Definisi Musyrik dalam Islam

Islam mengajarkan kepada umatnya bahwa segala yang ada di dunia ini diatur oleh Sang Maha Pengatur. Sang Maha Pengatur tersebut haruslah satu dzat yang maha dahsyat dan sangat sempurna. Sang Pengatur tersebut tidak boleh lebih dari satu dzat. Logikanya, jika Sang Pengatur lebih dari satu, akan sering terjadi perselisihan tentang apa yang sedang diaturnya.
Musyrik dalam Islam
Hal itulah yang disebut musyrik dalam Islam. Musyrik dalam Islam berarti mempersekutukan Allah swt dan bergantung kepada dzat selain-Nya. Dalam surat Al-Ikhlas, secara gamblang, Allah mengajarkan kepada kita bahwa dzat-Nya hanyalah satu dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.
Pada ayat pertama, dijelaskan bahwa Allah, Tuhan Semesta Alam, hanyalah satu dzat. Ayat berikutnya menjelaskan bahwa hanya kepada-Nyalah tempat manusia menggantungkan hidup. Allah juga tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Pada akhirnya, tidak ada sesuatu pun yang dapat menyerupai-Nya.
Dosa Besar
Dalam kaitannya dengan musyrik, Islam memandang amalan musyrik sebagai suatu dosa besar. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan agar dosa besar tersebut diampuni adalah kembali ke jalan-Nya, bertaubat dengan sebenar-benar taubat (taubatan nasuha).
Amalan yang berakibat musyrik dapat secara sengaja kita lakukan atau kita sendiri tidak terlalu menyadari perbuatan yang memicu amalan musyrik tersebut. Bayangkan Anda memenangkan sebuah tender. Anda akan berpikir bahwa tender tersebut diraih karena usaha keras yang telah Anda lakukan.
Sebenarnya, keberhasilan tersebut merupakan anugerah yang Allah berikan kepada Anda. Keberhasilan itu merupakan sebuah nikmat sekaligus cobaan. Sebuah nikmat karena Anda bisa mendapatkan “upah” dari jerih payah yang telah dilakukan selama ini.
Sebuah cobaan karena dengan kenikmatan tersebut boleh jadi Allah sedang menguji apakah kita menjadi hamba yang bersyukur atau kufur akan segala nikmat-Nya.
Tidak Bersyukur
Penolakan atau keyakinan bahwa suatu nikmat bukanlah berasal dari kasih sayang dan anugerah Allah swt, merupakan contoh kecil musyrik yang tidak terlalu terang-terangan kita lakukan. Penolakan tersebut digolongkan sebagai perbuatan musyrik karena kita meniadakan peran Allah sebagai pemberi nikmat.
Hal itu mendorong kita melakukan perbuatan yang tergolong sebagai dosa besar. Selain itu, perilaku musyrik dapat dilakukan secara terang-terangan. Misalnya, Anda menaruh sebuah patung dengan harapan patung tersebut dapat memberikan pemasukan yang lebih terhadap usaha Anda.
Anda juga mengharapkan bantuan patung tersebut untuk menarik pelanggan sebanyak-sebanyaknya. Anda lupa dan tidak sadar bahwa patung tersebut sebenarnya tidak memberikan kuasa apapun terhadap usaha Anda. Jadi, berhati-hatilah terhadap setiap tindakan yang Anda lakukan!






