Pakaian Pernikahan Adat Papua
Ilustrasi pakaian pernikahan
Negara Indonesia amat terkenal dengan keragaman budayanya. Dengan tigapuluh tiga propinsi yang mendiami kepulauan di Indonesia, dapat dikatakan bahwa Negara Indonesia cukup padat populasinya, serta kaya ragam budayanya. Banyak tata cara adat yang cukup menarik untuk disimak, di antaranyapakaian pernikahan tiap suku atau daerah. Aneka ragam pakaian yang dikenakan pengantin itu sangat indah. Ada yang memasangkan sanggul yang besar, ada yang mengenakan perhiasan yang berwarna keemasan. Ada yang membuat pusing kepala karena beratnya perhiasan yang ada di kepala. Misalnya, pengantin wnaita dari daerah Sumatera, seperti Lampung, Palembang, dan Padang.
Pernak-Pernik Pakaian
Tidak jarang ada pengantin wanita dari wilayah Sumatera yang tidak sanggup menahan beratnya perhiasan di kepala mereka. Leher menjadi kaku, kepala pusing dan perut mual. Apalagi kalau pagi harinya belum makan. Rangkaian satu pernikahan memang memakan waktu yang lama sehingga wajar saja kalau kondisi tdai fit, sang pengantin wanita terkulai lemas. Demi menjaga keindahan dan kesakralan pernikahannya, ia berusaha menahan semua kesakitan dan kelelahan yang melanda.
Apalagi bagi kaum ningrat yang masih mengenakan perhiasan kepala yang asli yang tidak jarang memang benar-benar terbuat dari emas. Beratnya perhiasan ini juga harus ditanggung ketika menarikan sari tarian yang harus dibawakan oleh sang pengantin wanita. Adat ini ada di rangkaian pernikahan dari Palembang. Baju dan kain songket asli yang dikenakan yang juga terbuat dari emas asli 14 karat menambah beratnya tanggungan sang pengantin wanita. Kalau ia tidak berlatih terlebih dahulu, tubuhnya pasti akan kaget. Inilah baiknya melakukan latihan mengenakan pakaian dan perhiasan kepala itu jauh hari sebelum hari yang istimewa itu datang.
Biasanya para pendamping pengantin yang merupakan orangtua pengantin sendiri akan memberikan perhatian lebih dan akan memberikan asupan makanan yang diperlukan. Kadang kala kedua pengantin akan duduk sejenak sebelum bangkit lagi menerima ucapan selamat dari para undangan. Kalau undangan yang hadir berjumlah ribuan, maka ketahanan tubuh sang pengantin terutama pengantin wanita pasti sangat dibutuhkan. Olahraga teratur dan makan makanan yang bergizi seimbang sebelum acara dimulai adalah rangkaian yang tak bisa terpisahkan dari rangkaian peristiwa yang istimewa itu.
Sakralnya Pernikahan
Sakralnya suatu proses pernikahan biasanya ditandai dengan busana yang dikenakan pada saat prosesi pernikahan itu dilaksanakan. Terlebih prosesi pernikahan yang mengusung tema adat. Biasanya penyelenggaraannya amat dipersiapkan secara serius. Baik dari segi tata caranya, prosesi adatnya, mahar pernikahannya, hingga pakaian pernikahan.
Semua itu biasanya dengan satu alasan. Yakni, bahwa pernikahan adalah hajat besar seumur hidup yang kalau bisa hanya berlangsung satu kali sepanjang perjalanan perkawinan seseorang, termasuk juga Anda. Pakaian pernikahan dibuat sangat istimewa dan berbeda dengan pakaian sehari-hari. Kalaupun tidak mengenakan pakaian adat, biasanya, sang pengantin akan membuat pakaian yang cukup wah dan cukup berbeda dengan pakaian yang biasa dipakai sehari-hari.
Misalnya, baju kebaya yang dikenakan diberi beberapa payet dan desain yang khusus agar sang penagntinn terlihat lebih cantik dari biasanya.atu stel jas biasanya dipilih. Kalaupun tidak mengenakan jas, biasany baju adat atau pakaian dari Timur Tengah bisa juga dikenakan. Tidak ketinggalan peci khas untuk pria Indonesia. Hal ini hampir terjadi di semua belahan Indonesia. Pakaian yang dikenakan oleh pengantin dari Indonesia bagian timur malah lebih unik lagi. Pakaian pengantin Papua, misalnya, mempunyai makna yang sangat beragam dan sangat menarik untuk disimak.
Pernikahan Adat Papua
Secara garis besar pernikahan adat Papua tidak berbeda jauh dengan pernikahan adat daerah lain di Indonesia. Hanya saja karena Papua pada saat masa Orde Lama menjadi propinsi termuda di Negara Republik Indonesia, maka biasanya selalu menyita perhatian semua orang baik penduduk Indonesia secara khususnya maupun penduduk dunia secara umum. Orang-orang Papua yang mempunyai penampilan secara fisik yang cukup berbeda dengan penampilan fisik orang Indonesia kebanyakan juga membuat adat mereka cukup unik.
Pernikahan adat Papua selalu diwarnai oleh kekhasan penduduk setempat yang selalu menyatakan segala perasaan dan kondisi suasana dengan tarian. Maka pernikahan adat Papua tidak lepas dari tarian-tarian yang mengawali dimulainya suatu pernikahan, dan juga pada saat meminta petuah dan berkah dari salah seorang yang dituakan dalam adat. Rangkaian acara adat yang harus dilalui cukup banyak dan memakan banyak waktu dan tenaga.
Susunan upacaranya kurang lebih demikian. Pertama, para keluarga mempelai lelaki dan perempuan menunggu kehadiran para tetua adat, yang diwakili oleh sepuluh orang lelaki Papuan mengenakan jubah kuning. Mereka datang ke pesta pernikahan yang digelar sambil menari dan menyanyi, diiringi tabuhan tifa (gendang khas daerah Papua). Kedua, di belakang para tetua adat, berbaris panjang ratusan orang tua, muda, anak-anak, laki-laki maupun perempuan, sambil tetap menari pula dengan iringan tifa tadi – sambil berjalan berjinjit-jinjit.
Selanjutnya, kedua rombongan tersebut kemudian datang menjemput mempelai lelaki dan menggiring mempelai lelaki dan keluarganya menjemput pengantin wanita sambil tetap menari. Tarian ini menyiratkan kebahagiaan bersatunya kedua orang yang berlainan jenis itu. Jajaran keluarga mempelai lelaki membawa semua harta berharga yang akan dijadikan mahar, berupa piring-piring Cina, guci ataupun keramik Tionghoa. Ketiga jenis barang tadi adalah benda-benda yang biasa dijadikan mahar dalam adat Papua.
Bagaimanapun perkembangan zaman membawa pengaruh juga kepada adat dan istiadat orang Papua. Banyaknya pendatang yang melirik daerah ini sebagai bagian dari cara mendapatkan kehidupan telah juga membukakan mata hati orang Papua bahwa begitu banyak adat dan istiadat di luar sana yang bisa diambil dan disesuaikan dengan keadaan mereka. Sebagian dari mereka juga ada yang telah merantau ke daerah lain. Hal ini juga mempengaruhi kehidupan mereka selanjutnya.
Lalu, semua rombongan akan berhenti berjalan setelah mencapai rumah atau kediaman keluarga mempelai wanita. Proses selanjutnya adalah petuah dan berkah yang akan dipimpin oleh tetua adat, dilanjutkan dengan proses pernikahan.
Dari kesemua proses tersebut semua ditandai dengan kekhasan adat Papua yakni menari dan menyanyi diiringi tabuhan tifa – gendang khas Papua. Tarian Papua tidaklah sesulit tarian-tarian daerah di Bali atau Jawa Tengah. Secara garis besar tarian Papua lebih banyak berupa jingkatan-jingkatan kaki yang dihentakkan mengikuti irama. Bersahaja namun penuh energik.
Pakaian Pernikahan Adat Papua
Adapun mengenai busana atau pakaian pernikahan adat Papua juga tak kalah menariknya dengan susunan upacara pernikahan yang digelar. Biasanya busana yang dipakai sebagai pakaian pernikahan akan dibagi menjadi tiga macam. Pertama, adalah pakaian yang dikenakan oleh para tetua adat dan agama. Berikutnya adalah pakaian yang dikenakan oleh ratusan masyarakat yang ikut meramaikan upacara pernikahan. Dan terakhir adalah pakaian pernikahan yang dikenakan oleh sepasang mempelai serta keluarga mempelai.
Pakaian Tetua Adat dan Agama
Yang dikenakan oleh para tetua adat dan agama adalah berbeda. Tetua Adat biasanya menggunakan pakaian adat Papua tradisionil seperti koteka, bulu cendrawasih dan hiasan gading gajah. Sedangkan Tetua Agama mengenakan jubah kuning flannel yang seragam dan senada.
Pakaian Pernikahan Masyarakat
Masyarakat setempat yang menjadi pengiring mempelai biasanya mengenakan pakaian biasa. Karena kini di Papua agama Islam telah berkembang pesat, maka para wanitanya lebih banyak mengenakan jilbab dan baju terbaik mereka. Atau bila tidak, pada umumnya mengenakan sarung tenunan lokal dengan atasan baju biasa atau baju berwarna putih – yang menandakan kesucian.
Pakaian Pernikahan Mempelai
Busana yang dikenakan oleh keluarga mempelai biasanya masih bercorak biasa. Yakni busana terbaik yang mereka miliki, dan wanitanya tetap dibalut oleh sarung hasil tenunan lokal. Sedangkan prianya walau bercelana panjang tetap mengenakan hiasan gading gajah atau babi, juga hiasan bulu burung cendrawasih pada ikat kepala mereka.
Sedangkan pakaian pernikahan yang dikenakan oleh kedua mempelai adalah busana putih-putih. Orang Papua memang menyenangi warna putih dalam berbusana, hal ini merupakan suatu perkembangan yang berjalan seiring dengan waktu. Meski mereka tetap menyukai warna-warna meriah dan corak khas Papua, seperti manik-manik atau hiasan bulu cendrawasih. Kombinasi warna yang dipakai disimbolkan oleh corak warna bulu burung cendrawasih.

