Negara Atlantis: Utopia yang Menyakitkan

Benarkah negara Atlantis terletak di Indonesia? Seorang peneliti, Stephen Oppenheimer, dalam buku Eden The East (1999) berpendapat bahwa Paparan Sunda adalah Taman Eden, tempat nenek moyang manusia, Adam dan Hawa.
Peneliti lain, Profesor Arysio Nunes Dos Santos, dengan bukunya Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization (2005), menyatakan bahwa Indonesia adalah Atlantis yang “hilang”. Tentu saja ucapan Oppenheimer dan Santos membuat kita bangga. Bisa jadi nenek moyang kita tidak hanya pelaut (mengutip sebuah lagu anak-anak), tetapi juga orang-orang perkasa.
Negara kita adalah pusat peradaban pertama dunia. Kata Atlantis memang terkesan hebat. Akan tetapi, kita perlu menelaah lebih jauh, Atlantis tidak seindah yang dibayangkan.
Atlantis yang Buruk
Negara Atlantis dikenal sebagai negara tangguh. Negara ini memiliki kekuatan perang yang mumpuni. Bahkan, Atlantis dianggap memiliki pengetahuan yang lebih canggih daripada pengetahuan modern. Pesawat tempur orang Atlantis, Vailixi, kabarnya pernah bertempur dengan pesawat tempur India Kuno yang namanya Wimana.
Akan tetapi, sedikit yang menyadari bahwa Plato sebenarnya mencitrakan keburukan Atlantis dalam bukunya, Timaeus dan Critias. Atlantis adalah negara yang suka berperang, berbeda dengan Athena Kuno yang dibangga-banggakan Plato.
Tujuan Plato mendeskripsikan negara Atlantis tak lebih untuk menunjukkan keunggulan Athena Kuno. Dengan bala tentara tangguh yang menaklukkan banyak bangsa, ternyata Atlantis kalah melawan Yunani Kuno. Yang lebih mengenaskan, Atlantis tenggelam hanya dalam semalam karena banjir.
Tenggelam Akibat Banjir
Jika percaya pada asumsi Profesor Santos tentang Indonesia adalah Atlantis, kita mungkin akan menyamakan beberapa hal. Misalnya, Atlantis yang tenggelam karena banjir menandakan bahwa pulau tersebut dekat dengan samudera.
Indonesia yang diapit Samudera Hindia dan Pasifik kebetulan cocok dengan penafsiran tersebut. Lagipula, seperti yang kita ketahui, pada mulanya, tidak ada laut yang memisahkan Jawa, Sumatera, Kalimantan, Singapura, dan Malaysia. Pulau-pulau ini terhubung ke daratan Asia. Dengan demikian, kita bisa saja berkata Indonesia. Toh, sama-sama pernah tenggelam.
Meskipun berada di luar konteks ucapan Plato -yang menyebutkan keberadaan Atlantis-, Atlantis dewasa ini dikenal sebagai negara super maju. Misalnya, Atlantis dikaitkan dengan segitiga bermuda dan suku Maya; dua hal misterius yang belum bisa terpecahkan di dunia ini.
Citraan tersebut mungkin dapat disebut sebagai “khayalan manusia bahwa sebelum kita terlahir, sudah ada peradaban yang lebih maju daripada kita”. Bukti-bukti memang mengarah pada kenyataan bahwa manusia purba yang hanya berpakaian kulit binatang itu tidak ada; yang ada semua manusia sudah tercetak sebagai manusia modern.
Akan tetapi, menyebutkan Indonesia sebagai negara Atlantis mungkin terlalu berlebihan, menyakitkan, atau malah mungkin benar. Seperti Atlantis, Indonesia adalah negara yang orang-orangnya sudah kehilangan kepercayaan kepada Tuhan, bertindak seenaknya terhadap alam, lalu kelak dihancurkan Tuhan dalam semalam.






