Mengenal Beberapa Novel Sastra Indonesia
Indonesia telah menghasilkan banyak karya sastra yang hebat, namun sayang tidak semuanya dikenal dengan baik oleh masyarakatnya sendiri. Inilah beberapa karya terbesar novel sastra Indonesia yang perlu kita kenal lebih dalam.
• Tetralogi Pulau Buru - Pramudya Ananta Toer
Mungkin bagi yang menjadi penggemar novel sastra Indonesia, nama Parmudya Ananta Toer ini suah tidak asing lagi di telinga. Penulis novel yang di sapa Pram ini telah membuat tetra;ogi novel yang berjudul Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Tetralogi novel karya sastra Pamudya Ananta Toer ini sangat terkenal adanya. Tetralogi novel ini menceritakan kehiduapn seorang pemuda yang merupakan anak dari seorang peabat pribumi bernama Minke.
Diceritakan dalam tetralogi novel tersebut Minke kemudian berkenalan dengan Nyai Ontosoroh. Nyai Ontosoroh ini merupakan seorang gundik dari orang Belanda yang memiliki putra dan putri. Kisah antara cinta Minke dan putri dari Nyai Ontosoroh ini dikemas dengan cerita yang kompleks dengan setting yang menggambarkan sitasi di masa kolonial Belanda dan menjadi cerita yang begitu menghanyutkan bagi pembacanya.
Dalam tetralogi novel tersebut, Pram sangat detail menggamnbarkan karakter Nyai Ontosoroh yang di dalam novel tersebut merupakan tokoh yang paling berkesan. Karakter Nyai Ontosoroh ini di gambarkan cukup apik dalam sastra novel ini.
Novel sastra Indonesa yang di buat oleh Pram ini merupakan salah satu judul novel yang termasuk kedalam tetralogi novel Tetralogi Pulau Buru. Tetralogi Pulau Buru ini sempat di larang peredarannya oleh kejaksaan agung Indonesia pada saat itu. pada dasarnya, tetralogi ini menceritakan sejarah akan keterbukaan bangsa Indonesia ini setelah memasuki awal Kebangkitan Nasional. Sosok Minke dalam cerita ini juga sebenarnya menjadi salah satu pengukuhan atas seorang Tirto Adhi Soerjo.
Sedikit akan sejarah mengenai novel sastra Indonesia milik Pram ini ialah ketika ia di tahan di Pulau Buru kemudian ia di beri sedikit keleluasaan untuk melanjutkan kreatifitasnya dalam hal menulis. Dari sinilah hasrat untuk menulis sejarah Indonesia dalam konteks ceritapun ia mulai kembali. Di mulai dengan penulisan novel Bumi Manusia yang kemudian ia ceritakan novelnya tersebut kepada tahanan lain di pesawahan dan di barak penampungan yang menjadi temoat tahanannya. Kemudian, beberapa tahun kemudian ia pun mulai menuliskan karya sastranya tersebut atas bantuan tahanan lainnya yang memperbaiki mesin tik tua yang di berikan padanya.
• Layar Terkembang - Sutan Takdir Alisjahbana
Novel Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana adalah novel sastra Indonesia roman lama yang menjadi saksi sejarah dan perkembangan Bahasa Indonesia, sekaligus jejak pemikiran modern Indonesia.
Novel ini mengisahkan perjuangan wanita Indonesia dalam mencapai cita-citanya. Roman ini termasuk novel modern disaat sebagian besar masyarakat Indonesia masih dalam pemikiran lama (1936). Novel ini banyak memperkenalkan masalah wanita Indonesia dengan benturan-benturan budaya baru, menuju pemikiran modern.
Hak-hak wanita, yang banyak disusung oleh budaya modern dengan kesadaran gender, banyak diungkapkan dalam novel ini dan menjadi sisi perjuangannya seperti berwawasan luas dan mandiri. Didalamnya juga banyak memperkenalkan masalah-masalah baru tentang benturan kebudayaan antara barat dan timur serta masalah agama.
Dalam novel sastra Indonesia karya Sutan Takdir Alisjahbana di ceritakan tentang dua wanita kakak beradik yang jatuh cinta pada lelaki yang sama. Kakak beradik tersebut bernama Tuti dan Maria. Keduanya sungguh sangat berbeda dalam sifatnya. Tuti merupakan seirang wanita yang powerfull, serius dan bekerja pada sebuha organisasi aktivis feminis. Sedangkan karakter Maria merupaka seorang wanita yang supel dan sangat feminim.
Yusup yang merupakan lelaki yang dicintai oleh kedua kaka beradik tersebut pada akhirnya memilih untuk mencintai Maria yang sangat lembut dan supel. Dalam cerota ini akhirnya Tuti memi8lih untuk lari ke oragnisasi pergerakan perempuan yang ia tekuni tersebut. dalam karya sastra novel ini, alur yang cerita memang nampak klise. Namun dengan kita mengikuti dan menyimak apa yang di maksud dalam cerita tersebut, maka kita kan merasakan suasana Indonesia pada saat itu.
• Para Priyayi - Umar Kayam
Umar Kayam, lengkap dengan gaya khasnya yang sedikit satir, sedikit nakal; memiliki serangkaian karya yang patut dikenang. Salah satunya adalah novel Para Priyayi ini, yang menggambarkan ambisi kaum tani untuk menjadi ‘priyayi’. Ambisi ini diwakili oleh sosok Sudarsono, anak petani yang mengganti nama menjadi Sastro Darsono.
Berkat pendidikan, ia dapat naik ke ‘level’ yang lebih tinggi, menjadi seorang ‘priyayi’ lengkap dengan semua kesibukannya. Namun siapa sangka, keluarga besar yang ‘priyayi’ ini pada akhirnya akan diselamatkan oleh seorang anak luar nikah dari keponakan jauh Sastro Darsono.
Secra singkat, novel sastra Indonesia karya Umar Kayam ini menceritakan perjuangan Sastro Darsono dan anak – anaknya sebagai priyayi pada masa penjajahan Belanda dan kependudukan Jepang. Umar Kayam yang memilki pengetahuan akan okoh pewayangan, juga turut memasukan beberapa tokoh pewayangan pada cerita tersebut. tokoh pewayangan yang di masukan ke dalam Para Priyayi ini mengenai kesetiaan seperti kesetiaan kepada suami, kepada atasan, mauapun kesetiaan kepada negara.
• Azab dan Sengsara - Merari Siregar
Pada umumnya, para pengamat novel sastra Indonesia menganggap bahwa novel azab dan sengsara karya Merari Siregar ini sebagai novel pertama di Indonesia dan merupakan suatu khazanah kesusastraan Indonesia modern. Anggapan novel Azab dan sengsara ini sebagai novel pertama di Indonesi ini merupakan dasar dari anggapan bahwa kesusastraan Indonesia modern tidak bergantung pada berdirinya Balai Pustaka pada tahun 1917, melainkan awal mulanya di mulai pada tahun 1908.
Tema dari novel Azab an Sengsara sendiri ialah tema percintaan. Dimana cerita ini menceritakan permasalahan dalam perkawinan yang berhubungan dengan harkat dan martabat keluarga yang secar umum pada saat itu merupakan bukan hal yang baru. Novel – novel yang merupakan terbutan Balai Pustaka ini tidak pada umumnya mempergunakan bahasa Melayu Rendah atau bahasa Melayu Pasar yang juga banyak menceritakan tema seperti dengan novel Azab an Sengsara tersebut. Namun, secara tematik, novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar ini belumlah secara spesifik menceritakan hubungan perkawinan yang mengusung tema hubungan dengan adat.
Bagi kita sekarang mungkin novel sastra Indonesia ini terasa seperti drama tragedi biasa, semacam Romeo dan Juliet, namun Azab dan Sengsara bicara lebih banyak dari sekadar kasih tak sampai antara Aminudin dan Mariamin, yaitu kritik sosial atas budaya kawin paksa dalam adat Minang.
Karena masalah perbedaaan ekonomi, ayah Aminuddin tidak merestui rencana pernikahan anaknya. Ia bahkan sampai melibatkan dukun untuk mencegah pernikahan putranya dengan Mariamin. Keduanya dengan berat menikah dengan orang lain dan menjalani hidup yang penuh ketidakbahagiaan dan berakhir dengan kematian.
• Kerudung Merah Kirmizi - Remy Sylado
Pada novel sastra Indonesia yang dibuat oleh Remy Sylado ini merupakan cerita yang mengambil dari latar belakang social pada masa reformasi. Penulis yang mempunyai banyak nama alisa ini membuat novel Kerudung Merah Kirmizi tidak lama setelah masa Orde baru jatuh yang pada saat itu di pimpin oleh Soekarno. Dalam cerita ini Remy menceritakan suatu keinginan dalam perubahan situasi yang radikal pada zaman itu.
Hal ini sangat di tonjolkan ke dalam tokoh yang bernama Myrna Andriono yang merupakan seorang janda dengan dua orang anak. Myrna Andriono ini merupakan istri dari seorang pilot yang telah meninggal dunia. Setelah suaminya meninggal Myrna dan anak – anaknya jatuh miskin dan rumah yang di tingalinya di rampas oleh pihak – pihak yang merupakan seseorang yang berkolusi dengan rezim orde baru.
Dalam cerita ini, di kisahkan Myrna yang menjalin hubungan dengan Luc yang kemudian berusaha memperebutkan hak – haknya sendiri. Daro cerita ini dapat kita lihat akan sebuah latar belakang yang menerangkan sebuah pesan – pesan yang kuat akan sebuah reformasi dan kririk sosial.bahkan tantangan – tantangan yang di alami oleh lembaga – lembaga sosial pun di ceritakan dengan angat detail.

