Cikal Bakal Tradisi Pendekar Banten
Hingga hari ini, Banten selalu identik dengan istilah-istilah yang mempunyai konotasi negatif. Bagaimana tidak, soal golok, santet, teluh, pelet, dan hal-hal yang berbau mistik dan kekerasan masih saja disandingkan jika kita menyebut-nyebut nama Banten.
Hal ini memang sudah lumrah. Banten dan dunia jawara atau pendekar memang seumpama dua mata sisi uang yang sulit dipisahkan. Ada akar sejarah di Banten yang masih melekat erat pada warga Banten hingga hari ini. Lantas, dari mana cikal bakal kemunculan tradisi pendekar di Banten tersebut?
Syekh Yusuf Al Makasari
Berbicara pendekar di Banten maka kita juga akan berbicara pada sosok ulama terkenal yakni Syech Yusuf Al Makasari. Dari namanya saja kita bisa mengidentifikasi bahwa beliau bukanlah warga kelahiran Banten. Beliau adalah ulama kelahiran Bugis, Makasar.
Namun, karena perjalanan yang selalu dilakoninya menjadikan Syekh Yusuf menetap lama di Banten dan menjadi kaki tangan atau penasihat bagi Sultan Ageng Tirtayasa. Mereka berjuang bersama dalam menyebarkan agama Islam dan melawan penjajahan yang dilakukan Belanda.
Kedalaman Ilmu
Syekh Yusuf sangat terkenal dengan kedalaman ilmu agama dan ilmu kanuragannya. Pada 1670 sekembalinya dari Mekkah, beliau memilih tinggal di kesultanan Banten, lalu menikah dengan Putri Sultan Ageng. Melihat kemampuan wawasan agama dan kemahiran bela diri beliau yang cukup mumpuni, maka itu menjadi daya tarik tersendiri.
Kala itu, dengan cepat Banten pun menjadi semacam sentra pendidikan agama Islam yang didatangi pelajar dari berbagai penjuru negeri. Melihat kondisi penjajahan Belanda yang semakin menggelisahkan, akhirnya Syekh Yusuf tidak hanya mengajarkan agama, tetapi juga membekali para muridnya dengan ilmu bela diri yang kelak akan berguna dalam melawan Belanda yang kian hari kian melakukan penindasan.
Pengasingan
Kiprah dan gerakan yang dilakukan Syekh Yusuf ternyata membuat Belanda gelisah. Hal ini ditambah dengan kabar yang mengatakan bahwa murid-mirid Syekh Yusuf terkenal sebagai para pendekar Banten yang tidak mempan senjata tajam dan peluru, dan beberapa kali membuat para prajurit Belanda kocar-kacir.
Namun, Belanda tidak mau menyerah. Lalu, Belanda mulai melakukan penghasutan. Sultan Haji, putra Sultan Ageng, termakan hasutan juga. Anak dan ayah pun bertempur. Sultan Haji yang dibantu Belanda memenangkan peperangan. Pada saat itu Syekh Yusuf pun segera diincar dan untuk dijadikan tawanan.
Lalu, mulailah dilakukan pengasingan kepada Syekh Yusuf. Beliau pun diasingkan ke sebuah pulau di Srilangka bernama Ceylon. Namun di sini Syekh Yusuf kembali mendapatkan respon sehingga ia menjadi berpengaruh kembali. Belanda tidak mau lagi mengulangi kesalahan, diasingkannya lagi Syekh Yusuf ke Afrika Selatan hingga akhir hayatnya. Pada 1705 kerangka Syekh Yusuf di Afrika diangkut oleh murid-muridnya ke Sulawesi Selatan.
Begitulah kiprah sosok Syekh Mansur Al Makasari. Tokoh yang menjadi bahan perbincangan di kalangan cendikia Banten dan disebut-sebut sebagai cikal bakal tradisi jawara atau pendekar di Banten yang merebak di berbagai sudut daerah Banten hingga hari ini.






