logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Sosial    Artikel Umum Sosial    Pelacur

Pelacur: Fenomena Sosial yang Lahir karena Permasalahan Ekonomi

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Indonesia merupakan sebuah negara yang sebagian besar masyarakatnya masih menjunjung nilai-nilai ketimuran. Hal tabu di negara ini masih cukup banyak. Adat istiadat serta peraturan kebudayaan dan agama yang tidak tertulis juga masih sering ditemui. Masyarakat Indonesia seperti berusaha untuk melestarikan nilai-nilai kebudayaan serta adat-adat baik tersebut.

Harus diakui dalam kehidupan sehari-hari, pelacuran adalah salah satu hal yag dianggap sebagai sampah masyarakat atau penyakit masyarakat. Terlebih jika kita membicarakan tentang pelaku bisnis birahi tersebut. Pelacur selaku tokoh dibalik berjalannya bisnis “gelap” sangat tidak bisa lepas dari pencitraan buruk masyarakat.

Keidentikan pelacur dengan citra buruk tidak lain karena nilai-nilai baik di dalam kehidupan bermasyarakat yang mereka langgar. Pelacur dinilai telah melanggar norma agama, adat, dan batasan ketimuran yang menjadi identitas negara Indonesia. Hal-hal dan peraturan-peraturan mendasar itulah yang menjadi alasan buruknya citra pelacur di masyarakat.

Pelacur juga dianggap sebagai pembawa penyakit seksual di lingkungan masyarakat. Beban sosial para pelacur bertambah ketika mereka juga dianggap sebagai wanita perebut dan perusak rumah tangga, dan penghancur martabat para wanita.Pelacur selalu identik dengan satu jenis kelamin, yaitu wanita. Keadaan yang sangat tidak adil, tapi memang kenyataan yang terjadi adalah demikian.

Pelacuran di Indonesia

Pelacuran adalah bisnis yang tidak pernah sepi peminat. Bisnis ini adalah fenomena sosial yang akan terus ada dan bergulir mengikuti arus zaman. Permasalahan ekonomi merupakan alasan mendasar dari bisnis apapun. Perut lapar dan semua yang tidak gratis menjadi alasan prioritas mengapa bisnis ini masih banyak digeluti.

Pelacuran di Indonesia bukan hal yang baru. Pelacuran sudah ada sejak zaman penjajahan dulu. Sejak Jakarta masih bernama Batavia. Saat pelabuhan Batavia merupakan pelabuhan dagang internasional. Maraknya transaksi jual beli, kegiatan ekspor-impor yang dilakukan oleh pihak pendatang secara otomatis ikut serta meramaikan pelabuhan tersebut.

Banyaknya pihak-pihak yang datang dari berbagai negara tersebut memicu hadirnya bisnis prostitusi di Indonesia. Kebutuhan birahi para pelaku bisnis jual beli mau tidak mau harus dipenuhi, dan kesempatan itulah yang digunakan oleh para pelaku bisnis prostitusi untuk mulai membuka usahanya.

Bisnis prostitusi di Jakarta berlanjut hingga zaman penjajahan Belanda. Hal ini disebabkan karena jumlah wanita Eropa dan Cina lebih sedikit dibanding dengan prianya. Sebuah alasan mendasar yang manusiawi.

Saat itu prostitusi di Indonesia khususnya yang terjadi di Jakarta berpusat di daerah Jakarta Pusat tepatnya di kawasan Macao Po. Dari kawasan ini, prostitusi di Jakarta terus berkembang dan menyebar di daerah-daerah lain. Tempat-tempat pelacuran bersaing dan saling menggantikan, terus berkembang tidak pernah sepi.

Selain karena jumlah wanita yang lebih sedikit daripada pria, masalah kemiskinan juga menjadi pemikat banyaknya wanita untuk terjun ke dunia prostitusi. Kemiskinan merupakan keadaan yang tidak bisa dipisahkan dari keadaan masyarakat Indonesia pada masa penjajahan, bahkan hingga kini. Alasan kemiskinan juga menjadi alasan abadi mengapa bisnis prostitusi masih marak hingga kini.

Para pelacur seolah merasa aman jika berada di balik alasan tersebut. Seolah melupakan bahwa uang bisa dicari dengan cara lain yang lebih halal dan berderajat lebih tinggi. Kemudahan melakukan bisnis ini juga menjadi alasan berikutnya mengapa bisnis prostitusi banyak diminati.

Kasarnya, para wanita itu hanya cukup bermodalkan tubuh seksi, dandanan menarik, dan rasa malu yang harus sudah lebih dulu dikikis habis.

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Bercengkerama dengan Alam di Kampung
  • Peran Masyarakat dalam Pendidikan - Kunci Keberhasilan Dunia Pendidikan
  • Menggalang Semangat Cinta Indonesiaku
  • Meningkatkan Kegiatan Ekonomi Masyarakat
  • Pentingnya Perencanaan Partisipatif
  • Arti Masyarakat Polisi atau Polisi Masyarakat?
  • Bentuk bentuk Hubungan Sosial
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA