Pelatihan SDM: Manusia Pun Harus di-Update
Dunia kerja yang sehat adalah dunia yang dinamis. Ketika dunia kerja statis, maka ia akan membusuk, kalah bersaing, dan segera ditinggalkan pangsa pasar. Statisnya dunia kerja, bisa disebabkan oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang tak berkembang atau tak mau mengembangkan diri. Dibiarkan?
Tentu bukan itu jawabannya. Harus ada refreshing untuk mengembalikan gairah kerja demi mempertahankan perusahaan di tengah persaingan yang semakin ketat melalui pelatihan berkesinambungan.
Pelatihan
Hampir di setiap perusahaan diadakan pelatihan terutama bagi karyawan baru untuk mempersiapkan diri bagi yang belum berpengalaman atau pemeliharaan bagi yang telah berpengalaman, mengenai seluk beluk perusahaan, sistem kerja, SOP (Standard Operational Procedure/prosedur operasional standar) sehingga mereka bisa mengikuti tahapan-tahapan kegiatan kerja dan dibekali skill-nya.
Pelatihan kerja akan memberikan manfaat jangka panjang bagi perusahaan dan karyawan jika dilaksanakan secara berkesinambungan. Hal ini pun diatur dalam Kepmenakertrans (Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi) Republik Indonesia nomor: Kep.261/Men/XI/2004, sehingga pelaksanaan pelatihan memiliki kekuatan hukum dan diwajibkan kepada perusahaan baik milik pribadi, kelompok, atau kerjasama antarnegara dan biaya pelatihan sepenuhnya ditanggung oleh perusahaan.
Bahkan, dalam Kepmen ini secara detil diatur materi, waktu, jumlah peserta, dan hal lainnya yang berkaitan dengan pelatihan. Idealnya, pelatihan dilakukan secara berkala. Artinya tidak hanya dilakukan pada saat menjadi karyawan baru saja, sebab masalah pekerjaan bisa saja terjadi pada semua karyawan tanpa melihat junior atau senior. Paling tidak ada tahap pelatihan awal dan pelatihan pemeliharaan (maintenance).
Mengenai waktunya, tentu perusahaan yang menentukan apakah setahun sekali, satu semester sekali, atau triwulan sekali. Periode pelatihan ini akan sangat tergantung kebutuhan perusahaan supaya karyawan bisa cepat beradaptasi dengan target yang telah ditetapkan perusahaan. Begitu pula materi dan metode yang akan disampaikan sifatnya kondisional, tergantung kebutuhan. Biasanya, divisi yang bertanggung jawab atas program pelatihan adalah HRD(Human Resources Division/divisi SDM).
Pelatihan tentu bukan formalitas semata, apalagi dikerjakan asal-asalan. Jika penyelenggara pelatihan ingin berhasil menciptakan karyawan yang sesuai dengan kualifikasi perusahaan, keinginan itu harus direncanakan dan didisain sejak pelatihan dimulai. Dari nama yang menarik, susunan acara yang tidak membosankan peserta, materi, metode, tempat pelatihan, SDM yang memberikan pelatihan, sarana dan prasarana harus ikut mendukung.
Lembaga Pelatihan
Perusahaan besar skala nasional dan multinasional kerap bekerja sama dengan lembaga atau perusahaan khusus yang bergerak di bidang pelatihan yang targetnya menciptakan tenaga kerja handal dengan cara menanamkan pola pikir yang diinginkan perusahaan.
Rata-rata lembaga atau perusahaan ini mengadakan pelatihan tidak hanya indoor (di dalam ruangan) tapi juga outdoor (di luar rangan) dalam waktu dua sampai tiga hari. Pelatihan ini dikemas sedemikian rupa supaya menarik perhatian dan semangat peserta.
Lembaga atau perusahaan profesional tentu sudah punya pengalaman dan strategi untuk menyugesti peserta pelatihan supaya tetap memperhatikan dan semangat, misalnya dengan metode: Ice breaking (mencairkan suasana), simulasi, games, pemutaran video dan metode lainnya.
Adalah wajar sebagai manusia jika semangat dan motivasi kerja turun naik bahkan cenderung menurun. Oleh karena itu, kesuksesan pelatihan dalam menciptakan karyawan handal tidak sekali jadi, tapi perlu dilakukan secara berkala sesuai kebutuhan perusahaan dan kondisi karyawan.
Dampak positif pelatihan terlihat pada peningkatan kinerja karyawan. Pada gilirannya pelatihan tidak hanya diperuntukkan bagi karyawan. Untuk mempertahankan dan meningkatkan etos kerja semua elemen dalam perusahaan, pelatihan ini diberikan secara khusus untuk satpam, cleaning service bahkan secara eksklusif pelatihan bagi para manajer, general manajer, dan dewan direksi, tentunya dengan metode, materi, dan trainer (pelatih) yang eksklusif juga.






