logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Kesehatan    Macam-Macam Penyakit    Diare

Penanggulangan Diare pada Bayi


Ilustrasi penanggulangan diare

Mengapa tinja bayi saya encer? Apakah bayi saya terkena diare? Bagaimana penanggulangan diare pada bayi saya? Tenang dulu ibu-ibu. Jika bayi memiliki tinja yang lebih berair dari kondisi normal, tetapi frekuensi beraknya tidak sering, Anda tidak usah khawatir karena bayi Anda tidak mengalami diare yang sesungguhnya.

Penyakit Diare

Diare, yang diindikasikan dengan tinja yang encer, lebih mengacu pada seringnya BAB yang terjadi dari pada kepadatan. Ada berbagai macam kondisi yang membuat tinja bayi berair atau bayi menderita diare (yang tidak mengkhawatirkan), seperti ketika bayi sedang tumbuh gigi, perubahan pola makan (jika bayi sudah dikenalkan dengan makanan padat, dan perawatan dengan atibiotik (jika bayi diberi resep antibiotik oleh dokter).

Diare yang mengkhawatrikan adalah diare yang disebabkan oleh infeksi usus dan lambung. Biasanya diare yang disebabkan oleh peradangan lambung dan usus akibat infeksi ditandai dengan mengalirnya tinja secara terus menerus (bahkan ada yang sampai berak 3 menit sekali), berair, berwarna hijau, berbau busuk, berlendir, terjadinya tiba-tiba, dan terkadang ada bercak darah.

Penyakit diare sendiri adalah gangguan kesehatan yang dialami seseorang dan membuat penderitanya terus-menerus ingin buang air besar dalam frekuensi yang lebih sering dari pada orang normal. Selama diare, kotoran yang dikeluarkan pun memiliki ciri encer.

Diare adalah suatu kondisi ketika tubuh Anda mengalami frekuensi buang air besar tidak seperti yang normal seharusnya terjadi, yaitu lebih dari satu atau dua kali dalam sehari. Sebaiknya Anda tidak menganggap remeh diare karena penyakit ini dapat menyebabkan kematian.

Menurut hasil penelitian tentang diare, penyakit ini biasa terjadi pada sejumlah negara berkembang dan sudah menjadi salah satu penyebab umum kematian di negara-negara tersebut. Ada dua jenis diare, yaitu diare yang disebabkan oleh bakteri dan diare yang disebabkan oleh nonbakteri. Kasus diare yang diderita masyarakat negara berkembang tentunya disebabkan karena faktor bakteri.

Bakteri penyebab diare sangat mudah berkembang akibat dari lingkungan yang kotor dan tidak sehat. Lingkungan yang kumuh dengan kondisi saluran air yang tidak memadai ditambah dengan tumpukan sampah yang tidak teratur bisa menjadi berkembangnya bakteri diare.  

Lingkungan yang tidak sehat membuat makanan Anda menjadi tidak sehat pula. Makanan yang tidak ditutupi tudung saji membuat lalat atau semut dapat menghinggapi makanan tanpa Anda sadari. Kebiasaan memakan makanan tanpa cuci tangan, baik menggunakan sendok ataupun tidak juga menjadi penyebab bakteri diare dapat berkembang pesat di tubuh Anda.

Jadi, penanganan yang tepat dalam pencegahan penyakit diare adalah melalui penerapan pola hidup yang sehat. Diare juga menjadi salah satu penyakit yang umum diderita oleh anak-anak balita. Dan, menurut penelitian tentang diare, penyakit ini menjadi salah satu penyebab kematian anak nomor dua. Anak-anak sering mencoba hal yang baru dan tidak takut untuk membuat dirinya kotor.

Seringkali percobaan akan hal baru tersebut mengarah pada memasukkan benda asing ke mulut ataupun memasukkan tangan ke mulut. Hal tersebut merupakan hal yang biasa dilakukan oleh anak-anak.

Walupun sudah menjadi hal yang biasa, namun jangan sampai Anda sebagai orangtua tidak memperhatikan tindakan tersebut. Ajarilah anak untuk tidak memasukkan tangan ataupun benda lain selain makanan ke dalam mulut. Apabila tiba waktunya makan, ingatkan mereka untuk selalu mencuci tangan terlebih dahulu.

Gejala diare biasanya disertai dengan gejala tambahan seperti mual, muntah, rasa tidak enak di perut, mules, haus, demam, dan lemas karena dehidrasi. Pada anak-anak dan orang tua di atas 65 tahun, diare sangat berbahaya. Bila penanganan terlambat dan mereka jatuh ke dalam dehidrasi berat, maka bisa berakibat fatal.

Diare terjadi akibat dari berkurangnya kemampuan usus besar dalam menyerap air yang terdapat dalam kotoran. Pada orang dewasa penyebab paling sering dari gangguan ini adalah bakteri E. Coli dan Salmonella.

E.coli sebenarnya bakteri yang normal hidup dalam usus besar kita, sayangnya jika jumlahnya terlalu banyak, maka ia akan menjadi berbahaya dan menganggu proses penyerapan air, sehingga menyebabkan diare.

E.coli yang berlebihan ini biasanya bersumber dari buah atau sayuran yang terkontaminasi kotoran manusia yang kemudian kita makan tanpa mencucinya dengan baik.

Penyebab lain dari diare adalah alergi makanan. Selain menyebabkan gejala alergi secara umum, seperti gangguan kulit dan gangguan nafas, alergi makanan juga dapat menimbulkan diare. Alergi makanan yang paling sering menyebabkan diare adalah alergi terhadap protein susu yang disebut laktosa.

Kemampuan tubuh mencerna laktosa akan semakin berkurang seiring dengan bertambahnya usia, sehingga kemungkinan terjadinya diare akibat laktosa akan semakin besar. Laktosa merupakan contoh kecil dari zat yang dapat menyebabkan diare. Banyak pula yang alergi terhadap zat lain seperti gluten dan lain-lain, sehingga menimbulkan diare.

Agar Bayi Tidak Terkena Diare

Penanggulangan diare pada bayi memang sulit dilakukan, apalagi dalam proses perkembangannya bayi seringkali memasukkan benda apa saja ke dalam mulutnya. Tentu saja hal ini mempermudah masuknya bakteri atau virus ke dalam tubuh. Namun, ada cara untuk meminimalkan kejadian diare akibat virus atau bakteri.

  • Cucilah segala benda yang berhubungan dengan bayi sebelum diberikan pada mereka (seperti mainan dari plastik, karet, dll.)
  • Ajarilah bayi hidup sehat dengan cara mencuci tangan sebelum makan. Meski bayi tidak makan sendiri (Anda menyuapinya) adakalanya bayi merebut makanan dan memasukkannya sendiri ke dalam mulutnya.
  • Susuilah bayi Anda. ASI memiliki kandungan gizi yang tinggi, membantu para bayi memperoleh sistem imun yang lebih baik. Pada banyak kasus bayi yang menderita diare bahkan bisa sembuh sendiri dengan diberi ASI secara terus menerus.
  • Mencuci tangan pakai sabun dengan benar pada lima waktu penting, yaitu sebelum makan, setelah buang air besar, sebelum memegang bayi, setelah menceboki anak, dan sebelum menyiapkan makanan.
  • Meminum air minum sehat atau air yang telah diolah, antara lain dengan cara merebus, pemanasan dengan sinar matahari atau proses klorinasi.
  • Pengelolaan sampah yang baik supaya makanan tidak tercemar serangga (lalat, kecoa, kutu, lipas, dan lain-lain).
  • Membuang air besar dan air kecil pada tempatnya, sebaiknya menggunakan jamban dengan tangki septik.

Jika semua hal di atas sudah dilakukan, tetapi masih saja terserang diare, maka Anda tidak usah panik. Kenalilah dulu apakah diare yang dialami tersebut parah? Jika frekuensi beraknya tinggi, segeralah bawa ke dokter. Diare yang mengkawatirkan adalah yang menimbulkan dehidrasi.

Penderita diare ini biasanya ditandai dengan berat badan berkurang antara 5 – 15%, mata sayu, perilaku sensitif, mulut kering (tidak ada air mata ketika menangis pada kasus berat dan keluar air mata sedikit pada kasus ringan), kulit kering, pucat, dan keriput, kuantitas kencingnya berkurang, dan dalam kasus berat air seni berwarna kuning gelap.

Jika diare tidak parah, tidak perlu ke dokter, cukup berikan oralit saja. Namun, jika usia bayi masih di bawah 6 bulan, susuilah dia dengan ASI sebanyak mungkin. Jika kebutuhan cairan tubuh terpenuhi, sehingga sistem tubuh menjadi seimbang, maka diare akan sembuh dengan sendirinya (tidak perlu obat atau antibiotik).

Bila diarenya berat sampai menyebabkan dehidrasi, maka penderita perlu dirawat di rumah sakit dan diberikan cairan pengganti dan garam melalui infus. Selama tidak muntah dan tidak mual, bisa diberikan larutan yang mengandung air, gula dan garam.

Pengobatan untuk diare yang kronis bersifat kuratif, supressif, atau empiris. Jika penyebabnya dapat dketahui pasti dan dapat diperbaiki, bisa diambil tindakan terapi kuratif, seperti penggunaan antibiotik. Terutama, tetasiklin, trimetoprim sulfamethoxazole, dan ampisilin. Diare karena pertumbuhan bakteri berlebih diusus halus, misalnya, dapat diterapi dengan antibiotika.

Untuk berbagai kondisi klinis, diare yang kronis dapat dikontrol dengan supressi terhadap mekanisme yang mendasarinya. Misalnya, eleminasi laktose dari diet pada diare karena defisiensi laktase, eliminasi gluten pada celiac sprue, adsorvent agent seperti cholestiramin pada malabsorpsi garam empedu, penghambat pompa proton seperti omeprasole pada hipersekresi lambung, dan substitusi enzim pankreas pada kasus dengan insufisiensi pankreas.

Jika tidak diketahui penyebab spesifik maupun mekanismenya, terapi dilakukan secara empiris. Pada diare cair yang ringan-sedang, misalnya, dapat diberikan golongan opiat ringan, seperti diphenoksilat atau loperamide.

Pada dasarnya, untuk semua penderita diare yang kronis, penggantian cairan dan elektrolit merupakan komponen penting dalam pertolongan dasar penanggulangan diare. Diare dapat dicegah dengan cara menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Semoga bermanfaat.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Penelitian Diare yang Banyak Manfaatnya
  • Diare Adalah Penyakit yang Memerlukan Perhatian Serius
  • Mengenal Klasifikasi Diare dan Penanggulangannya
  • Hati-Hati Diare pada Ibu Hamil
  • Materi Penyuluhan tentang Diare
  • Pentingnya Membaca Artikel Diare
  • Kasus Diare pada Bayi dan Perawatannya
  • Waspadai Bakteri Penyebab Diare!
  • Laporan Pendahuluan Diare pada Bayi dan Balita
  • Tips Mengatasi Proses Diare
  • Kenali tentang Sakit Diare
  • Askep Diare - Standar Perawatan Mutaber
  • Sekilas Tentang Pengobatan Diare dan Penyakitnya
  • Waspadai Penyebab Penyakit Diare
  • Jenis-Jenis Sakit Perut dan Upaya Pencegahan yang Tepat
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA