logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Agama & Kepercayaan    Islam    Fikih

Kedudukan Muslimah dalam Islam


Ilustrasi muslimah

Bagaimana sebenarnya kedudukan perempuan atau muslimah dalam Islam? Perempuan memang telah menjadi sosok yang begitu istimewa. Ia memeiliki peran yang sangat krusial di dalam masyarakat dan juga di dalam perkembangannya.

Banyak orang yang mencibir tentang kedudukan perempuan di dalam Islam. Karena memang terkadang terlihat bahwa perempuan memiliki kedudukan yang rendah dans ering direndahkan. Namun apakh memang sejatinya seperti itu? Apakah memang islam memandang rendah perempuan? Atau justru sebaliknya? Islam memberikan penghargaan yang tertinggi bagi perempuan.

Perempuan Muslimah

Berdasarkan hadis nabi, perempuan adalah harta terindah di dunia, seolah semua makhluk yang hidup di tempat fana ini berpusat kepadanya. Dengan keindahan dan kelembutannya, perempuan memang memainkan peran penting dalam kehidupan. Bahkan, dalam tataran tertentu, kehidupan sebuah kelompok bisa dilihat dari perempuan.

Jika perempuan tersebut baik dan diperlakukan dengan baik pula, kelompok tersebut, baik berupa keluarga (lingkup masyarakat terkecil) hingga negara (lingkup masyarakat terbesar), merupakan kelompok baik. Sebaliknya, jika perempuan merendahkan diri dan/atau direndahkan oleh kelompoknya, jelas kelompok tersebut sangat bermasalah.

Perempuan muslimah adalah perempuan islam yang selalu memegang teguh apa yang telah diajarkan di dalam agamanya. Mereka akan selalu tunduk dan patuh terhadap semua aturan Islam. Ketundukan itu akan selalu ada di dalam kehidupannya, entah ia berperan sebagai seorang anak, istri atau pun seorang ibu. Entah ia adalah seorang yang menjadi pengatur rumah tangganya atau bahkan seorang yang menjadi salah satu anggota masyarakat. Perempuan muslimah akan selalu memperlihatkan keindahannya dan kemuliaanya.

Perempuan Zaman Jahiliyyah

Pada zaman Jahiliyyah, kedudukan perempuan sangat rendah. Hal ini dicatat oleh Bashiruddin Mahmud Ahmad dalam Riwayat Hidup Rasulullah SAW sebagai berikut.

"Wanita tak mempunyai kedudukan dan hak dalam masyarakat Arab ini. Di antara mereka, ada yang beranggapan bahwa membunuh anak perempuan adalah perbuatan terhormat... Macam-macam cara dilakukan guna pembunuhan bayi perempuan itu, di antaranya mengubur hidup-hidup atau dengan jalan mencekik."

Jika orang tua pada jaman jahiliyah dulu mendapatkan bayi perempuan, tentu mereka akan merasa kecewa dan juga malu. Oleh karenanya, tentu mereka tak segan untuk membunuh atau pun mengubur hidup-hidup bayi perempuan mereka tersebut.

Pada zama jahiliyah dulu memang terkenal dengan sistem perbudakkannya. Para budak wanita tentu mendapatkan perlakuan yang sangat tidak manusiawi dari para majikannya.

Perempuan dalam Islam

Islam memiliki terobosan penting dengan menyerukan persamaan hak perempuan dan laki-laki. Misalnya, dalam menuntut ilmu, ada ucapan nabi, "Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah." Artinya, tidak ada dominasi lelaki terhadap pengetahuan atau upaya mengasingkan perempuan dari ilmu. Semua muslim setara di depan pengetahuan. Kasus tersebut hanyalah sebuah contoh.

Dalam praktik sehari-hari, nabi begitu terbiasa menyayangi istri-istri beliau. Dalam Kimia Kebahagiaan, Al-Ghazali mencatat perilaku nabi terhadap istri-istri beliau sebagai berikut, "Nabi Muhammad SAW sendiri selalu menanggung dengan sabar tingkah laku istri-istrinya." Saking halusnya perangai nabi, istri-istri beliau dengan bangga mengisahkan hal ini kepada istri-istri sahabat sehingga istri para sahabat "iri".

Alkisah, suatu hari istri Umar bin Khattab marah dan mengomeli sahabat nabi tersebut. Melihat istrinya marah, padahal dalam adat Jahiliyyah sudah selayaknya istri tunduk buta pada suami, Umar berkata kepada istrinya, "Hai kau yang berlidah tajam, berani kau menjawabku?"

Istrinya Istri Umar menjawab, "Ya, penghulu para nabi lebih baik daripadamu, sedangkan istri-istrinya saja mendebatnya." Umar terperanjat mendengar ini. Ia buru-buru berkata, "Celakalah Hafshah jika ia tidak merendahkan dirinya sendiri."

Maksudnya, sudah sepantasnya istri nabi sangat patuh kepada suami yang tidak tega memarahi istri. Padahal, nyaris semua suami mudah membentak, memaki, atau kadang memukul istri pada zaman tersebut. Umar ingin agar Hafshah yang mendapat anugerah luar biasa, diperlakukan sang suami dengan begitu mulia, harus memperlakukan sang suami dengan cara lebih mulia lagi.

Oleh karena itu, ketika berjumpa Hafshah, Umar berkata, "Awas, kau jangan mendebat Rasul!" Perilaku Nabi Muhammad SAW yang bertentangan dengan adat Jahiliyyah ini (dan kadang juga bertentangan dengan adat yang kita anut sekarang) menggambarkan betapa vitalnya masalah perempuan dalam sebuah umat.

Islam amatlah memberikan penghargaan yang sangat tinggi kepada seorang perempuan. Islam pun telah menghapuskan sistem perbudakan yleang dahulu ada di jaman jahiliyah.

Seorang budak wanita yang melahirklan anak dari majikannya, dapat dibebaskan oleh akannya tersebut. Dan anaknya tersebut bukanlah seorang budak melainkan manusia bebas.

Jika memang masyarakat saat ini memandang Islam sangatlah memandang rendah kepada kaum perempuan, tentu hal itu adalah sebuah kesalahan yang cukup besar. Karena memang Islam telah memberikan sebuah penghargaan yang begitu besar bagi seorang perempuan muslimah.a

Semua ini telihat dari sebuah pertanyaan seorang perempuan muslimah kepada Rasulullah dulu. Perempuan tersebut bertanya tentang bagaimana seorang perempuan dapat memasuki surganya Alloh sedangkan ia selalu berada di dalam rumah untuk mengurusi rumah tangganya, anak yang ia punya, dan juga untuk berbakti kepada suaminya.

Sedangkan pada saat itu pada itu banyak lelaki yang pergi ke medan jihad. Jika mereka meninggal dalam perang maka yang didapat adalah mati syahid dengan segala keutamaannya. Dan bila para lelaki tersebut memenangkan peperangan, tentu kebanggaan dan harta rampasan peranglah yang didapat.

Mungkin pertanyaan yang terlontar dari perempuan tersebut juga bisa terpikirkan oleh banyak perempuan di masa sekarang ini. Terutama ketika Islam semakin terpinggirkan seperti saat ini. Banyak yang memandang Islam dengan sebelah mata karena ada beberapa ajarannya yang tak memihak kepada perempuan seperti halnya aturan tentang bolehnya berpoligami di adalam islam.

Terlebih dalam Islam, perempaun hanya identik dengan tiga-M, yaitu masak, macak, manak atau masak, berdandan dan melahirkan anak. Itulah tiga peran  yang banyak dikaitkan dengan keberadaan perempuan saat ini.

Masak, seorang perempuan identik dengan kegiatan yang ada di dapur. Seberapa tinggi pendidikan si perempuan, tetap saja ia akan kembali ke dapur. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan perempuan tidaklah begitu memiliki posisi yang penting. Segala aktivitas yang dilakukan di dapur ini adalah untuk melayani suaminy dan juga semua anak yang ia miliki.

Macak, berdandan ini pun juga berkaitan dengan aktivitas perempuan dalam melayani suami dan membuat suaminya senang akan keberadaannya. Maka tak mengherankan bila saat ini banyak sekali kita jumpai perempuan yang berdandan dengan semaksimal mungkin ketika berada di luar rumah.

Manak, aktivitas ini pun juga dianggap tak menunjukkan betapa sangat berharganya seorang perempuan. Ketika ia telah menempuh pendidikan yang setinggi langit, lalu ia menikah dan punya anak, aktivitas kesehariaanya akan dipenuhi dengan urusan merawat dan membesarkan semua anak yang ia miliki. Semakin banyak anak yang ia miliki maka hidupnya akan semakin diributkan dengan aktivitas mengurusi anak ini. Perempuan dengan banyak anak dianggap tak akan mampu mengembangkan dirinya dan karir di luar rumahnya.

Itulah pandangan tentang apa yang dianggap dari seorang perempuan. Namun apakah memang seperti itu? Ternyata tidak. Sungguh Islam telah benar-benar memuliakan perempuan.

Hal ini terlihat dari jawaban Rasul dari pertanyaan perempuan tersebut. Rasul menjawab bahwa segala aktivitas perempuan di dalam rumah yaitu mengurusi suami dan anak-anaknya memiliki pahala yang melebihi pahala yang dimiliki oleh para lelaki yang mati syahid di jalan Alloh.

Tentu jawaban ini sangat menyenangkan hati perempuan yang bertanya tadi. Dan Rasul pun menyuruhnya untuk kembali pulang serta menyebarkan berita tersebut kepada seluruh perempuan yang ada.

Walau pun aktivitas perempuan di dalam rumahnya untuk mengurusi anak dan suami terlihat sepele dan sangat remeh namun sejatinya itu adalah jalan termudah bagi seorang perempuan untuk mendapatkan surgaNya Alloh. Bahkan terdapat hadist yang menyatakan bahwa siapa pun perempuan yang menginginkan surga maka cukup baginya untuk berada di dalam rumahnya mengurusi suami dan anaknya.

Islam sangat memuliakan perempuan dengan tetap menjadikannya tersimpan di dalam rumah untuk suaminya seorang. Islam tidak menjadikan perempuan untuk berkeliaran di luar rumah melakukan aktivitas yang tidak sepatutnya ia lakukan.

Itulah kedudukan perempuan muslimah di dalam Islam. Walau pun tak banyak perempuan yang mengetahuinya. Namun sungguh, Islam telah memberikan posisi dan kedudukan yang mulia di sisi Alloh.

Tolong di SHARE :
Tweet
Artikel Terkait
  • Adab Menggunakan Handphone Bagi Muslim
  • Peran dan Tugas Manusia sebagai Khalifah di Muka Bumi
  • Menjauhkan Diri dari Akhlak Tercela Kepada Allah
  • 7 Materi Kultum Singkat: Pegangan Pemula Penceramah Agama Islam
  • Efek Pemberian Materi Kultum Shubuh dan Isya�
  • Nikah Siri Menurut Hukum Islam
  • Makalah Dakwah Islam
  • Kewajiban Menuntut Ilmu
  • Keistimewaan Para Sahabat Nabi Muhammad SAW
  • Misteri Kubur - Berziarah ke Alam Barzakh
  • Mengetahui Macam-macam Tempat Ruqyah
  • Ceramah Kultum sebagai Pencerah Jiwa
  • Berbagai Hikmah Sabar dalam Islam
  • Contoh dan Tips Membuat Teks Dakwah Islam
  • Menjernihkan Hati dengan Ibadah - ANNEAHIRA.COM
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Komp. Buah Batu Regency Blok A2 No.9
Bandung Jawa Barat - INDONESIA