logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Hiburan    Tentang Novel    Novel Islami

Fenomena Novel Fiksi Islami


Ilustrasi novel fiksi
Perkembangan buku novel di Indonesia bisa dibilang cukup pesat selama 10 tahunan ini. Dari tahun ke tahun, selalu muncul penulis yang menyuguhkan karya-karya luar biasa untuk dinikmati oleh pembaca. Salah satu buku bacaan yang kini sangat digemari adalah novel fiksi islami. Kegersangan jiwa menjadikan bacaan yang cukup baik ini menarik minat banyak orang. Tidak heran begitu banyak penulis yang berusaha menghadirkan bacaan yang berkualitas yang akan menyentuh jiwa-jiwa yang merasa gersang di tengah gurun kehidupan.

Gaya Penulisan

Novel fiksi islami adalah sebuah karya tulis yang hampir tidak ada bedanya dengan novel bergenre fiksi lain. Perbedaannya hanya terletak pada isi cerita dan pesan moral yang diangkat dalam novel tersebut. Segala konflik, permasalahan dan solusinya selalu berdasarkan agama Islam. Karena itu, novel  Islami bisa menjadi alternatif pencerahan bagi masyarakat tentang agama Islam. Apalagi para penulisnya biasanya merupakan orang-orang yang paham tentang agama dan berusaha hidup dalam tuntunan agama tersebut.

Kisah yang dituturkan dalam novel itu tidak jauh dari permasalahan yang banyak dihadapi oleh orang banyak. Mulai dari kisah cinta hingga penyangkut pendidikan dan upaya untuk membantu orang lain. Dalam novel Islami tidak boleh ada pembahasan yang mengarah ke pornografi atau pemahaman diluar ajaran Islam. Walaupun novel itu fiksi, pemecahan masalah tetap saja harus berdasarkan apa yang ada dalam Al-Quran dan hadist.

Tentu saja cara bertutur dalam novel ini tetap harus menarik. Kisah cinta akan menjadi satu kisah yang sangat diminati. Cerita cinta tidak boleh mengandalkan umbaran hawa nafsu hingga ada kontak fisik di antara para karakternya. Adegan-adegan yang mengarah ke seks, tidak boleh digambarkan dengan sangat vulgar seperti yang ada di novel lain yang tidak mengusung kata ‘islami’. Tidak boleh juga membuat cerita yang setengah-setengah dan malah melintasi daerah abu-abu. Misalnya, seorang karakter dibuat sangat alim tetapi masih juga mengumbar hawa nafsu.

Sang karakter mau sholat dan mengaji, tetapi pacaran juga dijalani. Kelewatan batas yang melanggar norma kesusilaan. Dia bersentuhan dengan pasangannya. Hal ini tentu saja tidak boleh ada dalam novel islami. Penulis novel islami ini tidak boleh mendasarkan tulisannya pada pasar. Niat mereka menulis pun harus suci dan bukan untuk sekedar mencari uang. Kalau mereka hanya mengikuti pasar, maka mereka akan membuat tulisan yang mungkin akan disenangi oleh pasar walaupun harus bertentangan dengan agama.

Soal pakaian para karakternya punn tidak boleh dibuat tanggung. Untuk karakter utama, penulis harus menggambarkannya dengan sempurna seperti harapan semua orang terhadap seseorang yang alim. Bila ia wanita, ia tidak digambarkan mengenakan jilbab seperti tumpeng atau punuk onta. Ia juga tidak mengenakan jeans ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Ia harus benar-benar mengenakan hijab syar’i yang sesungguhnya.

Bila ia laki-laki, ia tidak menampakkan auratnya. Semua gambaran yang ideal ini demi menjaga imajinasi dan pola pikir para pembacanya. Jangan sampai karena mengira bahwa yang dibaca adalah novel islami, para pembaca yang tidak mempunyai pengetahuan tentang hukum yang sesungguhnya, meniru karakter utama novel tersebut. Sungguh berat tanggung jawab para penulis novel islami ini. Mereka sendiri harus menjalani dan hidup secara ideal sesuai dengan gambaran yang telah dibuatnya di dalam novel tersebut.

Walk The Talk – Tidak Asal Bicara

Tidak mudah untuk menjadi seorang penulis apa lagi yang mempunyai embel-embel penulis novel islami. Kehidupan mereka pasti disorot oleh para pembaca. Bila mereka dinilai tidak seperti yang tergambar dalam novel yang ditulisnya, para pembaca biasanya akan meninggalkan karya-karyanya selanjutnya. Mereka akan dianggap orang yang hanya bisa bicara tetapi tidak bisa mengikuti apa yang dibicarakannya. Dia menyuruh orang melakukan sesuatu sedangkan ia tidak melakukannya.

Allah Swt pasti sangat benci dengan orang yang menganjurkan sesuatu tetapi ia tidak melakukan apa yang dianjurkannya. Inilah contoh orang yang tidak bertingkah laku seperti yang dituliskannya. Penulis novel islami itu juga harus mampu memberikan gambaran yang tidak terlalu muluk diluar jangkauan pemikiran seperti karakter yang mempunyai kekuatan tertentu yang didukung oleh kekuatan jin. Atau menampilkan karakter yang serba tahu karena ia mendapatkan ‘wangsit’.

Tidak boleh menampilkan kisah yang bertentangan dengan tuntunan Islam terutama menyangkut ketauhidan. Penggambaran yang terlalu berlebihan juga tidak disarankan. Novel islami itu memang harus ideal dan menampilkan sosok yang sangat ideal agar bisa menjadi idola baru. Melihat banyaknya cerita novel atau film yang menampilkan kisah percintaan yang melampaui batas, novel islami ini memang terkadang kurang diminati.

Apalagi sejak budaya Korea mulai menyerbu Indonesia. Para penulis yang tidak berkarakter mulai bermunculan dengan segala hal yang berbau kontroversial. Mereka ingin menarik para pembaca agar membeli novelnya. Permasalahan ditengahkan dengan cara yang abu-abu dan tidak pasti. Sayangnya, novel seperti ini malah yang disenangi. Keadaan ini tentu saja menjadi satu tantangan tersendiri bagi para penulis novel islami. Tidak jarang novel islami ini dianggap begitu menggurui sehingga tidak menarik.

Para penerbit yang dahulunya sangat islami dan berusaha menerbitkan novel islami yang sebenarnya, kini mulai beralih menerbitkan novel dengan genre apa saja yang penting laku. Inilah salah satu fenomena yang sangat menyakitkan. Masalah uang telah menjadi motivasi yang membuat mereka buta mata hati. Tidak heran kalau kini novel yang laris manis itu adalah novel yang menggambarkan kisah cinta bagaikan sinetron Korea.

Pakaian para karakter novel digambarkan begitu liberal. Bahasa yang digunakan juga bahasa gaul yang membuat banyak remaja begitu tertarik dengan kisah ini. Cinta yang membara dengan segala hal yang berbau seks. Penggambaran seks juga begitu tersurat. Tidak ada lagi kata-kata indah. Semua dibuat begitu transparan. Sulit untuk tidak terjebak dalam dunia penulisan seperti ini. Kalau penulisnya tidak mempunyai karakter yang kuat, penulis itupun akan terjebak dan terseret arus.

Para Penulis Novel Islami

Berbicara tentang novel  islami, pikiran orang mungkin akan langsung melayang pada sebuah novel best seller karya Habiburrahman el-Shirazy yang berjudul Ayat-Ayat Cinta. Novel bergenre fiksi tersebut memang sangat laris dan seolah menginspirasi para penulis lain untuk ikut menciptakan novel Islami. Sebenarnya, perkembangan novel bergenre fiksi islami sendiri tidak hanya dimulai sejak munculnya Ayat-Ayat Cinta.

Sebelum buku fenomenal itu terbit, sudah cukup banyak novel islami  yang ditulis dengan tema cukup menarik tetapi tetap baik dan tidak mempromosikan kehidupan yang sangat liberal. Berikut ini adalah beberapa penulis novel islami yang mungkin sudah tidak asing lagi. Mereka telah banyak diketahui masyarakat. Mereka telah menciptakan banyak karya yang tak hanya menghibur, tapi juga menggugah dan sangat inspiratif.

Helvy Tiana Rosa. Nama pendiri FLP (Forum Lingkar Pena) ini tentu tidak asing bagi Anda yang suka membaca novel fiksi islami. Penulis yang lahir 2 April 1970 di Kota Medan ini telah menghasilkan banyak karya dengan tema islami. Contoh novel yang ia tulis adalah Kembara Kasih (Pustaka Annida, 1999), Akira: Muslim Watashi Wa (Syaamil, 2000), dan juga Pelangi Nurani (Syaamil, 2002)

Asma Nadia. Penulis novel  islami ini sangat populer dengan karyanya yang berupa novel serial Aisyah Putri yang pertama kali diterbitkan pada tahun 2000. Penulis wanita yang lahir pada tahun 1972 ini sangat aktif di FLP. Karya-karyanya yang bertama islami sudah hampit tak terhitung lagi.

Izzatul Jannah. Penulis wanita yang satu ini juga memiliki segudang prestasi. Ia lahir pada 12 April 1972 di Jakarta dan sudah menciptakan banyak karya bertema islami. Contoh karyanya adalah Padang Seribu Malaikat (Era Intermedia, 2001), Setitik Kabut Selaksa Cinta (Era Intermedia, 2001), dan Diary Pengantin (Syaamil, 2005).

Habiburrahman el-Shiraz. Nama penulis ini juga tentu sudah tidak asing seiring melejitnya novel fiksi islami berjudul Ayat-Ayat Cinta yang pertama kali diterbitkan pada tahun 2004. Novel fiksi islami yang menjadi best seller ini juga sempat diangkat ke layar lebar dan mendapat sambutan yang sangat baik. Selain Ayat-Ayat Cinta, penulis yang lahir pada 30 September 1976 di Semarang ini juga menulis karya lainnya seperti Ketika Cinta Bertasbih dan Dalam Mihrab Cinta.

Tolong di SHARE :
Tweet
Artikel Terkait
  • Perbedaan Film dan Novel Harry Potter
  • Buku Islami dalam Bentuk Cerpen dan Novel
  • Membedah Novel Bumi Cinta
  • Contoh Isi Novel Laskar Pelangi
  • Contoh Novel Pendek: Dalam Mihrab Cinta
  • Ringkasan Novel Ayat Ayat Cinta
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Komp. Buah Batu Regency Blok A2 No.9
Bandung Jawa Barat - INDONESIA