logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Agama & Kepercayaan    Islam    Ibadah Umroh    Pengalaman Umrah

Pengalaman Melaksanakan Ibadah Umrah

Oleh: AnneAhira.com Content Team

[img:left]pengalaman-umrah.jpg[/img]

Pengalaman umrah saya terjadi pada pertengahan April 2008. Saat itu, saya berangkat bersama bersama almarhum ayah, ibu, kakak, kakak ipar, dan adik.

Rencana tersebut sudah menjadi cita-cita kami sekeluarga sejak beberapa tahun sebelumnya. Alhamdulillah, ayah memperoleh rezeki hingga kami semua bisa berangkat.

Itu adalah kali pertama bagi saya, kakak, kakak ipar, dan adik pergi ke luar negeri. Jadi, kami harus membuat paspor terlebih dahulu.

Perihal agen perjalanan umrah tidak menjadi masalah yang memusingkan karena sepupu kami menjalankan bisnis tersebut di Jakarta sejak bertahun-tahun lalu. Jadi, tentu saja kami memilih perusahaannya, terlebih karena beliau pun ikut serta menemani.

Tiga hari sebelum waktu keberangkatan, kami sekeluarga ke Jakarta untuk tinggal di rumah sepupu kami dan mengikuti kegiatan manasik serta berbelanja berbagai keperluan yang belum lengkap.

Selama tiga hari itu, saya dan keluarga sibuk menghafalkan doa-doa dan membaca hal-hal yang berkaitan dengan ibadah umrah. Saya banyak bertanya kepada ayah dan ibu yang telah melaksanakan ibadah haji mengenai persiapan fisik, mental, serta detail ibadah yang akan dilakukan di Tanah Suci.

Ketika tiba waktunya berangkat ke Jeddah dari Bandara Soekarno-Hatta, perasaan saya sudah gugup tak karuan. Maklum, saya merasa banyak dosa dan sangat ketakutan akan memperoleh balasannya secara langsung di Tanah Suci.

Namun, saya berusaha tenang dengan meyakinkan diri bahwa ibadah ini adalah untuk memperkuat keimanan dan mendekatkan diri kepada Allah. Saya berniat hendak memohon ampun kepada-Nya dan berdoa untuk kehidupan saya selanjutnya di hadapan Ka’bah.

Setelah duduk di dalam pesawat, saya mulai tenang dan menikmati perjalanan menuju Jeddah, adapun waktu perjalanan adalah 9 jam, dengan selisih waktu 4 jam. Artinya, saya take off dari Soekarno-Hatta pukul 15.45 WIB, tambahkan 9 Jam, berarti saya tiba di Jeddah pukul 23.45, dikurangi 4 Jam (perbedaan waktu), jadi tepatnya saya mendarat pukul 20.45 waktu Jeddah.

Setelah selesai urusan imigrasi dan bagasi, kami menuju bus jemputan. Di dalam bus, telah menunggu pemandu yang bekerja sama dengan agen perjalanan kami. Pemandu kami telah tinggal di Arab Saudi selama 12 tahun dan berpengalaman memandu jamaah haji serta umrah.

Di Jeddah, kami menginap semalam. Esok paginya, agen perjalanan telah menjadwalkan kegiatan berbelanja di Pasar Cornish/Balad sebelum melanjutkan perjalanan ke Mekah siang harinya.

Saat berjalan-jalan dan berbelanja di Pasar Cornish, kami sempat membeli ayam goreng tepung khas Saudi yang bernama Al-Baik. Kemudian, kami check-out dari hotel dan kembali duduk di bus menempuh perjalanan menuju Mekah.

Sebelum berangkat, tak lupa kami mandi sebersih mungkin tanpa wangi-wangian, mengenakan pakaian ihram, dan bersiap mengambil miqat di tengah perjalanan.

Setiba di Mekah, kami langsung menuju hotel, menyimpan barang-barang dan langsung berangkat ke Masjidil Haram untuk melaksanakan umrah. Kesan pertama saya begitu memandang Al-Haram dari luar adalah rasa takjub yang luar biasa.

Saya merasa ada di alam mimpi karena akhirnya bisa melihat masjid yang agung tersebut dengan mata kepala sendiri. Sambil memasuki masjid melalui gerbang King Abdul Aziz (ingatlah nama pintu masuk Anda, karena Anda harus keluar lewat pintu yang sama supaya tidak tersesat), kami dibimbing membaca doa-doa oleh ustadz pemandu maupun beberapa ulama yang ikut dalam rombongan.

Ketika akhirnya memasuki Masjidil Haram, hati saya semakin dipenuhi rasa haru yang semakin meluap dalam bentuk air mata. Sedikit demi sedikit, Ka’bah yang agung semakin jelas terlihat. Tubuh saya tidak kuasa berdiri tegak, demikian pula keluarga saya dan rombongan lain. Bersama-sama kami bersujud mengucap syukur karena diberi kesempatan yang luar biasa itu.

Setelah melaksanakan shalat sunah dua rakaat, kami mulai melaksanakan thawaf. Bersama-sama dengan ribuan umat Islam lain, kami berjalan mengelilingi Ka’bah. Bibir mengecup tangan untuk kemudian dilayangkan ke arah Ka’bah, wujud kerinduan kami akan kedekatan dengan Allah Swt.

Ketika thawaf, tidak apa jika kita bersentuhan secara tidak sengaja dengan orang-orang yang bukan muhrim karena memang demikian keadaannya. Seusai thawaf, kami shalat dua rakaat di hadapan Ka’bah, namun agak ke bagian pinggir.

Air mata terus berderai selama melaksanakan shalat tanpa bisa dibendung. Ketika berdoa, saya memohon keridhaan Allah Swt untuk mengampuni dosa-dosa saya, keluarga, dan semua orang yang saya sayangi. Tak lupa membacakan titipan doa yang diberikan teman-teman dan saudara di Tanah Air.

Aktivitas lainnya adalah sa’i, yaitu berlari-lari kecil di antara bukit Shafa dan Marwah yang berada di lokasi Masjidil Haram. Kami harus berlari bolak-balik sebanyak 7 kali sambil membaca doa-doa.

Subhanallah, meski orang-orang berdesakan, udara panas, kami bisa menyelesaikan sa’i dengan lancar secara bersama-sama. Setelah itu, kami melakukan tahallul, yaitu memotong sejumput rambut kepala.

Kami tinggal di masjid hingga tengah malam untuk shalat fardhu, shalat sunah, dan membaca Al-Quran. Rasanya damai sekali, dan hati terasa tenang mengetahui kami memiliki cukup banyak waktu untuk beribadah di tempat paling luar biasa di dunia ini.

Kami tinggal di Mekah selama kurang lebih 4 hari dan berkesempatan melaksanakan umrah sebanyak 3 kali. Agen perjalanan sangat berbaik hati mengantarkan kami ke tempat-tempat pengambilan miqat sambil melakukan wisata ke beberapa lokasi seperti Jabal Tsur, Jabal Uhud, Pasar Qurma, dan sebagainya.

Kami pun melanjutkan perjalanan ke Madinah, Kota Rasulullah Saw. Di kota Sang Nabi, kami menghabiskan sebanyak mungkin waktu di Masjid Nabawi karena kunjungan ke Madinah hanya 2 hari.

Tidak lupa, kami mengunjungi Raudhah untuk berdoa di sana. Suasana Masjid Nabawi sangat menyejukkan dan menenteramkan, membuat kami merasa dekat dengan Nabi Muhammad yang mulia.

Tak lupa, kami pun mengunjungi Masjid Quba dan beberapa tempat bersejarah lainnya di Madinah sebelum berangkat ke Jeddah untuk kembali ke Indonesia. Hari-hari yang kami habiskan di Tanah Suci memang tidak panjang, tetapi tentunya akan selalu tersimpan di dalam hati sebagai perjalanan yang paling indah. Alhamdulillah

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Tata Cara Ibadah Umrah
  • Haji dan Umrah ke Baitullah
  • Tata Cara Umroh yang Benar
  • Tata Cara Umrah serta Rukun-Rukunnya
  • Tips Mempersiapkan Ibadah Umrah
  • Haji Umrah: Pengertian dan Pelaksanaannya
  • Wawasan Ibadah Umrah
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA