Tidak Sekedar Mengisi Pengajian
Ilustrasi pengajian
Pengajian adalah tempat berkumpulnya orang yang berbagi ilmu agama dengan orang yang menerima ilmu. Artinya, ada ustaz dan ada jamaahnya. Kesuksesan pengajian tergantung pada keduanya. Namun, tanggung jawab yang besar tertelak pada ustaznya.
Makanya, ustaz yang mengisi pengajian bukan sekedar menyampaikan ilmu agama. Tapi ia harus mengetahui kiat menjadi ustaz yang menggugah dan mengubah. Karena sia-sia yang disampaikan, jika tidak ada hasil positif yang didapat oleh jamaahnya. Adalah artikel ini akan membahas 12 kiat menjadi ustaz yang menggugah dan mengubah.
Kedua belas kiat tersebut dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama, 6 kiat yang mesti dimiliki sebelum mengisi pengajian. Bagian kedua, 4 kiat saat mengisi pengajian. Bagian ketiga, 4 kiat setelah mengisi pengajian.
Sebelum Mengisi Pengajian
Ada enam kiat yang menjadi persiapan dan mesti dimiliki penceramah sebelum bertemu dengan para jamaah. Karena sudah sering didengar, bahwa persiapan adalah kunci keberhasilan. Karena dengan memiliki persiapan akan menimbulkan kepercayaan diri. Persiapan yang harus dimiliki tak hanya dari sisi fisik, tapi juga dari spritual agar lebih mantap saat menyampaikan materi di depan jamaahnya.
Selain itu, kesiapan dari sisi spiritual juga menjadi bukti bahwa kesuksesan dalam berbicara dan menyampaikan ilmu tak terlepas dari pertolongan Allah Swt. Kesiapan seperti ini juga menumbuhkan sikap ikhlas dalam menyampaikan dakwah. Adapun 6 kiat sebelum mengisi pengajian adalah sebagai berikut.
1. Niat yang Ikhlas karena Allah
Sebelum berangkat menemui para jamaah, tanamkan dengan kuat di dalam diri bahwa niat utama mengisi pengajian adalah karena Allah Swt. Bukan karena ingin dihormati dan bukan karena materi. Karena itu, senantiasa memperbaharui niat adalah langkah awal dari persiapan mengisi pengajian.
Apalagi Rasulullah Saw bersabda, “Setiap amal tergantung pada niatnya. Bagi setiap orang apa yang ia niatkan.” Artinya, niat menjadi modal awal sebelum materi ceramah disampaikan kepada para jamaah, apakah menjadi amal atau menjadi hal yang sia-sia.
Niat bisa menjadi kekuatan yang dapat membuat penceramah menjadi lebih powerfull. Karena niat menjadikannya hanya bergantung kepada Allah. Apa yang dibicarakan penceramah menjadi amal saleh. Sikap sombong saat berceramah pun jadi hilang. Terlebih utama, dengan niat yang ikhlas, akhlak selama berceramah di depan jamaah akan terjaga.
2. Fokus pada tujuan
Fokus pada tujuan adalah bagian yang mesti disiapkan oleh para ustaz atau penceramah. Karena tujuan utama para ustaz atau penceramah dalam berdakwah adalah, jamaah pengajian dapat ‘menangkap’ materi yang disampaikannya. Makanya, fokus pada tujuan pembicaraan adalah kuncinya.
Jika penceramah tidak fokus pada tujuan apa yang disampaikannya, maka arah pembicaran yang disampaikannya bisa melompat-lompat. Hal ini terntu saja memberikan efek buruk bagi para jamaah. Yaitu, mereka sulit menangkap inti ceramah yang disampaikan.
Satu hal lagi, jika penceramah tidak fokus sejak awal pada tujuannya, ketika nanti menyampaikan materi bisa-bisa waktu menyampaikan lebih banyak dan tidak efisien. Plus, penceramahnya pun sulit untuk memberikan kata-kata yang menggugah. Pasalnya, tidak tahu mana yang mesti ditekankan.
Karena itu, sebelum memulai pengajian, penceramah mesti menyiapkan materi yang disampaikan dan fokuslah pada tujuan. Jangan melenceng dari materi yang disampaikan.
3. Yakinkan Jamaah dengan Informasi Akurat
Dalam teori motivasi kerap dikatakan, “Orang akan melakukan tindakan jika tahu keuntungannya, dan akan meninggalkan atau menghindari sesuatu jika tahu kerugiannya.” Teori ini berlaku untuk para penceramah. Jika ingin menjadi penceramah yang dapat mengubah para jamaah menjadi lebih baik, perkuatlah materi ceramah yang disampaikan dengan informasi yang akurat. Baik dengan dalil-dalil, maupun dengan cerita-cerita hikmah.
4. Hayati Tujuan
Sebelum berceramah, terlebih dahulu laksanakan apa yang bakal disampaikan. Sampaikanlah materi sesuai dengan apa yang sudah dilakukan. Pasalnya, jika penceramah menyuruh jamaah pengajian bersedekah, namun nyatanya penceramah sendiri tidak rajin bersedekah. Maka ini tak akan mampu mengubah masyarakat.
Jadilah seperti kata bijak, “mulailah dari diri sendiri.” Artinya, jadikan materi ceramah yang disampaikan adalah bagian dari apa yang sudah dilakukan dan sudah menjadi bagian dari dirinya. Dengan memiliki kiat hayati tujuan, maka penceramah telah membentuk dirinya menjadi peceramah being, bukan lagi penceramah reading dan having.
5. Kenalilah Jamaah
Menurut Renald Kasali, “sebelum memulai pembicaraan, biasakanlah untuk selalu mempelajari kondisi pendengar. Lalu, buka pikiran dan hati mereka. Setelah mengetahui itu semua, dipastikan kita akan dapat berbicara lebih baik.”
Apa yang dikatakan Renald Kasali layak dimiliki oleh para penceramah. Karena dengan adanya pengenalan ini, penceramah bisa mengetahui apa kebutuhan jamaah, bisa menyesuaikan tingkat bahasa yang digunakan, dapat beradaptasi dengan mudah, dan jamaah menjadi fokus mendengarkan ceramah yang disampaikannya.
6. Penampilan yang baik
Menyiapkan penampilan sebelum berceramah adalah hal yang paling baik. Baik bagi dirinya sendiri, maupun bagi jamaah. Dengan penampilan yang baik, bisa menyelamatkan jamaah dari menilai penceramah dengan buruk. Dengan penampilan yang baik, penceramah juga bisa percaya diri. Karena itu, jika ingin dihargai jamaah, maka penceramah mesti menghargai dirinya sendiri.
Saat Mengisi Pengajian
Setelah membahas enam kiat yang mesti dimiliki oleh penceramah, kini yang dibahas adalah enam kiat saat berceramah.
1. Satukan Hati
Agar ceramah yang disampaikan mampu menggugah jamaah, maka sampaikan dengan menggunakan hati. Caranya adalah, jangan sampaikan materi ceramah sebelum pencairan suasana. Karena jika materi ceramah langsung disampaikan saat penceramah atau jamaah masih tegang dan kaku, maka akan timbul ketidaknyamanan.
Maka lakukanlah terlebih dahulu dengan pencairan suasana. Caranya dengan menyapa jamaah terlebih dahulu. Jika tahu bahasa daerah tempat dakwah diadakan, maka tanyalah kabar jamaah dengan menggunakan bahasa daerah tersebut.
Saat suasana sudah cair, di dalam ceramah jangan gunakan kata “aku”, tapi usahakanlah untuk menggunakan kata ‘kita’. Dengan penggunaan kata ‘kita’, penceramah menjadi bagian dari orang yang layak mengamalkan ilmu yang disampaikan.
2. Hadirkan Humor dan Visualisasi
Agar suasana tidak kaku, penceramah harus bisa menghadirkan humor, baik dengan cerita maupun dengan visualisasi diri. Humor menjadi langkah lanjutan setelah adanya penyatuan hati antara penceramah dengan jamaah. Dengan humor, penceramah benar-benar dapat menggugah karena bisa menarik perhatian jamaah
3. Penyesuaian Intonasi Suara
Dalam penyampaian materi ceramah, penceramah mesti bisa menggunakan dengan tepat kapan harus menggunakan suara tinggi dan rendah. Jangan sampai nada ceramah yang disampaikan datar, karena bisa membuat jamaah menjadi mengantuk. Standar ceramah yang baik adalah keras, tegas, dan jelas.
4. Peka Terhadap Jamaah
Penceramaah saat menyampaikan materi harus peka dengan kondisi jamaah. Jika dilihat masih memungkinkan untuk diberikan penjelasan panjang, maka berikanlah. Jika terlihat jamaah sudah tidak semangat, maka penceramah segera menutup. Janganlah jadi penceramah yang asyik sendiri.
Setelah Mengisi Pengajian
Setelah membahas apa yang mesti dilakukan penceramah di saat meyampaikan materi pengajian, maka kini akan dibahas apa yang mesti dilakukan pasca pengajian. Ada dua hal yang harus dilakukan penceramah
1. Evaluasi Diri dan Perubahan Diri
Agar menjadi penceramah yang menggugah dan mengubah, harus selalu mengevaluasi diri. Melihat apa yang terasa kurang saat penyampaian materi. Berusaha juga mengkaji apa yang menyebabkan adanya kekurangan tersebut.
Setelah itu, simpulkan hasil evaluasi yang dilakukan. Carilah solusi apa yang mesti dilakukan agar kekurangan tersebut tidak hadir lagi saat menyampaikan materi ceramah. Sudah jamak diketahui, ciri orang sukses adalah yang selalu melakukan perubahan ke arah yang lebih baik
2. Perkuat dengan Ibadah
Setelah melakukan evaluasi diri dan bersiap ingin melakukan perubahan, maka langkah selanjutnya agar niat ikhlas mengisi pengajian yang dapat mengubah jamaah adalah dengan memperkuat ibadah. Iringi dengan ibadah-ibadah sunnah yang dianjurkan, seperti shalat dhuha, shalat tahajud, baca al-Quran, sedekah, dan ibadah-ibadah sunnah lainnya.
Usai beribadah, mohon kepada Allah Swt. untuk memberikan petunjuk terbaik agar perubahan diri dalam hal penyampaian materi pengajian dapat berhasil dengan baik. Karena tak ada yang dapat menolong dan memudahkan penceramah untuk mewujudkan cita-cita menjadi penceramah yang menggugah dan mengubah, selain Allah Swt.

