logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Ilmu Sosial    Ilmu Sastra

Pantun Lucu Bikin Tertawa


Ilustrasi pantun lucu

Berpantun merupakan kebiasaan komunikasi yang menimbulkan keakraban juga rasa humor, terlebih jika yang diucapkan ialah pantun lucu. Pantun memang sering digunakan sebagai media komunikasi yang menghangatkan, mengakrabkan, dan juga sebagai identitas pergaulan. Hanya saja keidentikan tersebut agak jarang digunakan pada era 2000-an.

Sebetulnya pada era 90-an pun sudah agak jarang digunakan sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam pergaulan. Hanya saja pada era 90-an pantun masih banyak digunakan dalam surat sebab saat itu (era 90-an) tradisi surat-menyurat dengan teman masih terpola dengan baik. Tradisi menyelipkan pantun dalam surat biasanya terdapat pada awal surat dan akhir surat. Pembuka surat biasanya tak diawali dengan salam pembuka tetapi diawali dengan pantun.

Begitupun dengan bagian akhir surat yang diakhiri dengan pantun, bukan dengan salam penutup seperti lazimnya. Tradisi surat-menyurat yang kala itu masih kental pada masyarakat kita, terutama kaum remaja, ketika berbalas surat dengan kekasih atau teman dekat, bahkan sahabat pena yang menjadikan pantun sebagai media yang tepat untuk mewakili perasaan atau sekadar membuat lelucon dengan pantun lucu.

Terlebih di bagian akhir surat yang biasanya menimbulkan kesan lucu saat pantun yang terdapat dalam surat tersebut ketahui oleh banyak teman dan dibacakan dengan nada ejekan setengah menggoda. Meski pantun yang dibuat bukanlah jenis pantun lucu dan terkesan bernada paksaan namun ketika dibacakan beramai-ramai bisa menjadi lucu efeknya.

Terlebih saat pantun tersebut terdapat dalam surat yang dikirim oleh kekasih. Pantun yang digunakan sebagai salam penutup biasanya menjadi bahan olok-olokan teman-temannya, dan akhirnya terkesan humor karena dipakai untuk menggodai seorang teman yang sedang kasmaran yang disertai dengan tawa riang. Misalnya saja pantun:

Empat kali empat sama dengan enam belas, sempat tidak sempat harus dibalas.

Pengertian Pantun Lucu

Pantun lucu ialah pantun yang berisikan tentang lelucon, humor. Terdapat unsur jenaka dari segi isi pantun yang terdapat pada baris ketiga dan keempat. Pantun lucu biasa digunakan atau diucapkan pada saat santai, dalam situasi tidak resmi ketika sedang berkumpul dengan kawan-kawan. Namun ada pula pantun lucu yang diucapkan atau dibacakan dalam situasi resmi sebagai penghibur atau jeda agar suasana menjadi nyaman dan tidak terkesan tegang.

Misalnya dalam acara seminar untuk menghibur peserta sehingga tidak merasa jenuh dan mengantuk. Juga dimaksudkan menarik perhatian peserta agar kemudian memberikan perhatian pada hal yang dibicarakan oleh pembicara. Pantun lucu sebagaimana pantun lainnya, setiap baitnya terdiri atas empat baris atau empat larik. Larik pertama dan kedua merupakan sampiran dan larik ketiga dan keempat merupakan isi pantun. Ada pula pantun yang merupakan pantun singkat atau dikenal dengan karmina yang hanya terdiri dari dua bari yakni baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua merupakan isi.

Tentu saja ciri-ciri umum pantun pun terpenuhi yakni terdiri atas delapan sampai dua belas suku kata pada tiap lariknya. Juga rima pada akhir larik berpola ab-ab. Sesungguhnya yang dinamakan pola rima ab-ab tak hanya ditemui pada akhir larik saja, pada akhir suku kata dalam jeda tiap lariknya biasanya pun terdapat pola rima ab-ab.

Pantun Sebagai Jenis Sastra Lama

Pantun lucu (pantun) merupakan jenis sastra lama yang tergolong ke dalam puisi rakyat. Sastra lama penyebarannya melalui oral yakni dari mulut ke mulut, secara lisan. Puisi rakyat, yakni pantun disebarkan secara lisan sebab saat itu belum dikenal tradisi menulis. Sastra lisan ini banyak ragamnya, diantaranya syair, pantun, juga mantra (asihan, singlar, jangjawokan, dan sebagainya). Penyebaran sastra lisan dilakukan secara turun temurun, itu sebabnya leluhur kita sangat kuat daya ingat dan simaknya sebab saat itu yang diandalkan adalah ingatan untuk bisa mengingat kata-kata yang berirama yang dinamakan pantun.

Dalam sastra lisan, terjadi tradisi lisan, yakni tradisi melisankan, menceritakan, mengisahkan, melafalkan, mengujarkan karya-karya sastra. Sastra lisan berupa pantun dan lainnya memiliki beberapa ciri yakni penyebarannya dilakukan secara lisan, penyebaran bersifat tradisional (tetap dalam bentuk standar, disebarkan minimal pada dua generasi), bersifat anonim (tidak diketahui pengarangnya), memiliki kegunaan (sebagai alat pelipur lara, alat pendidik, protes sosial, atau proyekso keinginan terpendam).

Ciri yang paling menonjol dalam sastra lisan dalam hal ini pantun lucu ialah polos, lugu, dan spontan. Kepolosan, keluguan, dan kespontanan inilah yang membuat pantun lucu benar-benar muncul jenakanya. Pantun lucu memang bermula dan merupakan sastra lama namun kita pun akrab dengan pantun, terlebih dengan pantun lucu yang juga tak diketahui siapa pengarang pertamanya, meski pantun lucu tersebut merupakan pelesetan dari pantun yang telah ada sebelumnya.

Seperti halnya ketika terjadi perbedaan atau perubahan Idul Fitri pada tahun 2011, pantun lucu seputar hidangan khas Idul Fitri pun “mewabah” ke tiap pelosok negeri. Bermula dari pantun:

Karena nila setitik, rusak susu sebelanga

berubah menjadi

Karena hilal setitik, rusak opor sekuali.

Pantun lucu memang kerap berhubungan dengan ejekan. Namun meski berisi dengan nada-nada ejekan, pantun lucu tidak terkesan menghina. Unsur humornya memang lebih kental sehingga meskipun bernada mengejek tidak menimbulkan rasa sakit hati. Ejekan yang kerap muncul dalam pantun lucu ialah ejekan yang bersifat fisik yakni mengejek seseorang karena fisiknya.

Misalnya pada orang yang bibirnya sumbing, dibuatlah pantun yang bernada mengejek kesumbingan bibirnya namun tetap memiliki kesan lucu. Seperti halnya pantun berikut yang mengisahkan seorang sinyo (anak turunan Indo Belanda) yang berbibir sumbing. Karena kondisi bibirnya yang sumbing, maka kurang jelas dalam berkata dan agak sulit membedakan apakah ia sedang marah atau tertawa sehingga ditulis pantun sebagai berikut:

Sungguh elok asam belimbing
Tumbuh dekat limau lungga
Ada sinyo tertawa nyaring
Walaupun marah tertawa juga

Adapun pantun lucu lainnya yang secara tidak langsung memiliki unsur didaktis, unsur mendidik. Meski pantunnya bersifat lucu, namun terdapat pemaknaan lain yang dapat diperoleh. Seperti pantun berikut ini:

Pohon padi daunnya tipis
Pohon nangka berbiji lonjong
Kalau Budi suka menangis
Kalau tertawa giginya ompong

Pada pantun lucu tersebut, tergambar kelucuan seorang anak yang menangis (sudah pasti mulutnya terbuka) tetapi terlihat pada deretan giginya terdapat yang ompong. Terlihat lubang yang membuat orang tertawa ketika melihat Budi (dalam pantun lucu tersebut) menangis. Alih-alih temannya simpati terhadap tangisannya, malah tertawa melihat keompongan giginya.

Memang pada anak kecil yang telah bersekolah, biasanya mereka malu jika giginya ompong terlebih pada deretan gigi seri (bagian depan). Keompongan gigi akan menjadi bahan ejekan teman sekelas yang membuat anak merasa malu. Pantun lucu tersebut mengisyaratkan nasihat juga yakni jadi anak janganlah suka menangis. Bisa saja tokoh Budi merupakan anak yang cengeng sehingga ketika dia menangis dan terlihat giginya ompong, dia menjadi malu dan akhirnya menghentikan tangisannya.

Adapun contoh pantun lucu lainnya yaitu yang berbicara mengenai sinyo yang hidungnya tercoreng jelaga (noda hitam yang timbul karena pembakaran lampu tempel atau obor). Sinyo yang identik dengan wajah rupawan, tersohor, dan tergolong kaum kelas atas ternyata mendapatkan aib karena hidungnya berjelaga sehingga tampak konyol seperti badut.

Ada melinjo dibuat emping
Digoreng dengan minyak kelapa
Ada sinyo tertawa nyaring
Dicoreng hidungnya dengan jelaga

Pantun lucu tak hanya dibuat untuk berbalas pantun lucu. Pantun lucu pun bisa dibuat untuk merespon pantun yang diucapkan teman, tapi dirasa kurang lucu. Kelucuan pantun yang disebutkan teman mesti dipancing dengan sebuah aksi, misalnya dengan menggelitik badan barulah akan tertawa sepeti pada pantun berikut:

Ada pocong digebukin kakak tua
Tolong kitikin aku ingin ketawa

Ada pula contoh pantun untuk membalas pantun lucu yang dirasa kurang lucu. Pantun tersebut ditulis dalam bahasa daerah Jawa Barat yakni bahasa Sunda, misalnya:

Permen muten permen stroberi
Punten teu hoyong seuri

Tolong di SHARE :
Tweet
Artikel Terkait
  • Contoh Cerita Cinta Pendek
  • Puisi, Genre Sastra Sarat Makna
  • Sekilas Tentang Karya Sastra - ANNEAHIRA.COM
  • Idiom, Ekspresi Kata Bisa Bikin Kita Idiot!
  • Kiat Sukses Menulis Opini dalam Bentuk Esai
  • Manfaat dan Contoh Resensi Buku
  • Contoh Puisi Bermajas Personifikasi
  • Wacana Persuasi dalam Pidato dan Tulisan Anda
  • Syarat, Langkah, dan Contoh Penyusunan Sinopsis Cerita
  • Nilai-nilai Budaya dalam Sastra Jawa
  • Aturan Nama-nama Jepang yang Unik dan Khas
  • Esai Sastra: Indah dan Bermanfaat
  • Mengenal Sejarah dan Aliran Sastra
  • Kritik Sastra: Dialog dalam Novel "Iblis Menggugat Tuhan"
  • Mengenal Jenis Teks Hortatory Exposition dalam Bahasa Inggris
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Komp. Buah Batu Regency Blok A2 No.9
Bandung Jawa Barat - INDONESIA