Bebaskan Bumi dari Pencemaran Polusi Udara
Ilustrasi pencemaran polusi udara
Asap dan kabut yang membumbung di langit kota sudah sering kita jumpai, baik itu berasal dari kendaraan bermotor maupun industri. Asap tersebut merupakan salah satu bentuk pencemaran polusi udara yang paling umum dikenal.
Ada juga bentuk lain polusi. Beberapa tampak mata, beberapa yang lain tak terlihat dan menyumbang efek pemanasan global. Pada dasarnya, zat apa pun yang dikeluarkan ke atmosfer, yang menimbulkan efek kerusakan pada makhluk hidup dan lingkungan dapat dikategorikan sebagai zat pencemar yang mengakibatkan pencemaran polusi udara.
Macam Polutan
Tak diragukan lagi, bahwa ibu kota merupakan gudangnya pencemaran yang berasal dari asap kendaraan bermotor. Setiap hari, jalan raya di ibu kota selalu dipadati oleh ratusan kendaraan dari berbagai jenis, mulai dari angkot, motor, mobil pribadi, bus, metro mini, dan kendaraan sejenis. Bayangkan saja, selama 24 jam berturut-turut, setiap hari, dan tanpa jeda, jalan raya seolah dieksploitasi oleh berbagai macam jenis robot berjalan tersebut.
Apa akibat yang ditimbulkan? Sudah bisa dibayangkan bahwa jawabannya adalah pencemaran udara. Jelas, setiap hari berapa ratus kendaraan yang mengotori udara di jalan raya dengan asapnya tanpa pernah “dibersihkan”. Bisa ditebak betapa kotornya kondisi udara di ibu kota.
Karbondioksida adalah gas rumah kaca merupakan polutan utama yang menyebabkan pemanasan global. Karbondioksida dihasilkan dari asap kendaraan bermotor, pesawat terbang, pabrik dan industri, serta aktivitas lain yang melibatkan penggunaan bahan bakar, misalnya minyak bumi dan gas alam. Dalam kurun waktu 150 tahun terakhir, penambahan karbondioksida di atmosfer sangat melonjak tinggi.
Gas rumah kaca yang lain, yaitu metana dan chlorofluorocarbons (CFCs). Metana banyak dihasilkan di daerah peternakan, salah satunya dari kotoran sapi. Sebelum dilarang, CFC digunakan pada lemari es dan produk aerosol. CFC menimbulkan kerusakan pada lapisan ozon.
Polutan lain yang berkaitan dengan perubahan cuaca adalah sulfur dioksida. Sulfur dioksida menyebabkan hujan asam. Letusan gunung berapi melontarkan sulfur dioksida dalam jumlah banyak ke atmosfer. Namun, penyebab meningkatnya sulfur dioksida dewasa ini adalah aktivitas manusia.
Padahal bila kita tahu, banyak sekali dampak pencemaran udara yang sangat merugikan. Dampak pencemaran udara tersebut di antaranya adalah sebagai berikut.
- Kulit kusam (karena setiap hari terkena kotoran dan debu)
- Elastisitas kulit merosot tajam
- Radang paru-paru (terutama bagi orang-orang yang memang sudah memiliki masalah dengan paru-paru)
- Penuaan dini
- Flek hitam
- Keriput
- Kanker kulit
- Batuk
- Stres
- Mudah marah
Ternyata, sungguh parah dampak pencemaran udara yang ditimbulkan bagi kesehatan kita. Tidak hanya menyerang fisik, tapi juga nonfisik atau kondisi kejiwaan.
Sebagai contoh, orang-orang yang berada di kota besar memiliki kelabilan emosi yang tinggi dibandingkan dengan orang-orang yang tinggal di kota kecil. Dari sisi fisik misalnya, orang-orang yang berada di ibu kota rata-rata lebih cepat tua dibandingkan dengan orang-orang yang tinggal di kota kecil. Kalaupun orang yang tinggal di kota besar atau ibu kota memang awet muda, pastilah karena perawatan yang tidak mudah.
Pencemaran udara memang sebuah kondisi yang sangat memprihatinkan. Dampak dari pencemaran polusi udara tak hanya dirasakan dalam jangka pendek seperti yang telah disebutkan di atas, namun juga dalam jangka panjang. Dampak pencemaran udara juga tidak hanya berefek samping pada kesehatan kita, namun juga berefek domino ke segala bidang kehidupan.
Polusi Udara di Rumah
Polusi udara juga dapat terjadi di rumah. Meski dalam skala kecil, namun jika setiap rumah menyumbang polusi udara, maka polusi udara akan semakin meningkat. Pemakaian cat tembok dapat menyebabkan polusi udara dengan keluarnya bahan-bahan kimia yang terkandung di dalamnya.
Demikian juga dengan penggunaan bahan bakar untuk kompor, oven, dan pemanas air atau ruangan. Namun, polusi udara terbesar dalam skala indoor berasal dari asap rokok. Asap rokok mengandung bahan kimia berbahaya yang menyebabkan kanker, penyakit jantung, dan penyakit berbahaya lainnya. Kita semua tentu sudah mengetahuinya.
Mengurangi Polusi Udara
Melihat pentingnya hutan kota sebagai paru-paru kota yang dapat membantu menetralisir pencemaran polusi udara yang disebabkan oleh kendaraan bermotor, harusnya hutan tersebut minimal seluas 2 hektar.
Akan tetapi, mungkin agak sulit untuk membuat seperti Central Park, New York, yang begitu hijau dan luas dengan semua fasilitas umum bagi pengunjungnya. New York yang merupakan salah satu kota terpadat di dunia saja mempunyai lebih dari seribu taman.
Mengapa kota-kota di Indonesia yang tidak sepadat New York tidak mampu membuat hutan kota atau minimal taman kota yang cukup rindang? Atau mungkinkah setiap sudut kota atau setiap 10 km, ada hutan seluas seperempat hektar saja?
Bukankah pengaruh timbal terhadap otak bayi dan anak-anak sangatlah jahat. Timbal yang keluar dari knalpot kendaraan dapat menyebabkan kerusakan otak permanen. Paru-paru yang tidak baik juga akan membuat pertumbuhan fisik tidak normal.
Selain itu, akibat dari polusi udara adalah stres yang dirasakan oleh penghuni kota. Stres yang tak terkendali dapat merusak mental dan jiwa. Bila sudah terlalu stres, maka penggunaan narkoba akan merajarela dan tingkat kejahatan pun akan semakin meroket.
Di daerah perkotaan, setiap perusahaan besar diwajibkan untuk membuat taman kota yang pada akhirnya dapat dijadikan hutan kota bila ditata rapi. Bila perlu, demi sebuah hutan seluas satu hektar saja, biaya pembuatan dan perawatan ditanggung oleh beberapa perusahaan.
Pohon yang ditanam pun bisa berupa pohon produktif sehingga suatu saat pohonnya dapat ditebang dan uangnya untuk pembelian bibit dan perawatan hutan selanjutnya. Pohon-pohon buah, seperti, mangga, rambutan, jambu air juga bisa ditanam di hutan.
Yang menjadi masalah adalah perawatan hutan kota. Rendahnya tingkat kesadaran masyarakat untuk memelihara fasilitas umum merupakan salah satu hal yang menghambat kemajuan pembangunan di Indonesia.
Hingga ada pameo yang beredar di masyarakat yang mengatakan bahwa rakyat Indonesia adalah rakyat pembangun, tapi tak mampu memelihara sehingga hasil pembangunan itu sia-sia saja tak mampu mendatangkan kesejahteraan kepada masyarakat itu sendiri.
Program go green yang diusung beberapa tahun ini tidak terlalu dipedulikan. Penanaman seribu pohon untuk mengurangi global warming juga tidak terlalu mendapatkan respon dari masyarakat.
Padahal program tersebut sangat bagus, tapi karena tidak didukung penuh oleh masyarakatnya dan fasilitasnya kurang, maka program tersebut hanya sebagai bahan perbincangan saja. Hanya ada slogan-slogan yang dipampang di depan umum.
Program tersebut digembor-gemborkan, tapi penebangan pohon pun semakin banyak. Penggundulan hutan dan gunung terus meningkat, sedangkan penanaman kembali pohonnya tidak dilakukan.
Gunung yang gundul dibiarkan begitu saja, sehingga menjadi gersang dan tanahnya tandus dan global warming semakin meningkat. Pohon sebagai sumber yang dapat mengurangi global warming malah habis ditebang. Rumah-rumah kaca semakin banyak. Jadi, jangan heran jika keadaan bumi ini semakin hari semakin panas.
Daerah perkotaan yang jarang di tanam pepohonan dan banyaknya rumah kaca, hawanya panas dan tidak sejuk. Berbeda apabila di pedesaan yang keadaan alamnya masih banyak pepohonan dan rumah-rumah kaca masih jarang, hawanya itu sejuk dan segar.
Akan tetapi, di daerah pedesaan saja sekarang sudah mulai terasa sumpek. Populasi manusia yang semakin banyak dan ditambah pembangunan lahan industri di daerah pedesaan, membuat hawa pedesaan mulai tercemar dan tidak sejuk.
Jadi, di mana kita dapat menemukan tempat yang sejuk dan nyaman? Apakah masih ada tempat yang seperti itu di Indonesia? Kalaupun ada, itu hanya ada di beberapa tempat saja.
Negara-negara di dunia telah menyetujui pembatasan emisi karbondioksida dan gas rumah kaca lain. Salah satunya adalah melalui Protokol Kyoto, yaitu suatu perjanjian di antara negara-negara untuk mengurangi emisi karbondioksida.
Cara lain adalah dengan meninggikan pajak untuk aktivitas yang berhubungan dengan emisi karbon atau bahan bakar, sehingga orang-orang dan perusahaan akan terpicu untuk menghemat bahan bakar dan mengurangi polusi.
Dalam skala pribadi, kita dapat mengurangi pemakaian kendaraan bermotor. Misalnya, dengan bepergian menggunakan kendaraan umum. Kita juga dapat menghemat energi dan bahan bakar, serta melakukan recycling.
Setelah mengenal sumber dan sebab pencemaran polusi udara, sudah sepantasnya kita melakukan yang terbaik demi masa depan anak cucu. Mari kita mulai dari diri sendiri untuk menciptakan dunia yang lebih ramah lingkungan untuk kesehatan kita semua.

