logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Cinta & Persahabatan    Puisi    Kumpulan Puisi Puisi Cinta

Menanti Sebuah Penantian yang Tertunda


Ilustrasi penantian yang tertunda

Banyak orang yang mengeluh ketika ia menunggu sebuah penantian yang tertunda datangnya kepadanya. Mereka menagih janji Tuhan tentang pengabulan atas doa-doa yang pernah mereka pinta kepada Tuhan sesuai keyakinan agama mereka masing-masing.

Mereka menganggap seolah-olah Tuhan lupa akan janji pengabulan pinta mereka. Padahal, sesungguhnya tidak ada sifat lupa bagi Tuhan. Dia hanya menunda dan meminta kita bersabar untuk sebuah realisasi atas penantian yang tertunda.

Pernah tidak mendengar seseorang mengeluh tentang bagaimana kesalnya ia menunggu sesuatu yang ia nanti-nantikan, namun tak kunjung ia dapatkan? Misalnya, seorang karyawan mengeluh tentang permohonan kenaikan gaji kepada atasannya setelah sekian lama mengabdi di perusahaan tempat ia bekerja.

Namun kenyataanya, bulan-bulan terus berlalu hingga berganti tahun pun harapan karyawan tersebut tidak kunjung terjadi. Permohonannya kepada atasannya belum juga diterima dan dikabulkan sebagaimana yang ia harapkan.

Atau pada kasus lain seperti seorang pemuda atau gadis lajang yang hamper-hampir berputus asa karena belum dipertemukan dengan jodoh yang diharapkan. Berganti-ganti pasangan, namun tetap saja tidak ada yang berujung pada sebuah pernikahan dan membangun mahligai rumah tangga seindah harapan-harapan mereka.

Tak jarang mereka menangis saat meminta kepada Tuhannya untuk segera dipertemukan dengan pasangan hidupnya. Sungguh realita-realita seperti itu banyak kita temukan di perjalanan kehidupan manusia.

Bersabar Terhadap Penantian yang Tertunda

Ini bukan sebuah teori yang mengatasnamakan agama tertentu. Pemberlakuan sebuah teori tentang kesabaran itu adalah universal. Tidak memihak atau menjurus kepada keyakinan agama tertentu.

Semua orang yang berlandaskan keyakinan agama mana pun jelas selalu diingatkan untuk bersabar menanti sebuah penantian yang tertunda. Setiap orang diperkenankan untuk berharap, dipersilakan untuk meminta kepada Tuhannya. Namun ada syaratnya, yaitu bersabar menunggu permintaan-permintaan itu dikabulkan.

Tuhan yang maha pintar itu bukan zat yang memutuskan segala sesuatu tanpa pertimbangan. Tentu saja ketika Dia mengabulkan sebuah harapan, sebuah penantian maka harus ada "pertimbangan-pertimbangan" yang mutlak kebenarannya untuk manusia.

Bisa saja sebuah seseorang sengaja dibiarkan untuk menunggu beberapa waktu sebelum harapannya dikabulkan, bisa juga harapan tersebut diganti dengan perwujudan sebuah kenyataan yang lebih indah. Tujauannya jelas membahagiakan umatnya.

Penatian yang tertunda pengabulannya bukan berarti pengabulan itu sama sekali tidak terlaksana pengabulannya. Namun, sifatnya adalah menunggu. Menunggu dalam antrean daftar orang-orang ikut memohon kepada Tuhannya untuk segala harapan-harapannya.

Sebuah penantian yang tertunda pengabulannya pasti akan memberi kebahagiaan pada seseorang dikemudian hari. Initinya adalah masalah waktu yang tepat untuk perwujudannya. Bersabar adalah cara yang paling ampuh menanti setiap penantian-penantian akan sebuah harapan.

Semakin bersabar, maka Tuhan akan semakin jiwa akan semakin bersih dan tidak terkontaminasi terhadap segala bentuk penyakit hati yang bisa merusak pikiran. Orang yang tidak bersabar tentu akan menanamkan rasa buruk sangka di dalam dirinya terhadap kebijakan-kebijakan Tuhan yang menunda-nunda pengabulan harapan sesuai permohonannya.

Namun, orang yang bersabar akan senantiasa berlapang dada menunggu waktu tiba pengharapanya. Baginya, yang mengetahui mengapa harapannya tertunda untuk dikabulkan adalah Tuhannya sendiri dengan dasar-dasar pertimbangan yang terkadang tidak pernah terbayangkan oleh manusia Itu sendiri.

Bersabar itu memang tidak mudah. Namanya manusia diciptakan dengan akal dan nafsu, tentu saja nafsu tersebut yang sering kali menjadi biang kerok atas ketidaksabaran. Ketidakasabaran dalam menunggu yang membuat manusia menjadi mudah berputus asa.

Padahal jika ia tahu sebuah impian terwujud itu adalah bukti dari sebuah penantian yang tertunda. Tidak ada sebuah impian atau harapan yang serta merta langsung terjadi, butuh waktu dalam pengabulannya. Dan cepat atau lamanya adalah relatif. Yang pasti pengabulan harapan atau impian dari sebuah penantian yang tertunda akan selalu memberi kebahagiaan bagi pemohon-pemohonnya.

Penantian Yang Tertunda Sebagai Bentuk Kesetiaan

Tidak banyak orang yang yang bisa betah menunggu dalam penantian yang entah kapan perwujudan harapan dari penantian-penantian itu menjadi kenyataan. Banyak yang buru-buru berlalu dan berhenti untuk berharap, berhenti untu menanti. Itu sebabnya banyak orang yang menjadi bersikap tidak setia terhadap suatu kondisi.

Kesetiaan itu terlihat dari kesabaran dalam menanti. Seseorang yang menanti dalam suatu keadaan yang belum berujung pada kepastian bisa dikatakan sebagai suatu kesetiaan. Karena bagaimana mungkin ia bisa memastikan suatu keadaan apakah itu terwujud atau tidak, toh yang punya kendali atas pengabulannya tetap dari Tuhan. Ia hanya diminta untuk menunggu dan tidak mengenal arti meyerah.

Pendukung terbesar dari kesetiaan itu sesungguhnya adalah keyakinan yang kuat. Keyakinan bahwa penantian yang tertunda suatu waktu akan berujung pada kenyataan yang membawa kebahagiaan bagi siapa saja yang bersabar dan setia.

Menanti Sebuah Penantian yang Tertunda Melatih Kualitas Keimanan

Iman itu artinya yakin atau percaya. Yakin atau percaya disini artinya yakin dalam perkataan lisan yang diucapkan oleh lidah, dibenarkan oleh otak, dan diaplikasikan dalam perbuatan. Dengan iman maka artinya yakin bahwa apa yang diajarkan dalam agama atau keperyaaan itu benar adanya, benar peraturannya, dan benar penempatannya bagi umatnya.

Kualitas keimanan dengan penantian yang tertunda itu ada korelasinya. Setiap harapan yang diwujudkan dalam penantian yang tertunda tidak lepas dari campur tangan Tuhan. Jika Tuhan berkehendak dan cocok terhadap umatnya, tentu harapan itu akan segera dikabulkan.

Namun, jika memang harapan atau impian itu menurut Tuhan malah akan menuju pada kejelekan yang terjadi pada umatnya maka Tuhan akan menunda pengabulannya atau mengganti perwujudan harapan tersebut dengan kenyataan yang lebih indah lagi.

Meyakini adanya peran serta Tuhan dalam penantian tertunda membuktikan kualitas keimanan seseorang itu baik. Maka seharusnya tidak perlu protes terhadap lama atau cepatnya sebuah penantian itu terwujud kenyataanya,Toh ini hanya masalah waktu saja.

Seseorang yang belum diberi rezki melimpah, seseorang yang belum dipertemukan dengan jodohnya, seseorang yang belum meneui ajalnya meskipun ia telah tua renta dan sakit-sakitan, atau seseorang yang menunggu bertahu-tahun lamanya akan keinginannya untuk memperoleh keturunan adalah realita yang sering terjadi.

Semua penantian tersebut pasti akan terwujud namun penrwujudannya harus "dikemas" dalam sebuah penantian terlebih dahulu. Ya, penantian yang tertunda itu judulnya.

Seseorang denga kualitas keimanan yang baik tentu akan faham bahwa segala kelahiran, kematian, jodoh, dan rezeki itu ada Tuhan yang mengatur. Semua tentu akan merasakannya. Hanya saja takaran dan waktu dalam realisasinya yang berbeda-beda satu sama lainnya. Lantas, kenapa harus protes jika penantian yang tertunda itu nanantinya kan benar-benar menjadi kenyataan meskipun waktu untuk menantinya tidak selalu sebentar.

Bentuk-Bentuk Penantian yang Tertunda

1. Kelahiran dan Kematian

Tidak ada satu orang pun yang bisa menentukan secara pasti tanggal kapan seseorrang lahir dengan selamat di muka bumi atau kapan seseorang harus berakhir masa tugasnya di muka bumi alias mati. Apa yang dilakukan oleh dokter atau paranormal sekalipun hanyalah sebuah perkiraan.

Sebuah rekaan yang sifatnya sekedar mereka-reka kapan kelahiran terjadi dan kapan ajal menjemput. Tidak ada pula yang bisa meminta kepada Sang Pencipta kapan untuk dua hal ini. Tugas manusia hanya mempersiapkan diri hingga penantian yang tertunda ini benar-benar menjadi kenyataan.

2. Jodoh

Menemukan belahan hati hingga berujung pada pernikahan resmi pun adalah bagian dari sebuah penantian. Siapa orangnya dan kapan waktunya pun tidak satu manusia pun yang berkuasa menentukannya. Cepat atau lambat adalah bagian dari sebuah penantian.

Bukankah Tuhan sudah menjanjikan bahwa sesungguhnya manusia di dunia ini adalah berpasang-pasangan? Jadi, tidak usah mengeluh untuk menunggu, jika pada akhirnya nanti semua orang akan merasakan hal yang sama, yaitu bertemu jodoh.

3. Rezeki

Tiap orang mempunyai kadar rezekinya masing-masing. Cukup atau tidak cukup itu adalah kepantasan yang diberi Tuhan untuk manusia. Berusaha adalah bukti untuk mempersiapkan diri terhadap datangnya rezeki. Datangnya rezeki yang diharapkan adalah bagian dari perwujudan penantian yang tertunda.

4. Kiamat

Nah ini lagi, hari akhir atau kiamat itu adalah rahasia terbesar Tuhan. Dijamin tidak seorang pun yang mendapat bocoran dari Tuhan tentang tanggal pastinya. Yang mereka ketahui hanya tanda-tanda datangnya hari kiamat. Maka bersabarlah, penantian yang tertunda ini pasti akan tiba tepat pada waktunya.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Kado Puisi untuk Orang Tua
  • Memaknai Kata Cinta Sejati dalam Puisi Sapardi Djoko Damono
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA