logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Psikologi    Psikologi Pendidikan

Pendidikan Seksual di Sekolah


Ilustrasi pendidikan seksual

Penelitian terbaru menyebut seks di luar nikah sudah sedemikian parah. Para pelajar sudah akrab dengan seks bebas. Angka kehamilan kian meninggi. Video mesum pelajar gampang dilacak di internet. Pendidikan seksual harus segera diberikan dan mendesak untuk dijadikan materi edukasi di sekolah.

Menurut Douglas Greer, jika ingin membenahi masyarakat maka kita harus kembali pada permasalahan di sekolah. Pendidikan seksual bukan hal sepele. Karena kultur kita yang menabukan seks, bicara tentang organ intim pun masih kikuk. Terutama dengan orang tua.

Padahal, dari mereka harapan ditumpukan. Maka pelajar berpaling ke sumber informasi lain. Group reference itu berasal dari internet, teman, dan lain-lain. Namun, bukan pendidikan seksual yang didapat melainkan video seks!

Pendidikan Seksual

Lalu apa peta jalan untuk mengatasi kondisi pelik tersebut?

  • Materi. Pendidikan seksual layak dipertimbangkan untuk menjadi materi di sekolah. Jika di Amerika Serikat sejak kecil sudah diberi pendidikan seks, di Indonesia sampai universitas pun masih kerap kikuk berbicara seks. Pendidikan seksual tidak selalu berkonotasi porno. Sesuai pengemasan dan tujuan. Jadi, berbicara seks di kelas tidak melulu porno.
  • Seminar. Setiap beberapa bulan sekali seminar mengenai pendidikan seks harus diberikan. Melalui seminar, sekolah bisa mengundang narasumber terkenal dan artis penghibur. Pengemasan konsep seminar demikian akan membuat antusiasme pelajar tumbuh.
  • Konseling. Guru yang bertugas mengurus pendidikan seks jangan killer! Konseling bagi mereka yang terkena permasalahan seputar seks harus telaten. Karena seks adalah wilayah pribadi yang sensitif sehingga konseling harus bersifat pemberdayaan bukan memperdaya siswa.

Memahami Pembelajaran Seksual

Menurut Thomas Gordon, orang tua dapat menahan diri untuk mengajarkan nilai-nilanya pada anak-anak, karena anak akan belajar mengenal nilai-nilai orang tuanya dan mengamati apa yang dilakukan yang dan ibunya, dan dengan mendengarkan apa yang dilakukan orang tuanya.

Orang tua, seperti halnya orang dewasa lainnya yang berhubungan dengan anak-anak selama perkembangannya, akan menjadi contoh untuk anak. Orang tua secara terus menerus memberi contoh untuk keturunannya apa yang diyakininya sebagai benilai-melalui tindakannya, yang lebih memberi pengaruh daripada kata-kata.

Robert Havighurst menyatakan bahwa setiap individu, pada setiap tahapan usia mempunyai tujuan untuk mencapai suatu kepandaian, keterampilan, pengetahuan, sikap dan fungsi tertentu, sesuai dengan kebutuhan pribadi yang timbul dari dalam diri sendiri (faktor nativisme) dan tuntutan yang datang dari masyarakat disekitarnya (faktor empirisme). Pada remaja, tugas perkembangan itu adalah:

  • menerima kondisi fisiknya dan memanfaatkan tubuhnya secara efektif
  • menerima hubungan yang matang dengan teman sebaya dari jenis kelamin manapun
  • menerima peran jenis kelamin masing-masing (laki-laki atau perempuan)
  • berusaha melepaskan diri dari ketergantungan emisi terhadap orang tua dan orang dewasa lainnya.
  • mempersiapkan karir ekonomi
  • mempersiapkan perkawinan dan hidup berkeluarga
  • merencanakan tingkah laku sosial yang bertanggungjawab
  • mencapai system nilai dan etika tertentu sebagai pedoman tingkah lakunya

Peran seksual pada hakikatnya adalah sebagai bagian dari peran sosial juga. Anak harus mempelajari perannya sebagai anak dari jenis kelamin tertentu terhadap jenis kelamin bersangkutan tetapi juga oleh lingkungan dan faktor-faktor lainnya.

Dengan demikian tidak otomatis seorang laki-laki harus bermain mobil-mobilan dan robot-robotan sedangkan anak perempuan bermain boneka dan rumah-rumahan. Kenyataan menjunjukkan bahwa banyak anak laki-laki tertarik pada boneka dan anak perempuan pada robot-robotan dan mereka akhirnya menjadi orang dewasa pria atau wanita yang normal (tidak menjadi banci).

Persons berpendapat pada umumnya kepribadian yang diharapkan dari laki-laki berdasarkan norma baku yang berlaku di manapun adalah dominant, mandiri, kompetitif dan aserif, karena laki-laki diharapkan menjadi pencari nafkah dan pelindung untuk keluarganya.

Sebaliknya, perempuan diharapkan baik hati, senang mengasuh, suka bekerjasama, dan peka terhadap perasaan orng lain, karena secara tradisional wanita diharapkan menjadi istri dan ibu yang mengurus rumah tangga dan anak-anak.

Menurut Hurlock, belajar berperan sesuai dengan jenis kelamin merupakan bagian normal dari proses pertumbuhan. Terdapat pola-pola yang disetuju dan ditentukan dari proses pertumbuhan.

Terdapat pola-pola yang disetujui dan ditentukan secara budaya bagi anak perempuan dan anak laki-laki dalam berfikir, bertindak, berpenampilan, dan berperasaan. Pada saat anak-anak beralih ke masa remaja dan ke masa dewasa, mereka belajar untuk memainkan peran yang ditentukan ini.

Diartikan secara umum, istilah “peran seks” berarti pola perilaku bagia nggota kedua jenis kelamin yang disetujui dan diterima kelompok sosial, tempat individu menindetifikasikan diri. Block telah mendefinisikan peran seks dengan lebih spesifik pria dan wanita dalam budayanya.” Ward telah memperkuat definisi ini dengan mengatakan, “peran seks yang ditentukan secara budaya mencerminkan perilaku dan sikap yang umumnya disetujui sebagai maskulin atau feminin dalam suatu budaya tertentu”.

Dengan adanya pembagian peran seks, lama kelamaan berkembang pula stereotip tertentu.

Pola komunikasi yang berlangsung dalam keluarga akan berperan dalam mengembangkan pendidikan seks pada remaja. Pola komunikasi menggambarkan perlakuan dan kebiasaan yang terjadi dalam keluarga tersebut, serta menunjukkan peran dan kedudukan individu dalam keluarganya. Walau peran orang tua dominan dalam keluarga.

Caroyn Jabs berpendapat bahwa mereka bisa mencari cara supaya anak-anak bisa berperan serta dalam keluarga. Menurut Moks, bila anak tumbuh dalam lingkungan yang menerimanya, bila ia memperoleh kehangatan, maka hal-hal ini akan berpengaruh sangat positif bagi perkembangan yang sehat. Anak mulai mengadakan emansipasi, menentukan dan mengembangkan kemampuannya dalam batasan-batasan yang diberikan oleh keluarga. Hal-hal tersebut sangat berpengaruh terhadap pandangan dan perkembangan daya fakir anak terhadap segala sesuatu, termasuk soal Jender.

Diharapkan dengan mengembangkan pendidikan seks yangh tepat dengan pemahaman gender yang baik anak dapat menjadi stabil dari sisi ini. Bakat dan cita-citanya dengan bebas tanpa terikat oleh terikat pengkotak-kotakan peran dan kedudukan pria dan wanita yang diciptakan masyarakat, serta bersikap fleksibel atas segala perbedaan yang ada.

Karena lelaki dan perempuan memang diciptakan berbeda untuk saling melengkapi dan membina komunikasi yang harmonis dengan menjembatani segala perbedaan tersebut. Tanpa ada satu sama lain dari mereka melakukan tindakan seksual yang menyimpang, karena sudah memahami peran dan posisi gender dalam sudut pandang yang positif.

Tes Keperawanan

Ide untuk melakukan tes keperawanan di sekolah sempat mengemuka ke publik. Wacana itu membuat berang sebagian kalangan terutama penggiat HAM karena mendiskriminasi wanita. Mengapa tidak ada tes perjaka? Dan ide ini merupakan pelecehan pada pendidikan seksual yang harus di berikan pada anak di sekolah dalam memahami peran mereka sendiri pula.

Lagi pula, perawan atau tidak adalah area sensitif. Hak pribadi. Nah, jika tahu tidak perawan terus mau apa? Bukankah ini membuat malu pelajar bersangkutan? dan bahkan lebih buruk lagi bisa membuat semacam pengkelasan dan diskriminasi yang baru, di antara anak anak sendiri bisa timbul perpecahan dan rasa benci. Ide ini termasuk ide super bodoh.

Tes keperawanan adalah pendidikan seks yang menggelikan. Daripada mengurus tes keperawanan, lebih baik para pembuat kebijakan berkaca diri terkait skandal video mesum para pejabat yang beredar di internet.

Pendidikan seks di sekolah harus bersifat empatik. Kembali pada naluri kemanusiaan. Persoalan seks bukan dilarang langsung hilang. Seks itu dicaci tapi dicari!

Pendekatan harus lebih mengedepankan sisi emosional. Merangkul siswa untuk mendengar curahan hati. Lalu empati pada permasalahan seks yang menimpa pelajar tersebut. Baru dari situ pendidikan seks bisa heart to heart. Lebih mengena, lebih dalam, dan lebih efektif.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Tata Tertib Sekolah, Memupuk Kesadaran Mematuhi Aturan Sejak Dini
  • Urgensi Psikologi Pendidikan bagi Guru
  • Resume Psikologi Pendidikan, "Pendidikan Tanpa Sekolah!"
  • Pengertian Psikologi Pendidikan: Psikologi dalam Pendidikan
  • Menjaga Kebersihan Sekolah Tidak Sesulit yang Dibayangkan
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA