logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Kesehatan    Gaya Hidup Sehat    Makanan Dan Minuman

Program Pengaturan Pangan dengan Neraca Bahan Makanan


Ilustrasi neraca bahan makanan

Sepanjang perjalanan hidup manusia, kebutuhan pangan menjadi hal yang mesti didahulukan. Pengadaan bahan makanan bagi kebutuhan primer masyarakat di sebuah negara dapat membantu pemenuhan gizi yang seimbang. Untuk itu dibutuhkan pengaturan yang tepat agar suplai pangan sesuai dengan persyaratan gizi. Salah satu bentuk aturan tersebut adalah dibuatnya neraca bahan makanan.

Neraca Bahan Makanan

Umumnya neraca bahan makanan (NBM) mencakup data-data tentang angka rata-rata jumlah jenis bahan makanan yang tersedia untuk dikonsumsi penduduk per kapita dalam setahun dengan satuan kilogram serta konsumsi per kapita harian dalam satuan gram selama kurun waktu tertentu. Nilai gizi bahan makanan yang dikonsumsi pada ketersediaan pangan harian dibuat dalam satuan energi, protein dan lemak per kapita per hari.  

Tersedianya pangan yang cukup dan bervariasi dengan gizi yang seimbang, baik secara kuantitas maupun kualitas menjadi tolok ukur yang sangat penting dalam meningkatkan kesehatan masyarakat karena gizi tercukupi dan pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas demi berlangsungnya pembangunan bangsa secara menyeluruh.

Kekurangan pangan berpotensi memicu keresahan warga yang akan berdampak pada masalah sosial, keamanan dan ekonomi negara. Persediaan pangan dalam suatu wilayah baik yang didapat dari produksi dalam negeri maupun hasil impor menjadi ukuran cukup tidaknya suplai pangan di daerah itu dan mampu tidaknya pemenuhan gizi secara menyeluruh.

Penggunaan NBM dalam mengatur penyebaran pangan di suatu wilayah ternyata dapat dijadikan patokan dalam menerapkan gaya hidup sehat sehari-hari. Neraca bahan makanan berisi panduan mengatur pola makan harian agar sesuai dengan gizi yang dibutuhkan. Hal ini bisa mendatangkan dampak yang luar biasa bagi kesehatan individu sehingga ia bisa menyalurkan potensi terbesar dirinya dalam pekerjaan yang digelutinya secara maksimal. Hal-hal yang diatur dalam NBM adalah sebagai berikut.

1. Jenis bahan makanan, baik nabati maupun hewani.

  • Padi-padian, termasuk di dalamnya padi, jagung, gandum, sorgum, jelai dan produksi turunannya.
  • Umbi-umbian, termasuk di dalamnya ubi kayu, ubi jalar, sagu, dan produk turunannya, seperti tapioka dan gaplek.
  • Gula, termasuk di dalamnya gula pasir, gula merah yang merupakan produk olahan dari aren, nipah, tebu, kelapa deres, dan siwalan.
  • Biji berminyak atau buah, termasuk di dalamnya kelapa, kacang hijau, kacang tanah, kacang mete, kemiri, pala, wijen, dan kedelai. Produk olahan kelapa adalah minyak goreng.
  • Buah-buahan, termasuk di dalamnya buah yang bisa langsung dimakan tanpa proses pemasakan.
  • Sayuran, termasuk di dalamnya bagian tanaman yang berupa daun, bunga buah, dan batang.
  • Daging.
  • Telur.
  • Susu.
  • Ikan.
  • Minyak dan lemak, produk nabati seperti minyak kelapa, minyak sawit, minyak jagung, dan minyak kacang kedelai. Produk hewani seperti minyak ikan. Lemak berasal dari lemak sapi, lemak kambing, dan lemak kerbau.

2. Produksi, seluruh bahan makanan baik yang sudah diolah maupun yang belum diolah.

3. Stok, ketersediaan di kabupaten, keluar dan masuknya, serta pemakaian.

4. Ketersediaan per kapita, termasuk unsur gizi utamanya, seperti jumlah kalori, protein, lemak,vitamin, dan mineral.

Pentingnya Makanan Bergizi

Hakikat makanan bergizi adalah makanan yang memenuhi kebutuhan seorang individu untuk beraktivitas sehari-hari. Asupan makanan sempurna yang mengandung lemak, protein, mineral, karbohidrat, vitamin yang seimbang. Keseimbangan ini akan membentuk tubuh yang sehat dan selalu siap tempur menghadapi masalah kehidupan.

Masing-masing individu memerlukan kebutuhan makanan bergizi yang berbeda-beda dalam jenis makanan yang tidak sama. Misalnya, seorang bayi usia satu bulan, lebih memerlukan ASI ibunya dari pada beef steak yang lebih diperlukan oleh ayah si bayi.

Anak-anak sekolah usia SMP sangat memerlukan gizi seimbang. Tapi, kegiatan mereka yang begitu padat, dari kursus ke kursus lainnya, membuat asupan makanan mereka kadang tidak beragam. Dengan uang jajan yang cukup, mereka lebih memilih makanan cepat saji yang mengandung kalori tinggi. Akibatnya adalah kegemukan yang dialami sebagian remaja yang tidak banyak gerak.

Di rumah pun karena kesibukan orang tua, makanan seisi rumah tidak jauh dari makanan olahan yang sudah penuh dengan bahan pengawet, pewarna, dan pemanis buatan. Tapi, anehnya seisi rumah merasa bahwa mereka sudah makan makanan yang bergizi.

Tingginya garam dalam produk olahan itu membuat beberapa penyakit mengintai. Darah tinggi, vertigo, gagal ginjal, jantung, hepatitis, dan penurunan imun tubuh. Kalau sudah begini, sepertinya tingkat pendidikan seseorang tidak dapat dijadikan jaminan bahwa makanan yang dikonsumsinya sudah bergizi.

Mekanisme tubuh tidak bisa ditipu. Lambat laun, asupan makanan yang tidak bergizi itu akan menjadi bumerang bagi tubuh. Letih, lesu, lemas, loyo adalah tanda-tanda tubuh yang tak mampu lagi menahan untuk tidak mendapatkan makanan bergizi seimbang, kaya serat, dan rendah lemak.

Mungkin akan sangat sulit mengatur menu makanan bagi yang super sibuk, tapi tak mempunyai koki khusus yang bisa memasakan makanan khusus. Paling tidak, pilihlah makanan yang beragam, penuh warna, dan tidak terlalu asin atau gurih karena bahan olahan yang sudah banyak mengandung pengawet.

Keadaan ini tidak hanya terjadi di perkotaan, tapi juga di pedesaan. Penderita darah tinggi akan sangat banyak di daerah yang masyarakatnya mengkomsumsi ikan asin. Penderita hipertensi dan jantung juga akan sangat banyak di daerah yang masyarakatnya biasa memakan makanan bersantan, tapi tak diimbangi dengan olah raga atau minum air putih dan makanan yang dapat mengimbangi makanan bersantan tersebut.

Bagi mereka makan makanan yang bergizi tidaklah penting, yang penting bagi mereka adalah bagaimana mereka dapat mengisi perut mereka dengan makan makanan yang bersih setiap hari.

Seperti contoh pada mahasiswa, yang khususnya mahasiswa yang merantau. Jika Anda mendengar kata ‘mahasiswa’, apa yang langsung ada di pikiran Anda? Cerdaskah? Cerdas dari sisi apa dahulu? Akademik, organisasi, atau dalam managemen keuangan?

Tentu saja yang sering terdapat dibenak Anda bahwa mahasiswa itu sering mengirit uang kiriman dari orang tuanya dan makan sehari-harinya pun dikorbankan dengan sarapan gorengan atau bahkan tidak sarapan, siang dan malam hanya makan mie instan yang kita semua telah banyak mengetahui bahwa kandungan mie instan itu kurang bagus untuk tubuh manusia, yaitu mengandung bahan pengawet dan juga bisa digunakan untuk keperluan kuliahnya.

Oleh karena, itu tidak jarang kita mendengarkan bahwa penyakit maag adalah penyakit mahasiswa karena mereka hanya menginginkan makanan yang berlabel bergizi saja. Akan tetapi, mereka mengirit-irit uangnya untuk keperluan lain atau mungkin menabung untuk biaya kerja, bagi mereka yang kuliah sambil bekerja.

Orang Indonesia sangat suka makanan yang gurih, gorengan, dan kaya bumbu. Tapi, surga makanan enak ini bisa menjadi neraka bila tidak dibiasakan menyantap makanan seimbang. Adalah tugas orang tua membiasakan anak-anak untuk makan makanan yang tidak kaya lemak. Kalau anak sudah terbiasa makan makanan kaya lemak dan tinggi kalori, maka kebiasaan ini akan menurun ke generasi berikutnya dan akan begitu seterusnya.

Sebenarnya makanan yang bergizi ada di tengah-tengah kita. Juga sebenarnya tidak susah pula untuk menghidangkan makanan yang bergizi untuk keluarga Anda karena makanan yang bergizi ada di sekitar kita.

World Vision telah mengenalkan pengolahan pangan lokal yang disebut ‘M3’ pada tahun 2007. ‘M3’ itu singkatqan dari Mudah, Murah, Menyeluruh, yang maksudnya mudah didapatkan, harganya murah, dan di dalamnya terdapat semua gizi yang dibutuhkan dalam tubuh, seperti karbohidrat, lemak, protein, lemak, dan vitamin.

Di dalam program M3 tidak hanya makanan bergizi untuk anak-anak kita saja, akan tetapi program ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran terhadap masyarakat bahwa betapa pentingnya peranan ibu-ibu untuk menghidangkan makanan yang bergizi untuk keluarganya. Ada banyak makanan yang sehat dan bergizi yang dapat kita dapatkan di alam ini.

Pola makan yang sehat dan teratur dapat dimulai dari lingkungan keluarga. Dengan menyajikan makanan sesuai dengan kebutuhan tubuh manusia dan secara teratur, maka kebutuhan pola makan yang sehat dan teratur pun terlaksanakan. Keluarga menjadi sehat.

Untuk itu, kesadaran akan pentingnya asupan gizi pada makanan perlu disosialisasikan kembali ke masyarakat luas, agar masyarakat dapat hidup sehat, baik sehat dirinya dan lingkungannya.

Demikian informasi mengenai kandungan gizi pada makanan melalui neraca bahan makanan. Semoga informasi tersebut bermanfaat bagi Anda dan memacu Anda untuk tetap hidup sehat dengan pola makan yang sehat dan teratur.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Mengenal manfaat sayuran organik
  • Mengetahui Jenis Jenis Minuman Keras
  • Dahsyatnya Manfaat Sayur Pare
  • Beberapa Fakta Unik Tentang Gula
  • Awas! Bahaya Minuman Bersoda
  • Memilih Menu Makanan Berlemak Rendah
  • Bahan Pengawet Minuman Buatan - Aman atau Berbahaya?
  • Manfaat Cabe, Si Kecil Merah Nan Menawan
  • Mengenal Bahan Makanan Kacang Kedelai
  • Macam-Macam Manfaat Jamu Beras Kencur
  • Menu Sehat untuk Wanita Hamil, Balita dan Lansia
  • Khasiat Sayuran dalam Mencegah Penyakit - ANNEAHIRA.COM
  • Penyajian Makanan - Penting untuk Menambah Nafsu Makan
  • Buah-Buahan untuk Penderita Diabetes yang Menyegarkan
  • Hati-Hati dengan Racun
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA