Nama-nama Sahabat Nabi: Budak Belian Hingga Kekasih Allah
Kita mungkin sudah megenal nama-nama sahabat Nabi. Akan tetapi, barangkali, kita sedikit mengenalsahabat yang dahulunya budak. Seperti yang kita ketahui, dalam Islam, dikenal prinsip bahwa segalanya sama di mata Allah, hanya keimanan yang membedakan.
Demikian pula para sahabat yang pernah menjadi budak. Mereka diangkat derajatnya tinggi-tinggi oleh Allah. Di antara mereka adalah Bilal dan Zaid bin Haritsah.
Bilal
Bilal adalah seorang budak yang ditebus Abu Bakar. Awalnya, Bilal seorang penyembah berhala. Akan tetapi, setelah mendengar datangnya agama Islam, Bilal memeluk Islam. Tentu saja, tuannya, Umayya bin Khaif, tidak terima.
Bilal dibaringkan di atas pasir yang sangat panas dan melepuhkan kulit. Tidak hanya itu, tubuhnya ditimbuni batu. Tujuannya agar Bilal menyerah dan memeluk kembali ajaran terdahulu. Akan tetapi, Bilal pantang menyerah, ia terus berkata, “Ahad, Ahad” (Tuhan itu Tunggal).
Pertolongan Allah kemudian datang. Abu Bakar membayar tebusan untuk Bilal dan beberapa budak lain untuk dimerdekakan. Untuk ukuran Arab saat itu, pembebasan budak bukanlah hal lumrah. Islamlah yang mula-mula melakukan hal tersebut.
Perjuangan Bilal akhirnya mendapat balasan dari Allah. Bilal diberi tugas oleh Rasulullah SAW untuk menjadi muazin. Tentu saja, tugas ini sangat spesial. Bayangkan, dengan status Bilal yang mantan budak, bagaimanapun saat itu tetap direndahkan.
Akan tetapi, justru seorang mantan budaklah yang menyeru orang untuk shalat, ibadah wajib bagi muslim. Dengan demikian, Allah telah mengangkat derajat Bilal jauh lebih tinggi dari sahabat mana pun.
Zaid Bin Haritsah
Zaid bin Haritsah, awalnya, juga seorang budak. Tidak hanya dimerdekakan, ia diangkat sebagai “anak” Rasulullah SAW. Zaid pernah hendak dibunuh oleh kafir Quraisy.
Akan tetapi, ketika Abu Sufyan bertanya, "Bagaimana jika Zaid ditukar Rasulullah saja?" Zaid berkata, “Demi Allah, aku lebih suka mati daripada Rasulullah tertusuk duri di lorong Madinah”. Melihat kegigihan Zaid, Abu Sufyan urung membunuhnya.
Kelak, dalam pertemuan Mut’a melawan suku-suku di perbatasan Syria, Zaid bin Haritsah sempat memimpin muslim untuk berperang. Saat itu, jika Zaid gugur, Rasulullah SAW sudah menunjuk Jafar bin Abu Thalib sebagai pengganti Zaid.
Seandainya Jafar juga gugur, ia akan digantikan oleh Abdullah bin Rawaha. Lalu, jika Abdullah bin Rawaha juga gugur, umat Islam harus memilih sendiri panglima mereka.
Zaid, Jafar, dan Abdullah, gugur sebagai syahid dalam perang tersebut. Pengganti mereka adalah Khalid bin Walid yang disebut sebagai Syaifullah (Pedang Allah).
Budak Menjadi Seorang yang Hebat
Gambaran dua sahabat Nabi tersebut menunjukkan bahwa seseorang bisa menjadi “sesuatu” meskipun awalnya ia bukan siapa-siapa. Caranya adalah mengabdikan diri sepenuhnya pada Allah dan Rasul-Nya.






