Pelajaran Bahasa
Dalam pelajaran Bahasa Indonesia dikenal suatu istilah yang dinamakan satuan bahasa. Satuan bahasa dalam bahasa Indonesia mulai dari yang terkecil hingga yang terbesar dimulai dari fonem, morfem, frasa, klausa, kalimat, paragraf, hingga wacana. Bagaimana gambaran masing-masing satuan bahasa tersebut? Temukan pembahasannya dalam artikel berikut.
Fonem
Secara sederhana fonem dapat didefinisikan sebagai bunyi yang memiliki potensi untuk membedakan makna kata. Cara yang paling mudah mengetahui keberadaan fonem dalam sebuah sistem bahasa adalah dengan menghadirkan pasangan minimal. Pasangan minimal terdiri atas dua buah kata yang memiliki satu bunyi berbeda. Misal, kita hadirkan kata “kaki“ dan “kali“. Dalam pasangan minimal tersebut terdapat dua bunyi berbeda, yakni [k] dan [l]. Dalam bahasa Indonesia, dua bunyi bahasa yang berbeda tersebut dinamakan fonem.
Morfem
Satuan gramatikan terkecil yang memiliki peranan sebagai pembentuk kata dinamakan morfem. Sebagai satuan gramatikal terkecil, morfem memiliki kestabilan makna dan tidak dapat dibagi lagi menjadi bagian bermakna yang lebih kecil. Dalam bahasa Indonesia, morfem juga bisa muncul dalam bentuk afiksasi atau imbuhan.
Dalam bahasa Indonesia dikenal dua jenis morfem, yakni morfem bebas dan morfem terikat. Disebut morfem bebas karena morfem tersebut dapat berdiri sendiri. Artinya, morfem tersebut sudah memiliki makna tanpa disandingkan dengan morfem lainnya. Sedangkan morfem terikat adalah kebalikannya. Morfem terikat tidak akan memiliki makna jika tidak disandingkan dengan morfem lainnya.
Contoh morfem bebas, di antaranya, mandi, lari, makan, dan sebagainya. Sedangkan contoh morfem terikat adalah awalan me(N), awalan ber- akhiran –kan, akhiran –i, dan sebagainya. Anda dapat membedakan mana morfem bebas dan mana yang terikat dengan melihat kandungan makna yang terdapat dari contoh-contoh tadi.
Selain dua jenis morfem tadi, dikenal pula adanya morfem dasar, yakni morfem yang sekaligus menjadi dasar pembentukan kata yang terdiri atas lebih dari satu morfem atau kata polimorfemik. Contohnya memandikan, dirumahkan, memakan dan sebagainya.
Kata
Satuan bahasa yang selanjutnya adalah kata. Banyak ahli dan kalangan bahasa yang mnemiliki definisi tersendiri tentang kata. Berikut adalah beberapa di antaranya.
Kamus Linguistik memberi definisi pada kata sebagai satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri, terjadi dari morfem tunggal atau gabungan morfem; satuan terkecil dari leksem yang telah mengalami proses morfologis; morfem atau kombinasi morfem yang oleh ahli bahasa dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas (Kridalaksana, 2008: 110). Sedangkan Wijaya dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa kata merupakan bentuk bebas yang terkecil yang tidak dapat dibagi-bagi menjadi bentuk bebas yang lebih kecil lagi.
Sementara itu, Gorys Keraf memberikan penjelasan bahwa pengertian kata tidak bisa dipisahkan dengan pengertian arti. Dalam hal ini arti dimaksudkan sebagai lambang bunyi ujaran dengan hal yang diwakilinya. Dengan demikian, kata didefinisikan sebagai lambang bunyi ujaran yang berkenaan dengan hal atau peristiwa. Sebuah benda atau peristiwa, sejatinya memiliki lambang bunyi ujaran berupa kata yang bermakna, sama seperti manusia yang memiliki nama.
Ada banyak contoh kata yang terdapat dalam Bahasa Indonesia, di antaranya, tidur, mandi, makan, meja, kantor, kunci, rumah, pasar, pagi, siang, dan sebagainya.
Frasa
Secara sederhana, frasa dapat didefinisikan sebagai gabungan kata. Namun, tidak semua gabungan kata dapat disebut sebagai frasa. Gabungan kata yang bisa disebut sebagai frasa tidak boleh melebihi batas fungsi, seperti subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Jika gabungan kata tersebut memiliki posisi di salah satu fungsi kalimat, maka itulah yang dinamakan frasa.
Menurut Gorys Keraf, frasa merupakan gabungan dua kata atau lebih yang masing-masing katanya tetap mempertahankan makna dasarnya masing-masing. Dalam frasa, setiap kata pembentuknya tidak berfungsi sebagai subjek dan predikat dalam konstruksi itu. Dengan begitu, frasa memiliki perbedaan besar dengan kata majemuk atau klausa yang notebene sama-sama berupa gabungan kata.
Mungkin di antara pembaca sudah banyak yang mengetahui bahwa kata majemuk pun terbentuk dari gabungan kata. Namun, berbeda dengan frasa, kata gabungan dalam kata majemuk selalu memiliki arti baru. Misal, kambing hitam. Dalam frasa, kambing hitam adalah kambing yang berwarna hitam, namun dalam kata majemuk, kambing hitam adalah orang atau sesuatu yang disalahkan atas sebuah peristiwa.
Dengan demikian dapat disimpulkan, meskipun terdiri atas gabungan kata, dalam frasa hanya memiliki satu unsur inti, sedangkan yang lainnya adalah unsur penjelas. Mengenai bahasa unsur inti dan penjelas dalam frasa, akan lebih detail dipelajari dalam jenis-jenis frasa yang meliputi frasa endosentris dan frasa eksosentris. Adapun salah satu contoh frasa adalah kamar tidur, ruangan saya, berangkat sekolah, dan lain sebagainya.
Klausa
Pernah mendengar klausa? Klausa merupakan satuan bahasa selanjutnya setelah frasa. Klausa memiliki sifat yang predikatif, artinya melibatkan unsur predikat sebagai inti. Dengan begitu, tidaklah mengherankan jika klausa itu sekurang-kurangnya harus terdiri atas dua kata yang memiliki hubungan fungsi subjek-predikat, namun bisa diperluas dengan fungsi lain seperti objek, pelengkap, maupun keterangan.
Banyak kalangan yang merasa kesulitan dalam membedakan klausa dengan kalimat. Padahal, cara membedakannya cenderung mudah. Meski terlihat hampir mirip dengan kalimat, pada klausa itu tidak terdapat intonasi final seperti halnya pada kalimat. Meski begitu, hubungan klausa dan kalimat ini sangat erat, karena dalam kalimat tunggal biasanya terdiri atas satu klausa sedangkan pada kalimat majemuk selalu berisi dua atu lebih klausa.
Kamus linguistik kemudian memberikan definisi klausa sebagai kelompok kata yang yang sekurang-kurangnya memiliki subjek dan predikat dan berpotensi sebagai kalimat. Contoh klausa: ayah berangkat; ibu memasak; sebelum adik mandi; dan sebagainya.
Kalimat
Sebagaimana klausa, kalimat pun memiliki definisi yang hamper sama. Hanya intonasi final yang membedakan kalimat dengan klausa. Dari pernyataan tersebut, Kridalaksana membuat semacam kesimpulan mengenai definisi kalimat, yaitu satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual maupun potensial terdiri dari klausa.
Contoh kalimat:
- Mas Baso!
- Wanita cantik itu pacarku.
- Anak kecil itu memakan donat dengan lahapnya.
Paragraf
Berdasarkan definisi dari kamus linguistic, paragraf merupakan bagian dari wacana yang mengungkapkan pikiran atau hal tertentu yang lengkap, tetapi masih berkaitan dengan isi seluruh wacana. Paragraf terdiri atas beberapa kalimat yang memiliki satu ide pokok serta merupakan bagian dari sebuah karangan utuh yang mendukung topik pembicaraan karangan tersebut.
Paragraf selalu memiliki satu kalimat utama dan beberapa kalimat penjelas. Kalimat yang digunakan dalam paragraph harus memiliki hubungan timbale balik dan tidak boleh saling bertentangan. Selain itu, kalimat yang menyusun sebuah paragraf harus merupakan kalimat yang utuh dan memiliki kepaduan.
Berikut adalah salah satu contoh paragraf.
Sepertiga malam merupakan waktu yang sangat istimewa. Selain karena suasana yang sangat mendukung: hening, tenang, dan penuh kekhusyukan, juga merupakan saat ketika rahmat Allah turun ke bumi. Memanfaatkan sepertiga malam yang terakhir adalah kebiasaan orang-orang beriman untuk bermunajat kepada Allah. Namun, kebanyakan manusia seringkali abai dengan hal ini. Selain karena rasa kantuk dan godaan yang selalu datang menyapa. Sepertiga malam yang terakhir akan sulit didapatkan oleh orang-orang yang bermaksiat di siang hari. Sayang sekali jika kita melewatkan momen istimewa yang datang setiap hari ini.
Wacana
Kamus linguistik memberikan definisi wacana sebagai satuan kebahasaan terlengkap; dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh, paragraf, kalimat atau kata yang membawa amanat yang lengkap. Wacana merupakan sebuah konstruksi yang memiliki sifat utuh dan padu. Wacana merupakan satuan bahasa di atas tataran kalimat yang digunakan untuk berkomunikasi dalam konteks sosial.

