logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Ilmu Sosial    Filsafat

Pemikiran Islam: Mencermati Konsep Sekularisme Islam


Ilustrasi pemikiran islam

Pada perkembangannya, pemikiran Islam terbagi atas tiga bagian, yakni kelompok pemikiran Islam tradisional, pemikiran sekular Islam, dan pemikiran reformis. Pemikiran yang menarik dan harus kita cermati adalah konsep sekularisme Islam. Kekurang pahaman terhadap jalan pemikiran para pemikir sekuler Islam ini, seringkali salah menjatuhkan penilaian. Tentu saja untuk mengerti dan memahami jalan pikiran mereka, modal utama adalah ketersediaan membuka cakrawala pemikiran seperti telah ditunjukkan pada ulama terdahulu, yang selalu bisa mengambil hikmah ketika mereka duduk dalam satu forum untuk berdebat dan saling mempertahankan pemahamannya.

Sebaliknya bila konsep pemikiran sekular ini diterima dengan pola pikir yang tertutup, tentu saja tidak akan menemukan di sebelah mana kekeliruan pemikiran mereka ini kalau memang keliru, dan ke arah mana yang ingin dituju kalau memang konsep pemikiran sekular Islam memiliki arah yang jelas.

Pengertian Sekular

Istilah sekular (bhs. Inggris: secularism) bermakna dunia, alam, atau realita. Dalam bahasa Arab, istilah sekular disebut al-Almaniyyah. Sedangkan dalam bahasa Latin, istilah sekular berasal dari kata saeculum yang berarti “alam” dan diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani menjadi oeon, yang berarti masa atau skala waktu.

Secara terminologis, istilah sekular mempunyai pengertian yang cukup luas. Dalam diskursus pemikiran Barat ada dua periode kesejarahan sekularisme. Dan ini harus dipahami terlebih dahulu agar jangan sampai keliru memposisikan penilaian terhadap konsep sekularisme Islam tersebut.

Pertama, interpretasi sekularisme yang berarti pemisahan agama dan gereja dari urusan-urusan kemasyarakatan dan politik. Juga pembersihan dogma ketuhanan gereja Katolik, serta memurnikan diri dari hal-hal yang bersifat rasional. Terminologi sekularisme semacam ini muncul pada awal yang dipahami oleh para filsof dan pemikir Barat, seperti Hobbes, Locke, Leibnitz, Rosseau, dan Lessince. Dalam rentang ini maka sekular adalah sebuah upaya atau gerakan yang secara terangan-terangan memisahkan antara masalah agama dari masalah sosial dan kenegaraan. Tentu saja tujuannya adalah mencapai absolutisme baik bagi para politisi, birokrat maupun para pemikir dalam melakukan kegiatannya. Gerakan ini muncul karena memahami bahwa dogma-dogma agama yang waktu itu dikeluarkan oleh gereja katolik, sangat mengekang kebebasan aktivitas mereka terutama konsep ketuhanan yang dalam prakteknya dianggap sebagai upaya mengambil alih kekuasaan yang absolut tadi.

Kedua, pada periode ini sekularisme tidak hanya sekadar dipahami seperti pada periode pertama, tetapi lebih dari itu, mereka ingin mengubur agama, menghilangkan peranannya dalam menata sebuah pranata kehidupan. Dengan kata lain, kaum sekular ingin menghapus agama dari atas muka bumi secara total. Tujuannya jelas karena ingin membebaskan dari segala tuntutan atau dogma agama yang selama ini masih terasa menjerat kaki untuk bergerak bebas dengan mengatasnamakan berbagai hal.

Tentu saja awal kelahiran pemikiran konsep sekularisme periode kedua ini mendapat tantangan dan penentangan dari berbagai pihak, terutama bagi yang berpikir bahwa pada satu titik tertentu manusia akan kehilangan daya untuk mencari jawaban atas segala yang terjadi, ketika pada saat yang sama ilmu pengetahuan dan teknologi yang selama ini menjadi andalan pemahaman dan sandaran berpikir mereka, benar-benar tidak bisa menjawabnya. Contohnya saja tentang masalah ruh. Para ilmuwan yang menganut paham sekular ini pun tetap tidak bisa menjelaskan apa sebenarnya ruh, dimana letaknya, dan ketika kematian lalu apakah ruh juga ikut mati. Teori yang mengatakan bahwa alam semesta berasal dari benturan benda langit raksasa jutaan tahun lalu pun tetap tidak bisa menjelaskannya.

Sekularisme Islam

Jika berbicara sekularisme dalam konteks pemikiran Islam, tentu tidak akan terlepas dari terminologi dan kesejarahan sekularisme Barat. Di kalangan para pemikir Muslim sendiri terjadi perbedaan persepsi untuk memahami sekularisme tersebut.

Sa’dah dan Arkoun termasuk kelompok pemikir yang optimistis memandang paham sekularisme sebagai alternatif. Namun, banyak juga pemikir Islam yang pesimistis dengan paham sekular ini, seperti Muhammad Imarah, Muhammad Yahya, dan Muhammad Mahdi Syams Al-Din. Keoptimisan dan kepesimisan dalam memandang sekularisme ini lebih banyak dipengaruhi oleh perbedaan dalam memahami pengertian sekular secara terminologi. Dengan demikian karena pada titik pemberangkatan sudah berbeda, ke arah manapun pemikiran mereka tentang memandang masalah sekularisme ini tetap saja akan berbeda.

Menurut Muhammad Imarah, karakteristik pemikiran sekular adalah sebagai berikut :

  1. Menyamakan nash-nash Islam dengan karya manusia. Dalam konsep pemikiran tradisional jelas hal ini sebagai sebuah kekeliruan yang tak akan pernah mendapatkan titik temu, karena memahami bahwa nash Islam terutama yang bersumber dari alQuran berasal dari wahyu dan bukan karya manusia. Kalaupun nash alQuran itu terkumpul dan artinya dikumpulkan oleh manusia, bukan berarti sebagai sebuah karya manusia.
  2. Agama adalah persoalan pribadi yang tidak berkaitan dengan persoalan-persoalan sosial, politik, dan ekonomi. Ini juga termasuk masalah kritis karena perbedaan pemahaman yang pasti akan sangat berbeda.
  3. Adanya pertentangan antara konsep agama, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Ini memang salah satu tujuan dan keberhasilan para pemikir sekular ketika berhasil memisahkan antara agama dan masalah-masalah di luar masalah agama. Ini memang sekaligus menjadi keberhasilan para pemikir sekular barat dalam hal mempropagandakan bagaimana barat menjadi titik sentral untuk kemajuan. Kalau kesan seperti ini tidak tercipta dengan sendirinya konsep tentang sekularisme tidak akan laku untuk dijual.
  4. Adanya persepsi bahwa Barat adalah satu-satunya alternatif solusi untuk mencapai kemajuan dan kemodernan. Ini memang berkaitan dengan munculnya pemikiran tentang konsep sekularisme baik periode pertama maupun periode kedua dan selanjutnya.

Secara konsep tradisional, jelas pemikiran sekular ini tidak akan diterima, sebab terlihat ada upaya untuk menjauhkan nilai agama dengan nilai-nilai kehidupan. Meskipun demikian, kita mengenal beberapa tokoh pemikir Islam yang lebih cenderung menggunakan pendekatan sekularisme. Mereka adalah Thaha Husain, Salamah Musa, Fuad Zakariya, Farag Fawdah, Nashr Hamid Abu Zaid, dan sebagainya.

Pemisahan antara agama dengan masalah sosial, politik, kenegaraan dan ilmu pengetahuan dalam taraf tertentu bisa saja terjadi, namun masalah-masalah yang menjadi acuan dan titik tolak pengembangan pemikiran para pemikir sekular itu tidak bisa menjawab secara tegas seluruh persoalan manusia, sehingga tetap saja membutuhkan penerang di luar ilmu pengetahuan yang telah bisa tercapai.

Ketika seseorang merasa gelisah, ilmu psikologi kemudian mencoba menjelaskan tentang masalah gelisah atau kegelisahan ini dan memberi jalan keluar. Seorang psikiater kemudian melakukan berbagai terapi. Tapi kalau ternyata kegelisahan itu muncul dari pikiran yang sedang memikirkan sesuatu yang tidak bisa dijawab oleh ilmu pengetahuan, tentu saja seorang psikiater tidak akan benar-benar bisa menyembuhkan orang yang sedang gelisah karena alasan ini.

Kembali kepada masing-masing orang tanpa harus terlalu kaku dalam memandang berbagai pemikiran Islam tersebut. Kalau kemudian pemikiran sekular Islam itu cenderung ingin memisahkan agama dengan masalah sosial, politik dan ilmu pengetahuan atau kehidupan-kehidupan manusia lainnya, silakan saja bila mampu memberi penjelasan dan menjawab segala persoalan dimana ilmu pengetahuan, sosial dan politik sudah tidak memberi jalan keluar.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Filsafat Hidup: Uang dan Kebahagiaan
  • Membangun Pemikiran Positif
  • Filsafat Pancasila - Falsafah Asli Indonesia
  • Filsafat Geografi dan Definisi Geografi
  • Mengenal Teori Filsafat
  • Pemikiran Modern dalam Islam Berkembang ke Arah Pemurnian
  • Pembaharuan Pemikiran Islam, Kembali pada Islam
  • Filsafat Sosial dan Teori Kritis Max Horkheimer
  • Perkembangan Pemikiran Islam
  • Mengenal Aliran Filsafat Hukum
  • Aneka Filosofi yang Menjadi Sumber Inspriasi
  • Macam-Macam Ideologi, Model Filsafat Implisit
  • Filsafat Ilmu Pengetahuan: Evolusi dan Sufi
  • Jatuh Cinta Kepada Sufisme ala Ahmad Dhani
  • Pemikiran Islam Liberal: Islam Gaya Bebas
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA