logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Ilmu Sosial    Politik dan Pemerintahan

Pemerintahan Orde Lama: Mahasiswa dan Gie


Ilustrasi pemerintahan orde lama

Mahasiswa sebagai salah satu pilar bangsa diharapkan memiliki sikap dan kepedulian yang datang dari sanubari bukan karena ingin meraih simpati, mencari peluang untuk memuluskan jalan masuk birokrasi, apalagi kalau hanya memikirkan sepiring nasi. Kepedulian mahasiswa dalam bentuk gerakan yang berlandaskan kepedulian yang datang dari sanubari itulah yang telah ditunjukkan gerakan mahasiswa 66.

Gerakan mahasiswa ’66 adalah gerakan legendaris. Angkatan ’66 berhasil menumbangkan rezim orde lama dibawah kepemimpinan Soekarno. Pemerintahan orde lama yang kharismatik roboh berkat Tritura (tiga tuntutan rakyat). Disinilah mahasiswa menunjukkan kekuatannya sebagai bagian dari kekuatan rakyat. Mahasiswa merumuskan konsepsi jitu mengenai apa dan siapa Indonesia. Rezim orde lama berakhir masuk ke fase orde baru yang dalam prakteknya dikawal oleh Presiden Soeharto dkk. Setelah selesai menumbangkan rezim orde lama, mahasiswa yang tergabung dalam gerakan atau angkatan 66 ini kemudian memilih jalan sendiri-sendiri, ada yang terjun menjadi politisi, pengusaha, menjadi bagian dari birokrasi ada juga yang tetap menjaga jarak dengan dunia politik dan birokrasi melalui berbagai lembaga nirlaba.

Namun setelah rezim orde lamar tumbang, bisa dikatakan gerakan mahasiswa melempem. Kehilangan arah dan orientasi. Para pentolan gerakan mahasiswa malah menyebrang ke rezim orde baru. Terecoki vested interest (kelompok kepentingan). Dari miskin jadi kaya. Dari jalan kaki jadi bermobil. Gerakan mahasiswa ’66 berujung antiklimaks. Heroisme di depan tank militer tergoda oleh gelimang harta. Sungguh kenyataan yang sangat kontras dan membuat hati miris.

Fragmen gerakan atau angkatan 66 juga menjadi prototype gerakan mahasiswa angkatan selanjutnya. Mereka memiliki gerakan yang terkoordinir, masif dan tentu saja memiliki kekuatan. Tapi kekuatan itu tidak berdaya guna karena gerakan itu sendiri sejak awal bukan berasal dari bisikan sanubari melainkan karena mencari celah untuk mengambil simpati. Maka ketika orientasi awal itu telah terpenuhi, selanjutnya sama dan sebangun dengan para seniornya, yang duduk manis di balik benteng kekuasaan. Sedikit sekali bahkan hampir bisa dipastikan tidak ada sisa yang tadinya garang di jalanan tetap garang ketika berhadapan dengan ketidak adilan. Yang ada justru sebaliknya garang di jalanan dan kehilangan taring ketika berhadapan dengan segala bentuk penyelewengan. Tak sedikit pula yang justru setelah lulus kuliah kemudian menjadi bagian dari bola penyelewengan yang terus membesar dan menggelinding mencari mangsa.

Orde Lama

Rezim orde lama tumbuh dan besar oleh Soekarno. Founding father ini jadi bapak bangsa. Tokoh kharismatik bak sabda pandita ratu. Tiap titah adalah perintah. Lord Acton mengatakan “tends power to corrupt and absolut power is corrupt absolutely”. Demokrasi terpimpin ala Soekarno tergelincir jadi demokrasi otoriter. Ini semua terjadi karena kharismatik tokoh yang satu ini dijadikan alat untuk mengelabui berbagai pihak sehingga kekuasaan menjadi terpusat pada satu tangan. Sepertinya pada saat itu tidak ada tokoh sepadan yang bisa menumbangkan orasi dari bapak bangsa ini. Pendapatnya yang keliru pun tetap saja diamini karena terbius dengan cara orasinya, bagaimana mengemas sebuah kekeliruan sehingga terlihat sebagai sebuah kebenaran semata.

Namun pada akhirnya demokrasi yang tergelincir menjadi demokrasi terpimpin dan pada akhirnya demokrasi otoriter itu tercium juga. Mereka adalah gerakan mahasiswa yang mencium gelagat tidak beres ini. Lalu, kritik mulai gencar. Kampus jadi ruang ideologi politik bertarung. Beda tipis antara cuci tangan dengan campur tangan. Maka gerakan mahasiswa harus menempatkan diri dalam posisi pelik; pressure group atau interest group.

Pertarungan ideologi di rezim orde lama ditandai dengan Nasakom (Nasionalis – Islam – Komunisme). Niat Soekarno yang pada awalnya untuk mengakomodasi berbagai ideologi itu tak berjalan mulus. Bak api dalam sekam. Politik rezim orde lama penuh intrik (politicking). Puncak pertarungan ideologi ini terlihat dalam gerakan 30 September. Para jenderal dihabisi. Kuasa politik memakan korban. Dan orang terkait komunis pun dibunuh. Bak drama pembantaian. Namun bagi masyarakat awam tak jelas siapa sebenarnya musuh dan siapa sebenarnya kawan. Dalam drama tersebut siapa mencari siapa, sesulit mencari jarum dalam tumpukan jerami. Semuanya terselimuti dan serba gelap. Sehingga dua orang kawan bisa saling menghabisi tanpa saling curiga terlebih dahulu.

Menjelang tumbangnya rezim orde lama, memang suasana sangat pelik dan menegangkan. Apalagi isu munculnya angkatan kelima yang diprakarsai PKI menjadi hantu menakutkan, sekalipun ide ini sebenarnya di parlemen sudah dihabisi.

Gie

Carut-marut menjelang tumbangnya rezim orde lama tak terlalu menjadi perhatian media masa, terutama karena pemilik dan pemimpin media masa saat itu juga sulit menempatkan diri pada posisi mana harus berdiri. Namun pada akhirnya ada mahasiswa yang membuka pembantaian ini ke public. Mahasiswa itu tak lain adalah Soe Hok Gie. Gie menulis di koran Kompas dengan runut dan detil. Tragedi di Bali di mana para simpatisan komunis dibunuh massal. Gie adalah tokoh mahasiswa yang masih setia berada di luar tembok birokrasi sehingga masih memiliki insting dan sanubari. Ketika teman sejawat masuk ke lingkar kekuasaan. Gie terus mengontrol kekuasaan orde baru dari luar. Ia tidak tergoda tahta politik. Bagi Gie politik adalah lahan kotor yang semestinya dijauhi bila menginginkan jiwanya tetap bersih. Tak banyak mahasiswa lain yang seiring sejalan dengan jalan pikiran Soe Hok Gie, sekalipun bukan berarti Gie hidup sendiri seperti di akhir hayatnya pada saat melakukan pendakian ke salah satu gunung yang selama ini menjadi kegemarannya.

Gie adalah antitesis dari tokoh gerakan mahasiswa ’66 lain. Gie tetap bergeming ketika kecaman dan ancaman berdatangan. Bagi Gie, rezim orde baru tidak lebih baik dari orde lama. Gerakan mahasiswa kembang kempis karena disodori kuasa politik. Gie melukiskan keadaan tersebut dengan intelektual wanita tuna susila. Intelektual yang mengabdikan diri untuk kekuasaan bukan untuk masyarakat. Ucap Gie “Lebih baik diasingkan daripada hidup dalam kemunafikan”. 

Gie kemudian memang tidak mendapatkan apa-apa seperti yang didapatkan teman seangkatannya. Tapi bukan berarti Gie tidak hidup bahagia. Gie justru telah menemukan kesejatian hidup justru ketika memotret bagaimana teman seangkatannya melacurkan diri pada birokrasi yang penuh dengan kemunafikan. Cara Gie menjaga jarak dengan kekuasaan justru salah satu cara Gie menyucikan sanubarinya bukan karena ia telah gagal mencari kesempatan seperti yang telah dilakukan para sahabatnya.

Dalam pandangan Gie, lahirnya orde baru yang berhasil menumbangkan kekuasaan orde lama tidak lebih dari para pemain tari topeng yang telah berganti topeng. Topengnya memang berbeda, tapi wajah di balik topeng itu sendiri tetap sama. Dan analisa Gie tentang orde baru ini malah berkepanjangan sekalipun hidup Gie sendiri tidak terlalu panjang. Kalau Gie masih ada tentu akan geleng-geleng kepala betapa konsep mencari kesempatan dalam kesempitan melalui gerakan mahasiswa turun ke jalan juga menjadi bagian dari fragmen saat menumbang orde baru dan berganti menjadi orde reformasi. Tapi tetap saja topengnya yang berbeda dan wajah di balik topeng tetap sama.

 

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Teddy Bear - Boneka Lucu dari Sang Presiden
  • Sistem Pemerintahan Indonesia Sekarang
  • Tinjauan Sengketa Internasional
  • Mengenal Macam-Macam Tipe Budaya Politik
  • Politik Wikipedia dan Wikileaks
  • Pengertian Demokrasi Menurut Para Ahli
  • Panduan Menulis Artikel Budaya Politik
  • Terbentuknya Masyarakat Politik dan Aktivitasnya
  • Bingkai Sejarah Pemilu Indonesia
  • Masa Demokrasi Liberal di Indonesia
  • Memahami Sistem Pemerintahan Indonesia
  • Sosiologi Politik: Otoritas dan Pengendalian Sosial
  • Dunia Politik - Segala Cara untuk Mencapai Sesuatu
  • Harmonisasi Hubungan Indonesia dan Belanda
  • PK Sejahtera Masih Bersih dan Peduli?
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA