Meredupnya Nama Besar Penerbit Bulan Bintang
Dalam ranah perbukuan nasional, Penerbit Bulan Bintang termasuk satu dari beberapa penerbit yang menyandang nama besar, popular, karena didukung oleh para pemikir nasional yang kompeten untuk bidang keilmuan masing-masing. Beberapa pemikir seperti KH Moenawar Chalil, Hamka, Mohammad Natsir, Mr. Mohammad Roem, Prof. Dr. Zakiah Daradjat, Prof. Dr. H.M Rasyidi, menerbitkan buah pikirannya di Penerbit Bulan Bintang. Namun penerbit besar yang beralamat di Jalan Kramat Kwitang I No. 8 Jakarta Pusat ini belakangan semakin meredup pamornya.
Penerbit Bulan Bintang didirikan oleh Teungku Haji Amelz atau yang bernama lengkap Tengku Abdul Manaf El Zamzani dan Ny. Fatimah Z. Amelz melalui badan usaha PT Bulan Bintang pada 16 Juli 1956. Pada perjalanan selanjutnya dikelola oleh Hasanudin Zamzami sampai dengan 1980, kemudian dilanjutkan oleh Amran Zamzami bersama-sama dengan Fauzi Amelz sejak 1982.
Meredupnya pamor Penerbit Bulan Bintang bisa terlihat dari kondisi bangunan di Jalan Kramat Kwitang I No. 8 yang kini terlihat sepi. Logo “Bulan Bintang” yang tercetak di dinding depan kantor pun semakin terlihat meredup dan kusam. Padahal sebagai penerbit buku-buku Islam, gaungnya tetap terdengar sampai kini. Penerbit yang mengemban misi sebagai lembaga pengajaran, pendidikan dan dakwah ini telah menorehkan prestasi besar, namun sayang tidak bisa bertahan untuk lebih lama lagi dengan nama besarnya itu.
Pada masa keemasannya terutama dalam rentang 1977-1978, Penerbit Bulan Bintang bisa menerbitkan 120 judul buku per tahun atau 10 judul buku dalam setiap bulannya. Kemudian, mulai menurun pada rentang 1980-an yang menerbitkan 3-5 buku setiap bulannya di luar buku pesanan pemerintah. Dan langkah penerbit ini semakin tergopoh ketika memasuki tahun 1990-an.
Sebenarnya, kemunduran perusahaan sudah mulai dirasakan terutama sejak meninggalnya Haji Amelz pada 1982, perusaaan seperti terjun bebas tanpa kendali, kendati pada saat itu perusahaan telah diambil alih oleh putra almarhum, Fauzi Amelz yang pernah ditempat pendidikan di sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat.
Nama Penerbit Bulan Bintang tetap terdengar ketika membicarakan penerbit buku-buku Islam, sekali pun penerbit ini sepanjang tahun 1997-1999 tidak pernah menerbitkan buku lagi. Badai krisis ekonomi 1997 yang melanda Indonesia, berdampak sangat besar terhadap perjalanan bisnis PT Bulan Bintang ini. Proses produksi hanya dilakukan cetak ulang terhadap beberapa judul buku yang betul-betul sangat dibutuhkan konsumen.
Dibatalkannya kontrak penerbitan buku-buku laris oleh para ahli waris penulis, semakin membuat langkah Penerbit Bulan Bintang terseok. Buku karya Prof. M. Hasbi Ash-Shiddieqy yang memang laku di pasaran, termasuk yang dibatalkan kontraknya oleh ahli waris almarhum kemudian diterbitkan penerbit lain.
Manajemen PT. Bulan Bintang dalam wawancaranya dengan salah satu majalah Islam yang terbit di Jakarta menjelaskan, bahwa pendapatan terbesar perusahaan berasal dari 15 judul buku yang dibatalkan kontraknya. Padahal coba saja bayangkan, sebuah judul buku karya penulis yang dibatalkan itu bisa dicetak ulang hingga 10 edisi dan setiap edisinya dicetak minimal 10.000 eksemplar. Sebuah jumlah yang fantastis untuk ukuran buku-buku Islam pada umumnya.
Beberapa buku laris yang diterbitkan Penerbit Bulan Bintang, antara lain Negara Adil Makmur Menurut Ibnu Siena Karya H. Zainal Abidin Ahmad, Pedoman Dzikir dan Doa karya Prof. Dr. TM Hasbi Ash-Shiddieqy, Konsepsi Negara Bermoral Menurut Imam Al Gazali’ karya H Zainal Abidin Ahmad, danPerpindahan Kekuasaan di Timur Tengah karya Prof Dr Mukhtar Yahya.






