Yang Unik dari Partisipasi Masyarakat
Ilustrasi partisipasi masyarakat
Anda sedang dalam suasana pemilihan kepala daerah (Pilkada)? Atau kalau tidak, mari sejenak kita bernostalgia pada pemilihan legislatif dan presiden tahun dari tahun ke tahun yang lalu atau yang mendatang. Sebuah ajang perebutan kekuasaan nasional yang menjadi tontonan masyarakat dunia. Mengapa menjadi tontonan? Sebab Indonesia adalah sebuah negara dengan jumlah penduduk yang sangat besar, dengan lika-liku kondisi perpolitikan nasional yang terkadang cukup unik.
Apa sebenarnya yang diharapkan dari setiap penyelenggaraan kegiatan pemilihan umum pada setiap periode? Tak lain adalah partisipasi masyarakat. Mengapa orang berlomba-lomba melakukan kampanye dengan beraneka ragam cara, tak lain adalah untuk mencari simpati dan partisipasi dari masyarakat untuk memilih mereka menduduki jabatan yang diinginkan.
Dalam beberapa penyelenggaraan acara pemilihan kepala daerah, tak jarang kita temui orang-orang yang bersikap cuek alias apatis. Rata-rata orang mengaku jenuh untuk memilih wakil mereka karena kebanyakan calon wakil rakyat tersebut hanya berjanji di mulut saja pada saat kampanye. Apabila tiba saatnya mereka terpilih sebagai wakil rakyat, mereka melupakan janjinya begitu saja. Masih untung jika hanya sekadar lupa, yang lebih parah adalah menghabisi uang rakyat.
Apa yang Mereka Pikirkan untuk Berpartisipasi?
Faktanya, terkadang partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan Pemilu/Pilkada tidaklah berlandaskan pada kecerdasan. Landasannya lebih kepada unsur-unsur sementara yang hanya bermanfaat untuk kepentingan sesaat. Hal ini tentu saja salah satunya dipengaruhi oleh kondisi tingkat intelektualitas mayoritas masyarakat kita yang masih rendah.
Nah, inilah hal-hal yang bersifat sementara yang terkadang menjadi landasan orang untuk memilih para wakilnya.
1. Uang Sudah menjadi rahasia umum pada setiap ajang pencalonan, faktor uang akan menentukan kemenangan si calon tersebut. Istilah serangan fajar sudah menjadi hal lumrah yang sulit untuk diungkap ke publik. Sebab siapa orangnya yang tak butuh uang? Pernyataan yang sering muncul, “Berapa kau bisa membayar suaraku?”
Akan tetapi ingat, hal ini kebanyakan hanya terjadi pada kalangan yang tidak mendukung semangat perubahan bangsa dan orang-orang dengan kualitas pendidikan rendah. Hingga mudah sekali mereka untuk dibodoh-bodohi, hanya dengan iming-iming rupiah.
2. “Lu bisa ngaspal jalan kampung gue? Gue pilih lu.” Sebenarnya alasan ini masih agak cerdas ketimbang alasan pertama tadi. Paling tidak orang-orang seperti ini sudah tahu apa guna wakil rakyat itu. Wakil rakyat bertugas mengaspirasikan kehendak dan kebutuhan rakyatnya. Namun sayangnya, terkadang orang-orang yang hanya berharap dengan hal seperti ini akan lebih banyak kecewa.
Misalnya, si calon yang berjanji akan mengaspal jalan tadi ternyata terpilih. Namun, ia kemudian tidak ditempatkan pada bagian komisi yang menangani urusan jalan. Hal ini akan menjadin alasan empuk si wakil rakyat tadi untuk mengelak dari janjinya. Kalau sudah begini, sungguh kasihan nasib rakyat yang telah menjadi korban janji.
3. Asyik juga punya presiden cakep Nah, ternyata selain uang, penampilan seseorang juga menjadi salah satu faktor partisipasi masyarakat untuk memilih calon wakilnya. Banyak para calon wakil rakyat yang mencalonkan diri menjadi wakil rakyat namun pada kenyataannya ia sendiri belum dikenal oleh rakyatnya. Tahukah Anda apa yang akan dilakukan oleh para kaum wanita jika mengahadapi hal seperti ini. Back to face tentunya.
Orang cantik dan tampan memang diminati banyak kalangan. Meskipun kadang kita tidak tahu bagaimana kualitas kerja dari orang yang berpenampilan menarik tersebut. Akan tetapi inilah kondisi nyata kita. Hal ini dapat terjadi sebetulnya karena dipengaruhi oleh calon-calon wakil kita yang hanya muncul ke publik pada saat musim pemilihan saja. Hari-hari sebelumnya mereka entah berada di mana.
Pengertian Partisipasi
Istilah partisipasi merupakan bagian dari kebersamaan dalam suatu ikatan yang jelas satu sama lain, misalnya dari Keith Davis yang mendefinisikan partisipasi sebagai berikut: “Partisipasi dapat didefinisikan sebagai keterlibatan mental atau pikiran dan emosi atau perasaan seseorang didalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan serta tanggung jawab terhadap usaha yang bersangkutan.” (Sastropoetro, 1988).
Definisi tersebut dapat dideskripsikan, bahwa partisipasi tidak hanya melibatkan aspek perasaan dan pikiran serta sumbangan dan melakukan sesuatu dengan rasa senang dan tidak merasa terpaksa sesuai dengan maksud dan tujuan penyampai pesan. Adapun yang dimaksud dengan sumbangan disini dapat meliputi bermacam bentuk dan jenis sesuai dengan partisipasi yang diharapkan.
Yang dimaksud dengan partisipasi politik adalah “kegiatan warganegara preman (private citizen) yang bertujuan mempengaruhi pengambilan keputusan oleh pemerintah.”(Hutington-Nelson,1994:6). Definisi lain partisipasi politik “semua kegiatan yang mempunyai tujuan-tujuan tertentu, tak peduli apakah itu legal atau tidak legal menurut norma-norma yang berlaku di dalam sistem politik yang bersangkutan.” (Hutington-Nelson,1994:8)
Ragam Partisipasi Masyarakat
Misalnya partisipasi Masyarakat di dalam kegiatan politik yang dapat terwujud dalam berbagai jenis, karena Kegiatan pemilihan Mencakup suara, akan tetapi sumbangan-sumbangan untuk kampanye, bekerja dalam suatu pemilihan, mencari dukungan dibagi seorang calon, atau setiap tindakan yang bertujuan mempengaruhi hasil proses pemilihan.
- Lobbying Mencakup upaya-upaya perorangan atau kelompok untuk menghubungi pejabat-pejabat pemerintah dan pemimpin-pemimpin politik dengan maksud mempengaruhi keputusan-keputusan mereka mengenai persoalan-persoalan yang menyangkut sejumlah besar orang.
- Kegiatan organisasi menyangkut partisipasi sebagai anggota atau pejabat dalam suatu organisasi yang tujuannya yang utama dan eksplisit adalah mempengaruhi pengambilan keputusan pemerintahan. Organisasi demikian dapat memusatkan usaha-usahanya kepada kepentingan-kepentingan yang sangat khusus atau dapat mengarahkan perhatiannya kepada persoalan-persoalan umum yang beraneka ragam.
- Mencari koneksi (contacting) Merupakan tindakan perorangan yang ditujukan terhadap pejabat-pejabat pemerintah dan biasanya dengan maksud memperoleh manfaat bagi hanya satu orang atau segelintir orang.
- Tindakan Kekerasan (Violence) Juga dapat merupakan satu bentuk partisipasi politik, dan untuk keperluan analisa ada manfaatnya untuk mendefinisikannya sebagai satu kategori tersendiri: artinya, sebagai upaya untuk mempengaruhi pengembilan keputusan pemerintah dengan jalan menimbulkan kerugian fisik terhadap orang-orang atau harta benda.
Elemen Partisipasi Masyarakat
Di dalam kondisi masyarakat yang berlainan, partisipasi politik dapat berakar dalam landasan-landasan golongan yang berlainan. Dalam hal ini Huntington dan Nelson menjelaskan bahwa untuk menganalisa partisipasi dari segi tipe-tipe yang berlainan digunakan penyelenggaraan partisipasi yang biasanya merupakan landasan-landasan yang lazim, yaitu:
- Kelas Perorangan-perorangan dengan status sosial, pendapatan pekerjaan yang serupa.
- Kelompok/ komunal Perorangan-perorangan dari ras, agama, bahasa atau etnisitas yang sama.
- Lingkungan (Neighborhood) Perorangan-perorangan yang bertempat tinggal berdekatan satu sama lain.
- Partai Perorangan-perorangan yang mengidentifikasikan diri dengan organisasi formal yang sama yang berusaha untuk meraih atau mempertahankan kontrol atas bidang-bidang eksekutif dan legislatif pemerintahan.
- Golongan (faction) Perorangan-perorangan yang dipersatukan oleh interaksi yang terus-menerus atau intens satu sama lain, dan salah satu manifestasinya adalah pengelompokkan patron-klien, artinya satu golongan yang melibatkan pertukaran manfaat-manfaat secara timbal balik diantara perorangan-perorangan yang mempunyai sistem status, kekayaan dan pengaruh yang tidak sederajat. (Huntington-Nelson,1994:21)
Sifat dan Faktor yang mempengaruhi Partisipasi
Sifat dan ciri partisipasi masyarakat harus suka rela serta membicarakan berbagai masalah dengan jelas dan objektif. Masyarakat harus diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam pentransformasian berbagai informasi komunikasi. Sedangkan faktor yang mempengaruhi partisipasi, yaitu:
- Pendidikan, kemampuan membaca dan menulis, kemiskinan, kedudukan sosial dan kepercayaan terhadap diri sendiri.
- Penginterpretasian yang dangkal terhadap diri sendiri.
- Kecenderungan menyalahartikan motivasi, tujuan dan kepentingan bersama yang biasanya mengarah pada timbulnya persepsi yang salah terhadap keinginan dan motivasi.

