logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Profil    Tokoh

Pahlawan Nasional Indonesia, Panglima Soedirman


Ilustrasi pahlawan nasional indonesia 

Pahlawan itu sangat istimewa. Mereka itu bahkan mungkin ikhlas tak didiberi predikat pahlawan. Ini karena mereka melakukan pembelaan terhadap negerinya dengan ikhlas. Pahlawan nasional Indonesia adalah gelar yang diberikan kepada mereka yang memiliki jasa kepada negara Indonesia. Jasa ini khususnya dilakukan dalam rangka merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah. Gelar ini disematkan bagi mereka yang gugur pada saat berlangsungnya perang kemerdekaan, maupun mereka yang gugur pasca kemerdekaan namun memiliki peran besar dalam proses perjuangan bangsa.

Jasa Pahlawan

Salah satu pahlawan nasional Indonesia yang sangat terkenal dan dikenang masyarakat adalah Panglima Besar Soedirman. Beliau adalah salah satu tokoh pejuang yang memiliki dedikasi tinggi dan patut menjadi teladan setiap generasi bangsa Indonesia. Diusianya yang tergolong muda, Jenderal Soedirman teguh dalam pendirian dan terus berjuang dalam keadaan apapun. Sakit yang dideritanya bukan halangan melanjutkan perjuangan. Jiwanya jauh lebih hebat daripada raganya yang terus digerogoti oleh penyakit.

Soedirman adalah sosok pahlawan nasional yang memiliki dedikasi tinggi pada negara. Kecintaannya pada tanah air, mengalahkan rasa cinta pada diri sendiri. Hal tersebut dibuktikannya dengan sikapnya untuk tetap memimpin pasukan berperang gerilya selama tujuh bulan dalam kondisi sakit parah. Keyakinan bahwa kemenangan itu tidak mudah tapi pasti didapatkan adalah satu meotivasi yang luar biasa memecut setiap jiwa yang ada di dekat sang Jenderal pertama ini. Ia yang tidak mempunyai tubuh gagah perkasa ternyata mempunyai energi raksasa yang membuat anak buahnya rela melakukan apapun yang diperintahkan oleh sang Jenderal.

Inilah satu satu kekuatan yang dicontohkan oleh seorang Soedirman. Ia tak perlu memerintahkan anak buahnya dengan suara yang lantang dan menggelegar. Ia tak harus ditakuti oleh anak buahnya. Ia yang mempunyai pandangan dan pemikiran yang jauh ke depan itu memang mempunyai kharisma yang luar biasa. Tubuhnya yang kurus pasti akan terjatuh bila ditendang sedikit saja. Berdiri dengan tegap pun beliau tak mampu. Tetapi lihatlah sikap sigap yang ditunjukkan oleh anak buahnya saat ia memeriksa barisan pasukannya. Semua menaruh hormat dan rela berkorban untuk pimpinannya. Sang Jenderal Soedirman adalah satu contoh bahwa pemimpin itu hanya harus bersih hatinya. Selanjutnya ia harus rela melakukan banyak hal yang menurut orang lain tak mungkin bisa dilakukan oleh seseorang yang tak berdaya secara fisik.

Penyakit paru-paru yang menggerogoti tubuhnya menjadikan salah satu paru-parunya tidak berfungsi. Hal itu diperparah dengan tidak adanya perawatan yang memadai, karena selama sakit dirinya harus berpindah-pindah dari satu hutan ke hutan lain. Juga dari satu gunung dan gunung yang lain. Pada saat itu, tidak ada obat-obatan yang bisa mengurangi penderitaan akan sakitnya tersebut.

Namun itu tidak menghentikan semangatnya untuk memberikan dukungan atas perjuangan anak buahnya. Meski pun harus berada di atas tandu, Soedirman selalu berusaha untuk dekat dengan pasukannya. Itulah mengapa Soedirman dianggap sebagai salah satu panutan yang layak diteladani karena lebih mengedepankan dedikasi pada negara daripada memikirkan kesehatan dirinya.

Jasa yang diberikan oleh Jenderal Soedirman ini tidak hanya tentang bagaimana seorang prajurit harus bertindak. Ia juga memberikan contoh bahwa keyakinan dan strategi yang canggih itu tetap juga harus dilakukan. Bagaimana ia berjalan dalam barisan berpindah tempat melewati hutan dan sungai yang masih begitu lebat pada saat itu. Mereka lebih memilih perang gerilya yang memang sangat cocok dengan kondisi dan situasi saat itu. Strategi perang ini sangat jitu. Terbukti, beberapa kali pihak panjajah Belanda tak berhasil memukul mundur prajurir Republik Indonesia.

Berbagai serangan mengejutkan khas perang gerilya bahkan sering kali membuat para prajurit Belanda kocar-kacir. Jenderal Soedirman yang tahu medan pertempuran dengan baik itu juga mengirimkan mata-mata yang cerdas yang bisa mengetahui kapan dan di mana harus menyerang dan menambah amunisi. Perjuangan yang tulus itu ternyata dirasakan oelh seluruh rakyat Indonesia. Itulah mengapa mereka dengan rela dan ikhlas menampung para prajurit yang kelelahan dan kelaparan. Walaupun mereka menyediakan makanan apa adanya seperti singkongm ternyata makanan itu sangat bermanfaat dan mampu memberikan suntikan energi dan semangat kepada para penjuang bangsa.

Biografi Soedirman

Soedirman dilahirkan di Bodas Karangjati, Purbalingga pada tanggal 24 Januari 1916. Usai menamatkan pendidikannya di Taman Siswa Yogyakarta, Soedirman melanjutkan ke HIK Muhammadiyah, Solo meski tidak sampai tamat. Dan ketika Jepang masuk ke Indonesia, Soedirman turut bergabung dengan PETA di Bogor. Selama menjadi anggota PETA, Soedirman dipercaya sebagai Komandan Batalyon di Kroya. Saat itu, dirinya benar-benar memperhatikan dan melindungi anak buahnya saat mereka dianiaya oleh tentara Jepang. Akibatnya, dirinya pernah nyaris dibunuh oleh pasukan Jepang.

Soedirman mempunyai sikap yang sangat perhatian dan jiwa pemimpinnya sangat tampak. Teman-temannya sangat menghormati laki-laki berperawakan kurus ini. Ia sangat cerdas dan mampu membuat strategi perang yang jitu. Jiwanya yang sangat kuat juga membuat anak buah dan para sahabatnya yakin dengan kepemimpinannya. Rasa percaya ini membuat banyak orang mengikuti Soedirman berperang dalam menghadapi kaum penjajah.

Pasca terbentuknya Tentara Keamanan Rakyat, Soedirman dipercaya menjadi Panglima Divisi V/ Banyumas dengan pangkat kolonel. Jabatan panglima besar diperolehnya dalam konferensi TKR pada tanggal 2 November 1945. Pangkat Jenderal digenggamnya pada usia 31 tahun dan merupakan jenderal termuda Indonesia pada saat ini. posisi tersebut diperoleh tanggal 18 November 1945 melalui pelantikan presiden. Hal ini merupakan sebuah keistimewaan, karena pangkat tersebut diperolehnya tanpa harus melalui jenjang kepangkatan sebagaimana lazimnya.

Masa perjuangan memang tidak seperti masa tenang dan damai. Kehebatan seorang prajurit dilihat dari bukti nyata di lapangan dan tidak melalui apa yang dilakukan melalui jenjang kepangkatan yang normal. Melihat apa yang telah dilakukan oleh seorang Soedirman dalam membela negara, tidak mengherankan kalau ia diberi pangkat jenderal. Pada zaman sekarang pasti akan sangat sulit mendapatkan pangkat jenderal. Pendidikan dan prestasi kerja dan karya harus sangat luar biasa untuk bisa mendapatkan pangkat tertinggi dalam karier seorang prajurit militer itu.

Perjuangannya memimpin pasukan dalam strategi perang gerilya dalam kondisi sakit parah, adalah keputusannya sendiri. Meski pada saat itu, presiden Soekarno sudah memberikan kesempatan kepada panglima Besar Soedirman untuk beristirahat di ibu kota saat itu, Yogyakarta. Namun, kesempatan tersebut tidak dimanfaatkannya. Soedirman berpikir lebih baik mati dalam medan pertempuran daripada mati di atas kasur dan tidak melakukan apa-apa. Bukankah setiap yang hidup pasti mati. Ia ingin menjemput kematiannya dalam syahid. Ia ingin terus berkarya hingga napas terakhirnya keluar dari raganya. Ia ingin mati dalam perjuangan membela negaranya. Satu sikap yang sangat patriotik. Tidak mudah menemukan orang muda dengan tekad yang begitu membaja seperti yang dimiliki seorang Soedirman.

Hal ini karena pada saat itu, pemikiran Soedirman sangat dibutuhkan oleh pasukannya. Selain menyumbangkan pemikiran dalam masalah ketentaraan, Soedirman memiliki peran dalam pendirian koperasi. Koperasi ini didirikan agar rakyat tidak mengalami bahaya kelaparan. Kecerdasan yang dimiliki oleh Soedirman memang di atas rata-rata. Tidak mengherankan kalau banyak orang yang menaruh hormat kepadanya. Lakukan yang terbaik untuk orang lain dan jangan mengharapkan apa-apa dari manusia. Yakinlah bahwa siapa yang memperhatikan mahluk yang ada di bumi, maka ia akan diperhatikan oleh yang ada di langit. Itulah yang tertanam di hati seorang Soedirman.

Wafatnya Sang Jenderal

Kehidupan itu milik Tuhan. Tuhanlah yang menentukan segalanya. Soedirman diberi kesempatan menghirup udara kemerdekaan yang sedikit segar. Ia sempat menikmati penyerahan diri yang seutuhnya dalam balutan sakit yang dideritanya. Ia sempat mendapatkan perawatan walaupun tidak sempurna. Ia sempat bertemu lagi dengan anak dan istrinya. Ia sempat bersama dengan keluarganya beberapa saat sebelum hembusan napasnya yang terakhir keluar. Dalam sakitnya itu, Soedirman tetap memikirkan negerinya. Ia tetap awas dan merasakan perkembangan negeri yang baru merdeka itu.

Meski pun sudah berusaha melawan penyakitnya,  Soedirman akhirnya menyerah juga. Soedirman meninggal dunia tanggal 29 Januari 1950 pada saat berusia 34 tahun. Makam Jendral Besar Soedirman bisa dijumpai di Taman Makam Pahlawan Semaki di kawasan Jalan Taman Siswa, Yogyakarta. Dan karena dedikasinya inilah gelar Pahlawan Nasional Indonesia pun layak disematkan pada Soedirman.

 

 

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Tokoh-Tokoh Indonesia Pioner Bangsa
  • Tung Dasem Waringin - Pakar Pembuat Kehebohan
  • Biografi Michael Jordan
  • Menyambut Baik Obama Datang ke Indonesia
  • Kaka Real Madrid - Pemain Religius yang Mengidolakan Tom Hanks
  • Biografi Filsuf Milesian
  • Meniru Tokoh Wirausahawan Sukses
  • Sunan Gunung Jati - Wali Songo dari Jawa Barat
  • Pemerintahan Gus Dur: Dua Tahun Penuh Keunikan
  • Tokoh Penjelajah Dunia - Charles Robert Darwin
  • Mengenang Pahlawan dan Tokoh Nasional Indonesia
  • Adakah Nilai Edukasi pada Tokoh Kartun?
  • Presiden Habibi dan Ainun: Potret Cinta Sejati
  • Menyimak Biografi Pangeran Antasari
  • Pantaskah RA Kartini Disebut Pahlawan Nasional?
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA