuat Guzheng berevolusi menjadi 18 senar.

Erhu

Ini adalah alat musik gesek tradisional Cina. Kepopuleran Erhu, membuatnya dijuluki “Biola dari Cina”. Badannya dibuat dari kulit ular, ekor kuda biasanya dipakai sebagai alat untuk menggeseknya. Erhu bisa mengeluarkan suara-suara seperti alam dan binatang. Alat musik in merupakan salah satu alat musik yang wajib digunakan dalam orkestra.

Tanggu

Tanggu merupakan perkusi Cina yang terkenal. Ia dimainkan lewat dua stik dan ditaruh di penahan kayu. Warnanya yang merah, sangat identik dengan Cina. Tanggu ada yang besar dan ada pula yang kecil. Tanggu besar biasa dipakai untuk penyemangat dalam perang.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Jalan-Jalan ke Kampung Cina
  • Pemerintahan Cina dalam Mendukung Pengusaha Lokal
  • Perkembangan Ideologi dan Sistem Politik Cina
  • Belajar dari Kebangkitan China
  • Sejarah Tembok Besar Cina
  • Laut Cina Selatan - Wilayah Sengketa, Beragam Nama
  • Feng Shui Kesenian Cina atau Mistis?
  • Telaah Kehidupan Masyarakat Cina di Era Klasik
  • Keberagaman Negara Cina
  • Menelisik Sejarah Negara Cina Modern
  • Sejarah Cina - Dari Zaman Batu Hingga Berdirinya RRC
  • Sejarah China - Peradaban Panjang yang Memesona
  • Ekonomi Cina: Geliat Kebangkitan Macan Asia
  • Tiga Masa Sejarah Cina Kuno
  • Prediksi Perekonomian Cina Pada 2018
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA