Cerita di Balik Patung Suku Asmat

Suku Asmat adalah salah satu suku di Indonesia yang punya keunikan tersendiri. Terutama dalam hal seni ukir yang terwujud dalam bentuk sebuah patung. Ukiran yang mereka buat sangat luar biasa indahnya.
Desainnya mengandung makna tertentu yang berhubungan dengan kepercayaan yang mereka anut. Patung Suku Asmat ini selalu menggambarkan kehidupan mereka saat ini dengan kehidupan alam lain yang merupakan tempat para arwah leluhur bersemayam.
Banyak orang dari luar Pulau Papua yang menyukai dan mengoleksi patung suku Asmat untuk dijadikan hiasan rumah. Alasannya adalah karena patung ini termasuk salah satu benda budaya yang punya keistimewaan arsitektur dan merupakan maha karya dari pemahat tradisional.
Biasanya para kolektor meletakan patung suku Asmat sebagai interior di dalam ruangan rumah, terutama di ruang tempat keluarga berkumpul atau tempat lain yang sering digunakan untuk menerima tamu. Selain itu ada pula yang menempatkan di luar ruang untuk menambah keindahan taman. Akan menjadi kebahagiaan sendiri bagi pemiliknya bila ada orang lain yang memuji dan mengagumi patung miliknya.
Pembuatan Patung Suku Asmat
Suku Asmat punya sebuah adat untuk selalu memberi penghormatan kepada para orang tua dan leluhurnya yang telah meninggal dan hidup di alam gaib. Bentuk dari penghormatan ini diwujudkan dengan cara membuat sebuah patung sebagai persembahan dan media komunikasi dengan mereka.
Jadi patung ini menggambarkan kehidupan alam lain di dunia. Salah satu ciri utamanya adalah selalu berbentuk manusia yang diberi hiasan dengan desain yang diulang-ulang. Namun meski hanya sekedar diulang-ulang jangan ditanya tentang nilai seni dari patung ini. Sangat tinggi sekali.
Bahan yang digunakan untuk membuat patung suku Asmat selalu mengambil kayu dari pohon bakau yang usianya sudah tua. Karena bagi suku Asmat, hanya kayu jenis inilah yang kwalitasnya paling baik untuk dibuat patung. Selain itu juga mudah di cari di hutan-hutan maupun di pinggiran pantai.
Meski punya nilai seni yang tinggi, namun ternyata peralatan yang digunakan untuk membuat patung ini sangat sederhana. Dan di sinilah letak kelebihan yang dimiliki oleh orang-orang suku Asmat. Hanya dengan memanfaatkan kulit siput, kapak dari batu, gigi hewan yang tajam serta tulang binatang yang dibuat menjadi pisau, mereka bisa menghasilkan sebuah karya yang banyak dikagumi orang.
Apalagi ketika mengetahui bila untuk membuat ukiran yang polanya kecil-kecil dan rumit hanya memakai paku yang dipukul-pukul hingga bentuknya menjadi pipih. Kita pasti akan semakin heran bila bisa melihatnya secara langsung proses pembuatan patung ini di Papua.
Pemilihan Warna dan Artinya
Sedangkan warna yang digunakan untuk memoles patung juga hanya mengambil tiga jenis saja, yaitu merah, hitam dan putih. Masing-masing dari warna ini bagi suku Asmat punya makna tersendiri.
Merah adalah simbol perang dan balas dendam. Hitam mempunyai arti kepala manusia. Sedangkan putih mengandung maksud alam kehidupan setelah manusia mati.
Jadi maksud dari penyatuan warna ini adalah bila manusia itu selalu dihinggapi oleh nafsu untuk melakukan serangan (perang) dan selalu punya perasaan dendam yang terpusat di kepala (otak atau pikiran). Kemudian jika telah meninggal pasti akan menjalani kehidupan lagi namun di alam yang berbeda.






