logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Budaya    Budaya Jawa    Penanggalan Jawa

Penggunaan Penanggalan Jawa

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Penanggalan Jawa adalah salah satu sistem penghitungan hari yang dianut oleh masyarakat Jawa. Dalam sistem ini, perhitungan hari didasarkan pada perputaran bulan dan jumlah hari dalam sebulan antara 29 dan 30 hari. Sementara dalam perhitungan kalender masehi, perhitungan dilakukan menggunakan perputaran matahari. Selain itu, jumlah hari dalam penanggalan masehi selama sebulan adalah 30 atau 31 hari, kecuali pada bulan Februari.

Perbedaan lain antara penanggalan Jawa dan sistem kalender masehi antara adalah dalam jumlah hari dalam seminggu. Pada sistem masehi, perputaran hari berlangsung dalam tujuh hari. Sementara pada penanggalan Jawa, perputaran hari terjadi dalam lima hari.

Penyebutan hari pun ada perbedaan antara kedua sistem kalender tersebut. Dalam sistem masehi, nama hari yang digunakan sama seperti yang sudah kita akrabi selama ini. Dimulai dari hari Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at dan Sabtu. Sedangkan dalam sistem penanggalan Jawa nama hari yang digunakan adalah Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.

Selain itu, sistem penanggalan Jawa ini hanya dikenal dalam kehidupan masyarakat di pulau Jawa saja, khususnya di daerah Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur. Sementara untuk masyarakat di Jawa Barat, Jakarta dan Banten kurang begitu memperhatikan masalah perhitungan dari penanggalan Jawa ini.

Hal ini disebabkan asal usul munculnya sistem penanggalan Jawa ini dimulai ketika masa kerajaan masih berkuasa di kawasan pulau Jawa. Salah satu kerajaan yang dianggap sebagai pelopor perhitungan sistem penanggalan Jawa adalah kerajaan Mataram Kuno. Itulah mengapa sistem penanggalan Jawa masih demikian kuat dianut sebagian masyarakat di Jawa Tengah dan Yogyakarta, yang merupakan lokasi dimana kerajaan tersebut dulu berada.

Penggunaan Penanggalan Jawa

Di tengah gempuran teknologi modern saat ini, sistem penanggalan Jawa ini belum sepenuhnya ditinggalkan. Bedanya, pada saat ini penggunaan penanggalan Jawa hanya digunakan sebagai penanda akan sesuatu. Berbeda dengan masa kerajaan masih berjaya, dimana pada saat itu penanggalan Jawa kerap digunakan untuk menentukan waktu aktivitas yang berbau mistis atau supranatural. Salah satu hari Jawa yang dianggap keramat pada masa lalu adalah hari Jum’at Kliwon dan Selasa Kliwon. Kedua hari tersebut dipercayai banyak makhluk halus yang sedang bergentayangan mencari mangsa.

Namun secara umum, ada sebagian orang yang masih memiliki kepercayaan akan makna penanggalan Jawa ini. Beberapa hal yang masih kerap dikaitkan dengan penanggalan Jawa ini di antaranya adalah :

  1. Perhitungan hari baik. Biasanya penentuan hari baik ini digunakan untuk memilih waktu pelaksanaan sebuah kegiatan, seperti pelaksanaan acara pernikahan, hari kepindahan rumah, waktu untuk melakukan prosesi pelamaran seorang wanita.
  2. Pemilihan Jodoh. Bagi mereka yang masih mempercayai penanggalan Jawa ini, hari kelahiran sangat menentukan dalam kecocokan jodoh seseorang. Demikian pula, ada pasangan yang dianggap tidak akan berjodoh karena memiliki hari kelahiran yang dianggap kurang pas. Seperti pada mereka yang lahir pada hari Wage dan Pahing, dianggap sangat pantang untuk melangsungkan pernikahan karena watak yang bertentangan.
  3. Menentukan hari pasar. Hari pasar adalah hari dimana sebuah transaksi atas komoditi tertentu dilakukan di sebuah tempat. Misalnya pasar hewan dilakukan pada hari Pon, pasar sayur dilakukan pada hari Pahing dan seterusnya.
  4. Acara ritual. Bagi mereka yang masih memiliki kepercayaan dinamisme, ada hari-hari tertentu yang dianggap sangat sahih untuk melakukan sebuah ritual yang mereka percayai. Biasanya hari yang dipilih adalah Jum’at Kliwon dan Selasa Kliwon.
Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Cerita Rakyat Berbahasa Jawa, Media Melestarikan Bahasa Jawa
  • Upacara Adat Jawa, Tedhak Siten
  • Majapahit - Wawasan Nusantara pada Sebentuk Kerajaan
  • Sekilas Tentang Kehidupan Masyarakat Jawa
  • Wayang Kulit - Kebudayaan Indonesia yang Layak Dilestarikan
  • Estetika Sastra Jawa dan Perkembangannya
  • Profil Kebudayaan Jawa Barat
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA