Perlukah Melafazkan Niat Puasa Idul Adha?

Menjelang pelaksanaan Wukuf di Arofah yang dilaksanakan oleh para jama'ah haji, maka seluruh umat Islam di tanah air masing-masing disunnahkan melakukan puasa sunnah pada tanggal 9 Dzulhijjah, menjelang hari raya Idul Adha. Persoalannya, bagaimanakah niat puasa Idul Adha itu?
Beberapa pendapat ulama mengatakan bahwa perlu mengucapkan secara lisan, niat puasa Idul Adha yang kita laksanakan. Namun sebagian ulama juga mengatakan bahwa niat cukup dilakukan dalam hati saja, karena sesungguhnya Allah Maha Tahu segala apa yang kita pikirkan dan niatkan dalam hati.
Dalil Puasa 9 Dzulhijjah
Melakukan suatu ibadah, haruslah disertai dengan dalil yang jelas, yang berasal dari Al-Qur'an, serta contoh yang dilakukan oleh Rasulullah Saw atau dikenal dengan sunnah Rasul, dan para sahabat yang terbukti keimanannya. Semua itu agar ibadah yang kita niatkan untuk mencari keridhoan Allah tidak sia-sia.
"Dari Abu Qatadah: Nabi Saw. Telah berkata, "Puasa hari Arafah itu menghapuskan dosa dua tahun; satu tahun yang telah lalu, dan satu tahun yang akan datang." (Riwayat Muslim)
Itu adalah dalil untuk orang yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji, agar melaksanakan puasa di tanggal 9 Dzulhijjah.
"Dari Abu Hurairah: Ia berkata, "Rasulullah Saw. Telah melarang berpuasa pada hari Arafah di Padang Arafah." (Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah)
Hadist di atas adalah dalil untuk orang yang sedang melaksanakan ibadah haji, bahwa tidak boleh mereka puasa di Padang Arafah.
Tentang Niat
Setiap pekerjaan, apa pun itu, pastilah ada niat dalam hati dan pikiran kita saat melakukannya. Karena niat dan kehendak dalam hati itulah yang menggerakkan tubuh kita untuk berbuat.
Tentu kita telah sama mahfum akan sebuah hadist tentang niat, yang menjadi pembuka kumpulan Hadist Arba'in berikut ini:
"Dari Amiril Mu’minin Abi Hafsah, Umar ibnu Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu, berkata : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam berkata, “Sesungguhnya amal-amal itu disertai dengan niat. Dan setiap manusia memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan. Maka siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka ia memperoleh Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrahnya karena dunia yang didambanya atau wanita yang hendak ia nikahi, maka ia mendapat apa yang ia (niatkan) hijrah kepada nya.” (HR: Bukhari-Muslim).
Jadi, niat melakukan sebuah amal perbuatan adalah dalam hati. Namun, jika Anda hendak berhati-hati dan memilih melafazkan niat puasa Idul Adha Anda atau juga puasa sunnah lainnya, maka hal itu diperboleh saja, karena sebagian ulama ada yang menganjurkan hal demikian agar lebih yakinnya hati dalam melakukan amal.
Bahasa Arab Atau Indonesia?
Masalah bahasa yang kita gunakan untuk berniat juga kadang menjadi perdebatan. Jadi, sebaiknya kita pahami bahwa Allah, Tuhan semesta alam ini, mengerti semua bahasa yang ada di semesta.
Jadi jangan sampai permasalahan bahasa dan niat menjadi kendala bagi kita untuk melaksanakan ibadah. Niat dapat dilakukan dalam hati dan menggunakan bahasa apa saja yang kita mengerti. Namun, jika kita ingin melafalkannya serta menggunakan bahasa Arab, juga tidak ada larangan yang mencegah.
Selamat berpuasa sunnah Idul Adha, jangan lupa bagi yang mampu, sebaiknya berkurban.






