Pelatihan Karyawan Sebagai Peningkatan Kualitas Kerja
Ilustrasi pelatihan karyawan
Hasil kerja yang optimal dipengaruhi oleh sumber daya manusia berkualitas. Setiap perusahaan menginginkan sebuah hasil kerja yang terbaik sebagai salah satu alat untuk membangun kekuatan perusahaan. Yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut adalah mencetak SDM berkualitas melalui pelatihan karyawan atau training.
Masa training biasanya dilakukan dengan tujuan sebagai ajang pengenalan perusahaan terhadap karyawan. Selain itu, training bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kualitas kerja karyawan bersangkutan. Dalam masa training, karyawan diajari dan diperkenalkan terhadap hal-hal yang berkenaan dengan deskripsi kerjanya.
Pentingnya Kinerja Karyawan
Di dalam psikologi, ada teori Skinner. Teori Skinner disebut juga teori tingkah laku radikal (radical behaviorism). Teori ini mengenai stimulus-respon, yang mempercayai bahwa setiap tingkah laku itu dapat diamati, dan didasari oleh respon positif atau negatif yang diterima.
Respon positif berarti akan mendapatkan hadiah, sebaliknya, respon negatif menandakan akan mendapatkan hukuman. Skinner yakin bahwa manusia akan berusaha untuk mendapatkan respon positif atau hadiah dari apa yang dilakukannya.
Baik Skinner maupun Watson mempunyai pandangan yang sama, bahwa setiap tingkah laku manusia dapat diamati dengan menggunakan metode ilmiah. Tapi Watson tidak setuju kalau inner feeling (perasaan) dapat diamati. Watson yakin bahwa perasaan dapat dipelajari sebagai mana mempelajari ketrampilan-ketrampilan lainnya.
Teori behaviorism atau tingkah laku ini sangat berpengaruh. Sehingga banyak ahli lain, seperti Edward C. Tolman, dan Clark L. Hull turut memformulasikan teori-teori mereka sendiri yang didapat dari hasil pengamatan di laboratorium, bukan melalui observasi introspeksi. Teori ini juga melahirkan banyak teori belajar yang menyangkut metode pembelajaran pada manusia dan hewan.
Taylor mengungkapkan bahwa sebuah pekerjaan dapat didesain, sehingga dapat menghasilkan produktivitas yang diinginkan. Taylor juga mengungkapkan bahwa dengan melakukan pembagian kerja atau peran yang ada dalam pekerjaan, produktivitas suatu pekerjaan akan semakin baik. Oleh karena itu, seorang perancang atau manajer perlu mendesain suatu pekerjaan agar hasil maksimal yang diharapkan dapat tercapai.
Buah karya yang dihasilkan oleh Taylor menjadikan seorang pekerja seperti robot. Pekerja diminta untuk dapat produktif melalui desain pekerjaan yang telah dirancang sebelumnya. Pekerja akan diklasifikasikan berdasarkan jenis pekerjaan tertentu.
Misalnya, seorang pekerja bisa saja seumur hidup pekerjaannya hanyalah menjadi seorang pengebor. Ia diberikan target yang harus dicapai bagaimana pun caranya. Hal inilah yang terkadang membuat seorang pekerja tidak diperlakukan layaknya seorang manusia biasa.
Pada 1927-1932 dilakukan penelitian di sebuah perusahaan elektronik, Western Electric Company, Hawthorne Plant, di Cicero, Illinois. Penelitian tersebut dilakukan oleh tim yang dipimpin langsung Prof. Elton Mayo dan rekannya F.J. Roethlisberger dan William J. Dickson dari Harvard Business School.
Dalam penelitian tersebut terkuak bahwa sesungguhnya pekerja membutuhkan interaksi sosial dan mempunyai kebutuhan akan motivasi ketika sedang bekerja. Mayo dan timnya mengungkapkan sisi lain dari sebuah pekerjaan.
Aspek-aspek seperti terbentuk norma atau aturan dalam sebuah kelompok kerja, adanya motivasi, kebutuhan pekerja untuk bersosialisasi atau berinteraksi sesama pekerja terungkap dalam penelitian ini. Kesimpulan umum yang bisa diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Bakat atau potensi kecerdasan seorang pekerja bukan merupakan perkiraan yang baik dari performansi seorang pekerja.
Bakat atau potensi memengaruhi gerak mental atau fisik yang dimiliki oleh seorang pekerja. Namun demikian, kedua hal tersebut tidak memengaruhi secara signifikan terhadap performansi kerja jika memang faktor-faktor pada sistem sosial yang ada tidak mendukung adanya performansi yang baik.
2. Organisasi yang bersifat nonformal yang terjalin di dalam kelompok pekerja memengaruhi produktivitas kerja.
Hubungan antarpekerja ternyata dapat mempengaruhi produktivitas. Oleh karena itu, seorang manajer harus mendisain pekerjaan sedemikian sehingga interaksi sosial tidak dibatasi. Seorang supervisor yang dapat membina hubungan baik dengan bawahannya dapat secara langsung memengaruhi produktivitas.
3. Norma atau aturan yang ada dalam kelompok kerja memengaruhi produktivitas.
Kelompok kerja secara alamiah akan membuat aturan penting yang terjalin dalam kelompok internal mereka. Oleh karena itu, manajemen perlu mengenali aturan atau norma yang terjalin dalam kelompok tersebut.
4. Tempat kerja merupakan sebuah sosiosistem atau sistem sosial.
Kelompok kerja tersebut membentuk sebuah sistem sosial. Sebagai sebuah sistem, kelompok kerja mempunyai bagian-bagian yang saling berkegantungan.
Karena sifatnya yang relatif baru pada zaman itu, penelitian ini memberikan pemahaman baru mengenai sisi lain dari sebuah pekerjaan. Penelitian ini selanjutnya disebut juga dengan Hawthorne Effect.
Peningkatan Kualitas Individu Melalui Pelatihan Karyawan
Kemampuan intelektual memang merupakan aset penting untuk mencapai sebuah misi atau tujuan tertentu, dalam hal ini perusahaan. Namun, kemampuan intelektual saja tidak cukup karena setiap manusia memerlukan interaksi dengan lingkungan baru yang ditempatinya. Dengan kata lain, learning by doing akan lebih efektif dari sekadar berteori.
Dengan melakukan serangkaian tahap pelatihan, seorang karyawan akan memiliki tingkat pemahaman yang lebih nyata. Dengan pemahaman tersebut, ia kan mampu bekerja optimal. Ia akan mampu menciptakan sistem kerja strategis, dapat bekerja sama secara solid, memiliki semangat kerja tinggi, dan dapat memberikan hasil maksimal terhadap perusahaan.
Pelatihan biasanya diisi dengan simulasi-simulasi tertentu untuk meningkatkan daya berpikir karyawan terhadap situasi atau masalah yang tengah dihadapi. Proses simulasi biasanya melibatkan banyak orang. Dengan demikian, hasil yang dapat diperoleh dari simulasi adalah terbentuknya rasa kebersamaan, keterbukaan, serta toleransi antarindividu yang terlibat.
Pelatihan Karyawan di Luar Ruangan
Pelatihan karyawan dapat dilakukan di dalam ruangan maupun di luar ruangan. Meskipun demikian, tujuan utama pelatihan ini tetap sama, yaitu mengembangkan kepribadian. Program pelatihan ini menerapkan usaha terarah sebagai sarana belajar aktif untuk mengokohkan perubahan organisasi yang dilakukan melalui pembelajaran individu.
Pada pelatihan luar ruangan, peserta akan dibekali pengetahuan dan berbagai strategi yang bermanfaat, terutama dalam beberapa hal berikut ini.
- Dengan modal kemampuan yang telah dimilikinya, peserta pelatihan diharapkan mampu menggali dan meningkatkan potensi lain dalam dirinya yang belum tergali dan disadari.
- Proses mempelajari berbagai nilai itu dilaksanakan melalui cara experiential learning. Dengan demikian, peserta akan lebih memahami nilai-nilai yang diajarkan.
- Menaikkan tingkat kepemimpinan peserta pelatihan. Misalnya, dalam hal komunikasi internal maupun eksternal secara efektif, membangun kerja sama tim, dan memberikan cara mengambil keputusan secara tepat.
- Meningkatkan pola pikir yang semakin “liar” untuk memahami dan menyelesaikan setiap masalah.
- Memberikan sebuah pengalaman menyenangkan sekaligus menantang sebagai tahap pembelajaran untuk menghadapi berbagai pekerjaan sehari-hari.
Pelatihan ini perlu diperhatikan tentang keselamatan kerja karyawan tersebut. Bagi karyawan yang bertugas dalam sebuah gedung perkantoran, duduk di kursi dan memiliki meja kerja yang nyaman dalam sebuah ruangan ber-AC, akan memiliki risiko kecelakaan kerja yang begitu minim dibanding mereka yang bekerja di lapangan.
Bagi para karyawan kantoran, faktor yang rawan terjadi dan menjadi kasus kecelakaan kerja hanyalah bencana alam, seperti gempa dan robohnya gedung perkantoran tersebut. Namun, itupun begitu minim kemungkinannya. Perbandingannya begitu kecil dibanding mereka yang bekerja di luar gedung perkantoran.
Dunia kerja sekarang ini memang sangat keras dan semua orang bersaing untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa memperhatikan dan memedulikan keselamatan kerja karyawan.
Selain peralatan atau fasilitas keamanan yang kurang menjamin, pengetahuan mengenai hukum keselamatan para karyawan juga jarang dipahami oleh para pegawai.
Untuk itu, pengetahuan mengenai pentingnya surat untuk menjamin keselamatan diri dalam bekerja, seperti asuransi kerja, itu harus disosialisasikan kepada para karyawan atau para pekerja.
Setiap perusahaan harus ada asuransi kerjanya untuk menjamin keselamatan para karyawannya dalam bekerja. Apabila perusahaan tersebut tidak mempunyai asuransi kerja untuk para karyawannya, maka hal tersebut harus dipertanyakan. Apakah perusahaan tersebut sesuai dengan hukum yang berlaku, legal atau ilegal.
Untuk itu, setelah melewati masa pelatihan atau training, karyawan diharapkan mampu memaksimalkan kinerja terbaiknya guna meningkatkan citra dan keuntungan perusahaan. Pelatihan karyawan dapat memberikan efek positif bagi perkembangan mental karyawan. Pelatihan juga merupakan tahap pengenalan dunia kerja bagi karyawan.
Jadi, pelatihan karyawan sangat diperlukan untuk membangun diri dan kemampuan mencerna masalah kerja dengan sebaik-baiknya. Jadi, jangan pernah takut ataupun memandang sebelah mata kata training karena akan berpengaruh pada kinerja Anda kemudian hari. Semoga bermanfaat.

