Negara-Negara Eropa Timur, Mutiara yang Terpendam
Ilustrasi negara negara eropa timur
Benua eropa ini memang tak seluas benua Asia. Namun, jangan salah, sepak terjang Sumber Daya Manusia (SDM) benua ini memberi pengaruh pada dunia. Itulah benua Eropa yang memiliki luas 10.600.000 km persegi. Benua Biru, begitu julukannya. Berdasarkan kejadian bersejarah, secara garis besar, benua Eropa terbagi dua, yakni Eropa Barat dan Eropa Timur.
Negara-negara di Eropa Barat memang lebih terkenal dengan ideologi yang dianut, penemuan, kesenian, filsafat, dan agama. Sehingga beberapa negara dari eropa Barat ini selalu menjadi perbincangan dan menjadi penguasa dunia di dalam berbagai hal. Namun sebenarnya, negara-negara Eropa Timur pun tak kalah unggul, sekalipun memang tidak sepopuler Eropa Barat. Hanya saja seiring dengan berkembangnya waktu, saat ini negara-negara Eropa Timur menjadi kekuatan baru yang berpotensi mendongkrak kemajuan Benua Eropa khususnya, dan umumnya bisa mendongkrak kemajuan dunia. Apa saja yang menjadi keunggulan negara-negara di eropa Timur ini sehingga berpotensi mendongkrak kemajuan eropa dan dunia ? Silakan simak paparan di bawah ini.
Eropa Timur
Kawasan Eropa Timur umumnya terletak di antara Pegunungan Kaukas dan Pegunungan Ural. Berbatasan juga dengan Rusia Barat. Negara-negara Eropa Timur, menurut sejarah, sebagian besar menjadi negara bagian Uni Soviet (Rusia sekarang) hingga tahun 1991. Julukan Blok Timur yang disematkan pada negara-negara Eropa Timur berkaitan erat dengan ideologi komunis yang dianut oleh sebagian besar negara-negara bagiannya, terutama ketika terjadi Perang Dingin antara Rusia dan sekutunya dengan Amerika dan sekutunya. Padahal sebenarnya tidak semua negara di Eropa Timur ini menganut paham komunis. Hanya saja mayoritas memang menganut paham komunis, sehingga tidak mengherankan bila menjadi bagian negara atau sekutu dari Uni Sovyet ketika terjadi perang dingin.
Hal lain yang disematkan kepada negara-negara di Eropa Timur yang menganut paham komunis ini adalah kecenderungannya yang lebih tertutup dibanding dengan negara-negara di Eropa Barat. Sebenarnya sikapnya yang lebih tertutup ini terutama ketika bersinggungan dengan media, sebenarnya merupakan keuntungan sendiri sehingga setiap perkembangan dan kemajuan yang dicapai negara-negara di Eropa Timur tidak semuanya terbuka sehingga secara otomatis tidak bisa langsung terdeteksi. Salah satu yang menjadi penyebab menggeliatnya kemajuan negara-negara Eropa Timur terutama setelah tercerai-berai dari kekuatan komunis Uni Sovyet adalah karena setiap perkembangan yang terjadi tidak bisa langsung dideteksi oleh dunia luar.
Identik dengan Komunis?
Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa Eropa Timur yang katanya identik dengan ideologi komunis tidak sepenuhnya benar. Bahkan, rakyat Eropa Timur banyak yang tak merasa menjadi bagian dari Blok Timur, termasuk penganut ideologi komunis seperti Finlandia dan Yunani. Anehnya, di ujung Eropa Barat, ada beberapa negara yang menggunakan ideologi komunis dan di bawah kendali Uni Soviet. Untuk menghapus citra sebagai Blok Timur lengkap dengan komunisnya, mereka menamakan diri sebagai Eropa Tengah, Skandinavia, dan Eropa Selatan. Namun sebenarnya tidak hanya pencitraan semata mereka menamakan bukan eropa timur tersebut, namun secara semangat juga sangat terbuka sehingga pada akhirnya memberi andil besar untuk kemajuan bangsa di Eropa Timur, kemajuan yang bisa mendongkrak eropa sekaligus dunia pada umumnya.
Setelah Presiden Rusia, Mikhael Gorbachev, mengeluarkan reformasi yang dikenal dengan "Glashnost Perestroika" untuk mengakhir Perang Dingin yang mendebarkan selama 44 tahun, 1947–1991, Uni Soviet pecah menjadi beberapa negara. Negara-negara Eropa Timur atau disebut juga Blok Timur yang kemudian memerdekakan diri, di antaranya adalah Albanis, Bosnia-Herzegovina, Bulgaria, Kroasia, Macedonia, Rumania, Serbia-Montenegro, Hongaria, Ceko, Yugoslavia, dan Polandia.
Setelah terbebas dari kungkungan paham komunis berkat reformasi yang dilakukan Mikhael Gorbachev, negara-negara di kawasan Eropa Timur yang telah memerdekan diri kemudian secara serentak membangun peradaban. Sebenarnya tidak persis benar dikatakan membangun peradaban, karena pada saat masuk ke dalam kelompok atau Blok Timur pun negara-negara di Eropa Timur tersebut tetap membangun peradaban dan mencapai berbagai macam kemajuan. Hanya saja setelah terbebas menjadi negara merdeka, hasrat untuk unjuk kekuatan dan mensejajarkan diri dengan negara-negara di Eropa Barat dan dunia pada umumnya, menjadi semangat luar biasa yang mendorong setiap individu untuk maju dan unjuk kebolehan.
Hal-hal yang selama tertutup itu kemudian serentak terbuka. Dan tentu saja hal yang mencengangkan adalah ibarat api di dalam sekam, ketika ada kesempatan untuk membuka diri, bara akan dengan gampang membara. Hal inilah yang kemudian terjadi dengan bangsa-bangsa di EropaTimur terutama yang tadinya menjadi bagian dari kekuatan Uni Sovyet.
Uni Eropa
Satu tahun setelah Uni Soviet pecah, tepatnya 1992, dibentuklah organisasi multinasional yang rata-rata anggotanya negara Eropa Barat. Organisasi kerja sama multinasional ini mencakup berbagai bidang, seperti politik, ekonomi, dan kebijakan pemerintahan. Organisasi ini lebih dikenal dengan Uni Eropa (UE). Tercatat hingga 2007, anggotanya telah mencapai 27 negara.
Setelah kekuatan Uni Sovyet pecah, banyak dari negara-negara Eropa Timur yang kemudian direkrut oleh Uni Eropa (UE) untuk memperkuat politik, khususnya ekonomi. Pangsa pasar Eropa Timur masih luas karena baru memasuki reformasi ekonomi. Dengan kekayaan alam berlimpah, etos kerja SDM berkualitas, ditambah pangsa pasar yang mencapai 100 juta orang, tentunya menjadi lahan baru yang prospektif untuk mengembangkan roda perekonomian. Itulah yang kemudian mencuri perhatian dunia, tidak hanya negara-negara di Eropa Barat yang sebelumnya menjaga jarak, tapi juga perhatian dari negara-negara di kawasan Amerika dan Asia.
Gayung bersambut, negara-negara Eropa Timur pun tak sedikit yang menjadi anggota Uni Eropa, seperti Hongaria dan Polandia. Alasan utamanya adalah masalah kebangkitan ekonomi. Memang benar dalam kenyataan bahwa sisa-sisa komunisme tak bisa dihilangkan begitu saja. Sistem ekonomi sosialis terbukti tidak maksimal dalam mensejahterakan rakyat sehingga kesenjangan ekonomi antara Eropa Barat dan Eropa Timur cukup signifikan. Maka, bergabungnya dengan Uni Eropa diharapkan bisa memperbaiki kualitas ekonomi di negaranya.
Terlalu lama berada dalam peraturan ekonomi sosialis yang sebenarnya menciptakan jurang antara kaya dan miskin itu merupakan sebuah kegagalan. Sementara negara-negara Eropa Timur yang bekas pecahan dan anggota Uni Sovyet memiliki potensi dan kekayaan alam, potensi sumber daya manusia yang tak kalah berkembangnya dibanding dengan negara-negara di Eropa Barat. Artinya reformasi ekonomi yang dilakukan negara-negara Eropa Timur tidak akan terlalu memakan waktu lama. Tinggal ada komando pemberi kebijakan yang tepat, meramu arahan dan penciptaan pasar yang terbuka, maka mesin dari roda perekonomian negara-negara Eropa Timur itu akan dengan cepat berjalan. Bahkan tidak menutup kemungkinan dalam waktu singkat akan mensejajarkan diri dengan negara-negara di Eropa Barat yang telah lebih dahulu terbuka dan maju.
Maka sebenarnya langkah kebijakan Uni Eropa untuk merekut negara-negara di Eropa Timur itu merupakan langkah tepat untuk menciptakan negara-negara dan kawasan eropa sebagai kekuatan baru. Sekalipun tidak bisa dipungkiri bahwa dibalik langkah tepat tersebut, sebenarnya sesame negara eropa pada akhirnya akan menciptakan persaingan yang sangat ketat. Negara-negara yang berasal dari Eropa Timur dengan kekayaan yang melimpah, sumber daya manusia yang terlatih dan pasar yang luas, akan menjadi kekuatan besar. Bila tidak disertai dengan langkah-langkah strategis yang diterapkan negara-negara Eropa Barat, bisa saja kebangkitan negara-negara Eropa Timur akan menjadi ancaman.

