logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Ilmu Sosial    Filsafat

Pengaruh Inflasi Terhadap Harga


Ilustrasi pengaruh inflasi
Menurunnya nilai uang akan berakibat terhadap daya beli masyarakat. Salah satu yang menjadi ukuran adalah pengaruh inflasi terhadap harga-harga di pasar. Semakin besar angka inflasi, artinya semakin mahal harga barang-barang yang ada di pasaran. Dengan demikian, daya beli masyarakat menjadi berkurang. Daya beli yang berkurang ini akan membuat ekonomi meredup. Redupnya pertumbuhan ekonomi akan membuat masyarakat gelisah. Kegelisahan ini mungkin akan membuat tingkat kejahatan meningkat.

Sekilas Tentang Inflasi

Pengaruh Inflasi ini sangat relevan dengan pertumbuhan ekonomi dan keadaan ekonomi masyarakat. Saat terjadi krisis moneter tahun 1998, inflasi tinggi sekali. Bunga tabungan terpaksa dinaikan sehingga orang dengan tabungan yang banyak, tidak merasakan adanya krisis moneter. Masyarakat yang mempunyai produk dengan harga jual tinggi seperti kopi, juga tidak mengalami krisis. Mereka tetap bisa belanja dan makan cukup gizi.

Sebaliknya, masyarakat yang tidak mempunyai apa-apa termasuk tidak mempunyai tabungan dan tidak mempunyai barang yang bisa diperdagangkan, mengalami kemerosotan dalam hal daya beli. Bahkan bisa terjadi kelaparan. Kelaparan yang merajarela ini akan sangat berbahaya. Bukan saja terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak-anak, melainkan juga akan mempengaruhi daya pikir dan mengelola perasaan. Orang bisa gelap mata karena ia lapar. Semua akan diatasnamakan urusan perut.

Kalau tingkat kejahatan meningkat, maka yang akan terjadi adalah kegelisahan dan keresahan. Orang miskin akan merasa sangat cemburu dengan orang kaya. Akhirnya penjarahan dan perampokan akan menjadi sesuatu yang lumrah. Orang merasa tidak bersalah menyakiti orang lain yang dianggapnya berhak untuk disakiti. Padahal yang mereka lakukan tentu saja melanggar hak azazi manusia. Tentu saja bangsa ini tidak mau lagi hal seperti itu terjadi.

Ketahanan dan pertahanan pangan diperkuat agar tidak terjadi kelaparan. Kalau persediaan dan harga bahan pangan di pasaran menipis dan harganya meninggi, maka pemerintah akan mengadakan operasi pasar secara besar-besaran. Sayangnya, operasi pasar ini terkadang dianggap sebagai sesuatu yang tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh. Kualitas beras yang sangat rendah dan bahan lain yang juga mempunyai kualitas dibawah barang lain yang dipasarkan dengan mekanisme pasar akhirnya hanya diminati oleh masyarakat dari kalangan yang tidak berpunya.

Sedangkan masyarakat dengan daya beli yang baik, tetap mencari beras dengan mutu yang baik. Mereka tentu saja tidak mau memakan beras yang penuh dengan ulat dan batu dan warna yang tidak layak dimakan manusia. Seharusnya pemerintah menyadari hal itu. Sayangnya, hingga saat ini, hal ini tetap berlangsung seperti itu sehingga terkadang menyakit hati nurani masyarakat.

Secara sederhana, inflasi adalah meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus. Salah satu penyebab meningkatnya harga-harga tersebut adalah banyaknya uang yang beredar di masyarakat. Semakin banyaknya uang yang beredar, nilai uang akan menurun. Nilai uang yang menurun ini akan sangat merepotkan. Kalau biasanya uang 1000 bisa membeli sesuatu, kini hanya untuk membayar parker sepeda motor. Orang tidak memandangnya sebagai satu nilai yang bermanfaat.

Tidak salah aklau pemerintah akan memberlakukan denominasi uang rupiah tanpa mengubah nilainya. Nantinya orang Indonesia bisa mengatakan kalau satu dollar Amerika itu hanya 9 rupiah dan bukannya 9000 rupiah. Dengan demikian diharapkan bahwa ada peningkatan anggapan positif terhadap nilai suatu angka dalam rupiah. Orang Indonesia akan mulai belajar mengatakan bahwa gajinya tidak dalam angka yang besar. Hal ini tentu saja membutuhkan sosialisasi yang cukup panjang agar masyarakat tidak kaget.

Menurunnya nilai mata uang akan mendorong terjadinya pergerakan harga. Pergerakan harga merupakan penyesuaian terhadap menurunnya nilai mata uang. Oleh karena itu, untuk menyesuaikan pelemahan nilai, para pelaku pasar menaikkan nilai atau harga barang yang mereka jajakan. Hal ini lumrah dan terjadi secara alamiah. Intervensi perlu dilakukan oleh pemerintah untuk menekan terjadinya inflasi. Campur tangan itu bisa dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan meningkatkan suku bunga kredit.

Peningkatan suku bunga kredit ini tentu saja akan memberatkan orang-orang yang mempunyai utang di bank. Mereka pasti akan menjerit tetapi tidak mampu menolaknya. Kredit ini sendiri mereka ambil demi mendapatkan kehidupan yag lebih baik. Mereka mengambil kredit rumah, perabotan rumah tangga, dan bahkan untuk biaya sekolah anak-anaknya. Kalau inflasi terus meningkat, artinya suku bunga juga akan meningkat.

Bila suku bunga meningkat, dikhawatirkan akan terjadi kredit macet. Masyarakat yang mempunyai utang di bank tidak mampu lagi melunasi utangnya. Mereka menyerah apapun yang akan dilakukan oleh pihak bank termasuk menyita rumahnya. Bila keadaan ini tidak segera ditangani dengan baik, maka keadaan ekonomi yang terjadi di Amerika, mungkin saja akan terjadi di Indonesia. Tentu akan menjadi sesuatu yang sangat menyedihkan kalau krisis ekonomi ini kembali mendera Indonesia.

Inflasi merupakan salah satu indikator perekonomian makro untuk menggambarkan situasi perekonomian agregat suatu negara. Inflasi harus dikendalikan agar fluktuasi harga tidak signifikan. Fluktuasi harga yang tinggi tidak disukai calon investor. Hal itu akan mempengaruhi perekonomian suatu negara karena berdampak pada investasi dan konsumsi sehingga mempengaruhi keseimbangan perekonomian yang terjalin. Bila harga suatu produk terlalu tinggi dan tidak sesuai dengan tingkat pendapatan masyarakat, maka produk yang mahal itu tidak ada yang membelinya.

Padahal investor yang menjual produk tersebut juga berutang kepada bank. Ia tidak bisa membayar utangnya, maka barangnya akan disita. Ketika barangnya disita, itu artinya ia menutup usahanya. Usaha yang bangkrut ini artinya akan menambah deret pengangguran. Pengangguran yang meningkat akan membuat angka kejahatan juga meningkat. Orang akan berusaha memenuhi kebutuhannya. Negara mungkin akan lebih banyak lagi berutang hingga suatu saat mungkin harus menjual banyak aset negara.

Aset negara yang dijual itu tentu saja akan menjadika negara ini sebagai bangsa jajahan. Betapa tidak menyenangkannya tinggal di negeri sendiri tetapi tidak memiliki tanah yang didiami. Artinya negar atelah tergadaikan. Bangsa Spanyol dan Yunani melakuakn hal ini. Mereka terpaksa menjual aset negara yang seharusnya dijaga untuk anak cucu nantinya. Apapun memang harus dilakukan demi menyelamatkan perekonomian.

Bayangkan saja akalu harga sebuah rumah mewah tidak lebih tinggi dari utang yang harus dibayar. Lalu siapa yang akan membelinya. Kalau dikatakan bahwa properti adalah investasi yang paling aman, maka ketika gejolak ekonimi memburuk, harganya bisa sangat murah. Harga yang sangat murah ini tentu saja akan menyakitkan hati sang pemilik properti. Rasa yang tidak nyaman ini akan mendatangkan stress, frustasi, bahkan depresi. Semakin terpuruklah keadaan semuanya.

Jenis Inflasi

Berdasarkan jenisnya, inflasi dapat dibagi 4 kelompok.
1. Inflasi ringan dengan karakteristik tingkat inflasi sebesar kurang dari 10% per tahun.
2. Inflasi sedang dengan tingkat inflasi antara 10%-30%.
3. Inflasi berat jika tingkat inflasi telah mencapai 30%-100%.
4. Hiperinflasi terjadi ketika tingkat inflasi mencapai lebih besar dari 100%. Kelajuan inflasi dapat begitu besar dan tidak bisa terbendung oleh kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Zimbabwe merupakan salah satu contoh negara yang sedang mengalami hiperinflasi.

Indikator-indikator yang biasa digunakan untuk menggambarkan inflasi, di antaranya Indeks Harga Konsumen (IHK), Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB), dan Deflator Produk Domestik Bruto (PDB). IHK menggabarkan keadaan harga nyata yang dihadapi masyarakat konsumen. Pergerakan harga tersebut dapat dilihat dengan melakukan survei biaya hidup.

Inflasi dan Harga

Inflasi yang stabil menjamin keberlangsungan kegiatan perekonomian rakyat. Oleh karena itu, pemerintah perlu menaruh perhatian tinggi terhadap inflasi. Fluktuasi inflasi, secara langsung, dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Berikut ini beberapa dampak atau pengaruh inflasi terhadap kondisi perekonomian masyarakat.


1. Inflasi yang tinggi akan mempengaruhi nilai real dari pendapatan masyarakat. Pendapatan real masyarakat yang turun akan berakibat pada menurunnya standar hidup masyarakat. Oleh karena itu, akan mempersulit kehidupan masyarakat.


2. Ketidakstabilan inflasi akan meningkatkan ketidakpastian. Meningkatnya ketidakpastian akan berakibat pada pengambilan keputusan masyarakat terkait faktor-faktor investasi, konsumsi, dan produksi. Hal itu tentu akan berakibat terhadap terganggunya pertumbuhan ekonomi.


3. Tingkat inflasi yang lebih tinggi dibanding negara lain akan membuat tingkat bunga domestik tidak kompetitif bila dibandingkan dengan negara lain. Akhirnya, hal ini akan berakibat pada tertekannya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Pemikiran Islam Semasa Hasan Al-Banna dan Ikhwanul Muslimin
  • Pengertian Filsafat, Dulu dan Kini
  • Filsafat Agama, Ketika Filsafat Terlepas dari Agama
  • Mengenal Aliran Filsafat Hukum
  • Definisi Filsafat: Filsafat Bagi Dunia
  • Ilmu, Filsafat, dan Agama, Tiga Jalan Menuju Kebenaran
  • Mengenal Filsafat Etika
  • Mata Hati - Mata Hakiki
  • Perkembangan Pemikiran Islam
  • Filsafat Pancasila - Falsafah Asli Indonesia
  • Aliran Filsafat Pendidikan Dalam Konsep Liberasionalisme
  • Kumpulan Pemikiran Besar Tokoh Filsafat
  • Keunikan Kalender Jawa
  • Filsafat Hukum Kaum Eksistensialis
  • Filsafat Agama Islam - Filsafat Mencari Tuhan
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA