logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Agama & Kepercayaan    Islam    Ilmuwan-Ilmuwan Islam

Para Ilmuwan Islam, Sang Penemu Angka Nol


Ilustrasi para ilmuwan islam

"Satu-satu aku sayang ibu. Dua-dua juga sayang ayah. Tiga-tiga sayang adik kakak. Satu, dua, tiga sayang semuanya"

Senandung lagu anak-anak yang populer di Indonesia tersebut mengajarkan agar anak pandai berhitung. Menghitung deret angka dari angka satu hingga angka sembilan.

Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan. Apakah hanya kesembilan angka itu saja? Lalu, bagaimana caranya memunculkan angka yang lebih daripada itu? Dari mana muncul angka puluhan? Ratusan? Ribuan? Jutaan? Puluhan Juta? Hal ini berhubugan dengan para ilmuwan Islam.

Kesembilan angka tersebut tidaklah dapat berfungsi dengan maksimal bila tidak berkolaborasi dengan sebuah angka. Angka tersebut ibarat sebuah tali pengait yang menghubungkan antara satu angka dan angka yang lainnya. Angka tersebut tidaklah memiliki bentuk yang proporsional serta dalam pelafalannya pun tidak terlalu rumit.

Cukup mengucap dengan kata "nol". Ya, angka "nol" (0) adalah jawaban atas semua pertanyaan itu. Angka "nol" pula yang menjadikan deret hitung semakin luas dan semakin berfungsi sebagaimana mestinya. Lalu, dari manakah angkat tersebut berasal? Konon, kabarnya penemunya adalah salah satu dari para ilmuwan Islam terkenal.

Penemu Angka Nol

Berdasarkan sejarah, angka "nol" berakar dari sejarah matematika di Babilonia, kemudian beranjak ke Eropa dan Yunani kemudian berlanjut ke dataran Timur Tengah. Banyak yang mengira bahwa ilmuwan dari Eropa-lah yang menemukan angka "no" (0) ini.

Bukan hanya perihal angka "nol", tetapi juga ilmu kedokteran, filsafat, matematika, astronomi, dan lain sebagainya. Eropa hanya meneruskan ilmu-ilmu tersebut dari para penemunya.

Eropa yang meneruskannya dengan cara mengklaim dan mengubah ajaran-ajaran aslinya. Sehingga, orang-orang Eropa dapat mengatakan atau mengklaim bahwa keilmuan tersebut berawal dari tanah Eropa.

Kenyataannya? Tidaklah demikian. Penemu angka "nol" ini adalah seorang muslim, intelektual muslim lebih tepatnya. Ia lahir pada 780 M di Khawarizmi yang terletak di Selatan Amu Darya, Khiva (Irak), Timur Tengah.

Sebagai seorang ahli matematika, geometri, musik, dan sejarah, intelektual muslim yang memiliki nama lengkap Muhammad bin Musa Al Khawarizmi ini memiliki jasa dalam bidang matematika modern juga geometrik modern.

Pria yang menetap di Qutrubulli dan menjadi ilmuwan pada perpustakaan megah Bayt Al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan) yang didirikan pada abad IX oleh Khalifah Al Ma’mun ini menyimpan karyanya di bidang matematika dalam kitab Jama wat Tafriq dan Hisab al-Jabar wal Muqabla.

Ia menemukan angka "nol" (0) dan kemudian diadopsi oleh para ilmuwan Eropa. Selain itu, dia juga berjasa dalam ilmu ukur sudut, persamaan linear dan kuadrat, serta kalkulus integral.

Ibnu Batutah

Abu Abdullah Muhammad bin Battutah (24 Februari 1304 - 1368 atau 1377) adalah seorang pengembara Berber Maroko. Atas dorongan Sultan Maroko, Ibnu Batutah mendiktekan beberapa perjalanan pentingnya kepada seorang sarjana bernama Ibnu Juzay, yang ditemuinya ketika sedang berada di Iberia.

Meskipun mengandung beberapa kisah fiksi, Rihlah merupakan catatan perjalanan dunia terlengkap yang berasal dari abad ke-14. Hampir semua yang diketahui tentang kehidupan Ibnu Batutah datang dari dirinya sendiri.

Meskipun dia mengiklankan bahawa hal-hal yang diceritakannya adalah apa yang dia lihat atau dia alami, kita tak bisa tahu kebenaran dari cerita tersebut. Lahir di Tangier, Maroko antara tahun 1304 dan 1307.

Pada usia sekitar dua puluh tahun Ibnu Batutah berangkat haji -- ziarah ke Mekah. Setelah selesai, dia melanjutkan perjalanannya hingga melintasi 120.000 kilometer sepanjang dunia Muslim (sekitar 44 negara modern).

Perjalanannya ke Mekah melalui jalur darat, menyusuri pantai Afrika Utara hingga tiba di Kairo. Pada titik ini ia masih berada dalam wilayah Mamluk, yang relatif aman. Jalur yang umu digunakan menuju Mekah ada tiga, dan Ibnu Batutah memilih jalur yang paling jarang ditempuh.

Pengembaraan menuju sungai Nil, dilanjutkan ke arah timur melalui jalur darat menuju dermaga Laut Merah di 'Aydhad. Tetapi, ketika mendekati kota tersebut, ia dipaksa untuk kembali dengan alasan pertikaian lokal.

Kembail ke Kairo, ia menggunakan jalur kedua, ke Damaskus (yang selanjutnya dikuasai Mamluk), dengan alasan keterangan/anjuran seseorang yang ditemuinya di perjalanan pertama, bahwa ia hanya akan sampai di Mekah jika telah melalui Suriah.

Keuntungan lain ketika memakai jalur pinggiran adalah ditemuinya tempat-tempat suci sepanjang jalur tersebut -- Hebron, Yerusalem, dan Betlehem, misalnya -- dan bahwa penguasa Mamluk memberikan perhatian khusus untuk mengamankan para peziarah.

Setelah menjalani Ramadhan di Damaskus, Ibnu Batutah bergabung dengan suatu rombongan yang menempuh jarak 800 mil dari Damaskus ke Madinah, tempat dimakamkannya Muhammad.

Empat hari kemudian, dia melanjutkan perjalanannya ke Mekah. Setelah melaksanakan rangkaian ritual haji, sebagai hasil renungannya, dia kemudian memutuskan untuk melanjutkan mengembara. Tujuan selanjutnya adalah Il-Khanate (sekarang Iraq dan Iran).

Dengan cara bergabung dengan suatu rombongan, dia melintasi perbatasan menuju Mesopotamia dan mengunjungi najaf, tempat dimakamkannya khalifah keempat Ali. Dari sana, dia melanjutkan ke Basrah, lalu Isfahan, yang hanya beberapa dekade jaraknya dengan penghancuran oleh Timur. Kemudian Shiraz dan Baghdad.

Di sana ia bertemu Abu Sa'id, pemimpin terakhir Il-Khanate. Ibnu Batutah untuk sementara mengembara bersama rombongan penguasa, kemudian berbelok ke utara menuju Tabriz di Jalur Sutra. Kota ini merupakan gerbang menuju Mongol, yang merupakan pusat perdagangan penting.

Setelah perjalanan ini, Ibnu Batutah kembali ke Mekah untuk haji kedua, dan tinggal selama setahun sebelum kemudian menjalani pengembaraan kedua melalui Laut Merah dan pantai Afrika Timur.

Persinggahan pertamanya adalah Aden, dengan tujuan untuk berniaga menuju Semenanjung Arab dari sekitar Samudera Indonesia. Akan tetapi, sebelum itu, ia memutuskan untuk melakukan petualangan terakhir dan mempersiapkan suatu perjalanan sepanjang pantai Afrika.

Menghabiskan sekitar seminggu di setiap daerah tujuannya, Ibnu Batutah berkunjung ke Ethiopia, Mogadishu, Mombasa, Zanzibar, Kilwa, dan beberapa daerah lainnya.

Mengikuti perubahan arah angin, dia bersama kapal yang ditumpanginya kembali ke Arab selatan. Setelah menyelesaikan petualangannya, sebelum menetap, ia berkunjung ke Oman dan Selat Hormuz. Setelah selesai, ia berziarah ke Mekah lagi.

Setelah setahun di sana, ia memutuskan untuk mencari pekerjaan di kesultanan Delhi. Untuk keperluan bahasa, dia mencari penterjemah di Anatolia. Kemudian di bawah kendali Turki Saljuk, ia bergabung dengan sebuah rombongan menuju India. Pelayaran laut dari Damaskus mendaratkannya di Alanya di pantai selatan Turki sekarang. Dari sini ia berkelana ke Konya dan Sinope di pantai Laut Hitam.

Setelah menyeberangi Laut Hitam, ia tiba di Kaffa, di Crimea, dan memasuki tanah Golden Horde. Dari sana ia membeli kereta dan bergabung dengan rombongan Ozbeg, Khan dari Golden Horde, dalam suatu perjalanan menuju Astrakhan di Sungai Volga.

Jamaludin Al Afgani

Salah satu para ilmuwan Islam paling terkenal adalah Jamaluddin Al Afghani. Dialah yang disebut-sebut sebagai Bapak Islam Modern. Melalui perjuangan keras Jamaluddin Al Afghani dan Muhammad Abduh (plus Rasyid Ridha dengan majalah Al-Manar yang menyuarakan ide-ide dua tokoh tersebut), Islam muncul dalam perspektif baru.

Jika sebelum masa Jamaluddin Al Afghani Islam dikenal “kaku” dan “antiteknologi”, keadaan berubah di tangan beliau. Umat Islam behasil keluar dari kungkungan dogma yang sebenarnya tidak ada pada zaman Rasulullah saw.

Al Quran sendiri bertaburan ayat tentang ajakan kepada manusia untuk berpikir. Oleh karena itu, gerakan Islam modern yang tercetus melalui Jamaluddin Al Afghani dan Muhammad Abduh berusaha memperkaya Islam dengan berbagai penemuan berkaitan dengan rasionalitas yang diandalkan pengetahuan Eropa.

Publikasi Ide Brilian

Kehebatan Jamaluddin Al Afghani muncul ke dunia ketika ia berada di Paris. Bersama Muhammad Abduh (ulama Mesir), Jamaluddin menerbitkan jurnal anti penjajahan bernama Al-Urwatul Wutsqa pada 1884.

Jurnal tersebut berhasil dilanjutkan hingga edisi ke-18. Isi jurnal tersebut benar-benar mengejutkan dunia Barat dan Islam karena isinya menampilkan Islam dalam sudut pandang berbeda, lebih modern, progresif, tanpa melupakan akar-akar keislamanannya. Sayangnya, jurnal ini tidak dilanjutkan karena banyaknya larangan di dunia Barat (yang katanya mengandalkan kebebasan berekspresi).

Selanjutnya, ide Jamaluddin diteruskan oleh Muhammad Rasyid Ridha (1865–1935), murid Abduh, yang menerbitkan majalah Al-Manar di Mesir. Majalah Al-Manar menjabarkan ide-ide Jamaluddin Al Afghani dan Muhammad Abduh. Bahkan, Al-Manar berhasil mempengaruhi gerakan Islam di Asia Tenggara pada awal abad ke-20.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Hikmah Keajaiban Penciptaan Manusia Harun Yahya
  • Artikel Harun Yahya yang Menggemparkan
  • Sumbangan Ilmu Tokoh-Tokoh Ilmuwan Islam
  • Teori Evolusi Menurut Harun Yahya
  • Misteri Penemuan Kapal Nabi Nuh di Turki
  • Al-Khwarizmi, Salah Satu Tokoh Ilmuwan Islam
  • Jejak Sejarah Ilmuwan Islam di Dunia
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA