Paku Kuntilanak - Satu Lagi Film Horor Berbau Sensual
Kira-kira, di mana kita bisa melihat film horor tapi penuh adegan seronok? Jawabnya adalah di Indonesia. Ironis memang, ketika di sisi lain mulai banyak bermunculan film-film berkualitas. Namun di sisi yang lainnya, film-film minim atau bahkan hampa kualitas tetap saja berjejalan memenuhi bioskop-bioskop di Indonesia. Pernah mendengar sebuah film bertemakan paku kuntilanak?
Film horor yang seharusnya punya daya pukau kengerian, malah bercampur dengan kesan erotis. Tak jelas dan pastinya tak mendidik. Salah satunya adalah di film Paku Kuntilanak.
Tahun 2009 jadi contoh bagaimana booming film-film horor plus erotis (termasuk film Paku Kuntilanak). Yaitu film yang mengangkat sosok setan, hantu atau makhlus halus namun kental dengan adegan-adegan mengumbar syahwat. Kerancuan pun melanda para penontonnya.
Penonton (yang bijak) dibuat bingung apakah nantinya film Paku Kuntilanak ini lebih menyuguhkan sensasi ketegangan dari sebuah film horor, atau keerotisan para pemain di film tersebut. Hal yang lebih parah lagi adalah ketika unsur paling penting dari film horor (kesan angker), jadi tertutupi oleh keseronokan tingkah para pemain filmnya.
Lihat saja judul-judul film horor (selain film Paku Kuntilanak) yang telah diputar sepanjang 2009 lalu. Dari namanya saja, sudah menyiratkan kesan film horor plus erotis. Menjual nama sosok yang ditakuti (setan), tapi selain itu juga menjual keseksian dan keberanian para pemainnya untuk beradegan hot.
Mulai dari film Hantu Jamu Gendong, Hantu Binal Jembatan Semanggi, Jeritan Kuntilanak, Kuntilanak Beranak, Kutukan Suster Ngesot, Kuntilanak Kamar Mayat, Paku Kuntilanak, Pocong Jalan Blora, Pocong Setan Jompo, Pocong Kamar Sebelah, Setan Budeg, Susuk Pocong, Suster Keramas, Sumpah (Ini) Pocong, The Real Pocong, Air Terjun Pengantin, Darah Janda Kolong Wewe, dan Darah Perawan Bulan Madu.
Film-film itu punya satu pola yang sama. Tokoh utama dalam film akan dihantui oleh sosok-sosok mengerikan dari alam lain. Namun anehnya, sosok mengerikan tersebut menyerupai perempuan cantik, seksi serta berperilaku ‘nakal’. Contohnya adalah di film Paku Kuntilanak. Sosok mengerikan (kuntilanak) tampil tak hanya menyeramkan. Tapi, juga sering terlihat menyerupai manusia (perempuan) dengan busana minim dan perilaku seperti perempuan jalang.
Kalau pun tidak ada tokoh setan seksinya seperti di film Paku Kuntilanak, tetap saja ada akting para pemain yang tak lepas dari adegan seputar kasur. Termasuk pemain perempuan dengan tubuh molek berbalut busana minim. Contohnya di film Air Terjun Pengantin. Film ini memang tidak menampilkan setan mengerikan seperti kuntilanak, pocong, suster ngesot, dan lain-lain. Tetapi, para pemain (khususnya pemain perempuan) ditampilkan dengan wajah bening, tubuh molek dan pakaian sejenis bikini atau baju tidur transparan.
Para sineas pembuat film-film bergenre tersebut, seolah tak puas bereksplorasi hanya pada aspek cerita dan penguatan karakter para pemain. Tapi, mereka juga mengeksploitasi tubuh para pemain perempuannya. Suatu sikap mental yang hanya melahirkan film-film picisan (film Paku Kuntilanak). Bukan film berkualitas internasional atau film yang menginspirasi para penikmat karya seni.
Ironisnya, film-film horor plus erotis tersebut, termasuk film Paku Kuntilanak di dalamnya, tetap saja dapat melenggang dengan bebasnya di bioskop-bioskop seluruh Indonesia. Penjualan VCD atau DVD-nya pun melimpah-ruah tanpa kontrol ketat dari pihak berwenang. Film-film itu dapat ditonton oleh siapa saja, tanpa ada patokan umur yang membatasi. Lebih ironis lagi, Lembaga Sensor Film Indonesia seolah tak punya gigi dalam menyensor adegan-adegan yang tak layak tonton karena mengandung unsur pornografi. Jadilah ketimpangan dalam peraturan di Indonesia. Meskipun peraturan mengenai pornografi dan pornoaksi telah disahkan, tapi dalam kenyataannya pelaku atau hasil karya yang termasuk pornografi dan pornoaksi tak bisa dijerat. Hal ini dapat dilihat dengan maraknya peredaran film sejenis Paku Kuntilanak di pasaran.
Film Paku Kuntilanak
Film Paku Kuntilanak adalah produksi Maxima Pictures. Ketika dirilis, film ini sudah menuai banyak protes dari masyarakat. Berduyun-duyun masyarakat meminta agar film yang disutradarai oleh Findo Purwono HW, dan dibintangi antara lain oleh Dewi Perssik, Heather Storm, Keith Foo, Kiwil, Rizky Mocil, Hardi Fadhillah, Edi Brokoli, Nani Widjaja, dan Bolot ini segera ditarik dari peredaran. Film Paku Kuntilanak dianggap merupakan film porno yang bertopeng film horor.
Film porno? Ya, memang dari sisi alur cerita, tak ada yang menyerempet ke arah tersebut. Namun, di film Paku Kuntilanak bertebaran adegan-adengan syur yang (lagi-lagi) anehnya bisa lolos sensor dari Lembaga Sensor Film Indonesia. Hal inilah yang membuat berang sebagian masyarakat dan menganggap film ini adalah racun bagi generasi muda. Bukan film yang layak dijadikan tontonan (hiburan) dan tuntunan (pendidikan).
Adapun film Paku Kuntilanak bercerita tentang sosok kuntilanak (Dewi Perssik) yang meneror pasangan Oca (Keith Foo) dan Sally (Heather Storm). Di awal film Paku Kuntilanak, kuntilanak tersebut berhasil dilumpuhkan setelah dipaku kepalanya dan dibuang ke sungai. Namun, masalah tidak selesai. Tanpa disengaja, Pak Joko (Kiwil) yang merupakan seorang manajer dari Tiga Pemburu Mayat, yaitu Sukun (Edi Brokoli), Obeng (Hardi Fadhillah), dan Odjie (Rizky Mocil), menemukan dan mencabut paku di kepala kuntilanak itu.
Akibatnya, teror kembali melanda. Bahkan lebih sadis karena diiringi dengan pembunuhan oleh kuntilanak. Pasangan Oca dan Sally yang di awal cerita diganggu oleh penampakan kuntilanak, termasuk korban yang dibunuh. Perburuan untuk menangkap dan melumpuhkan kembali kuntilanak pembunuh, jadi inti cerita film Paku Kuntilanak. Dan di akhir cerita, terungkap motif mengapa kuntilanak tersebut membunuh para korbannya. Yaitu motif dendam karena semasa hidupnya, ia dibunuh dengan kejam oleh pasangan Oca dan Sally. Tema yang standar, bukan? Sangat!
Dewi Perssik di Film Paku Kuntilanak
Lalu, apa kaitannya film Paku Kuntilanak dengan Dewi Perssik? Di film ini, Dewi Perssik berperan sebagai kuntilanak pembunuh yang sadis dan brutal menghabisi para korbannya karena dendam. Untuk itu, ia rela melakukan apa saja agar tujuannya bisa terpenuhi. Termasuk memikat para korban dengan rayuan, cumbuan dan kemolekan tubuh.
Dalam film Paku Kuntilanak, artis yang dikenal dengan goyang gergaji itu berani beradegan syur dengan lawan mainnya. Bahkan di salah satu scene, artis yang sudah menjanda dua kali tersebut tak jengah memperlihatkan salah satu bagian intim dari tubuhnya. Diceritakan, Dewi Persik dan Keith Foo (lawan mainnya) sedang bercumbu mesra di dalam bath tub. Polos tanpa busana. Walaupun tubuh Dewi Persik ditutupi busa sabun, namun bagian atas tubuhnya terpampang jelas tanpa tertutup oleh apa pun.
Akibat keberaniannya beradegan polos di film Paku Kuntilanak, Dewi Perssik jadi sasaran hujatan sebagian masyarakat. Beberapa kota mencekal kehadiran artis kelahiran Jember, Jawa Timur, 18 Desember 1985 itu, Bahkan, kehadiran Dewi Perssik di acara Anugerah Sampoerna Hijau, turut dicekal.
Beragam hujatan dan pencekalan ternyata tidak membuat risau artis yang juga penyanyi dangdut. Dewi Perssik berkilah bahwa adegan toplessnya di film Paku Kuntilanak sesuai tuntutan skenario. Bukan adegan yang ia buat-buat. Dan sebagai artis profesional (dibayar), ia tanpa ragu melakukannya walaupun jadi bahan hujatan dan celaan.
Entahlah, apakah alasan dari salah satu artis film panas Indonesia itu bisa diterima secara nalar atau tidak, mungkin akan jadi bahan perdebatan. Namun, yang pasti akibat dari ‘keprofesionalan’nya bermain di film Paku Kuntilanak, wajah perfilman Indonesia tak akan bisa lepas dari urusan esek-esek. Wajah buram yang semestinya harus segera dibersihkan dan diganti dengan wajah cerah perfilman. Yaitu perfilman yang sarat dengan nilai pendidikan moral dan kualitas kemanusiaan. Inilah, wajah perfilman Indonesia seharusnya.






