Jangan Sepelekan Pengaruh Merokok

Jika kita adalah perokok, apalagi perokok berat tentu saja sudah hapal betul dengan pengaruh merokok yang selalu disertakan produsen pada tiap kemasan. Kurang lebih bunyinya “merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, dan seterusnya”. Pasti sudah hafal bukan?
Tidak perlu membahas bagaimana cara menghentikan kecanduan rokok? Sebab sampai buku panduan robek dan keriting, atau mulut mengomel sampai berbusa, para perokok tidak dapat menghentikan kebiasaannya manakala tidak ada niat dari diri sendiri.
Yang perlu digarisbawahi adalah pengaruh yang ditimbulkan baik pada perokok aktif maupun pasif. Terutama pengaruh yang berkaitan dengan sisi manusiawi.
Pengaruh bagi Perokok Aktif
Tidak ada yang menyalahkan bagi Anda perokok aktif yang sudah merokok di tempat “silakan merokok”. Dengan begitu, pengaruh merokok secara fisik seperti yang tertera pada kemasan, akan dirasakannya sendiri.
Tapi pernahkan kita berpikir bagaimana pengaruh merokok yang menimbulkan penyakit pada diri sendiri terhadap orang yang menyayangi atau yang kita sayang?
Misalpun kanker paru-paru atau jantung akan menyakiti perokok itu sendiri, tapi bagaimana jika penyakit seperti itu ahirnya membuat kita tidak bisa beraktivitas dengan maksimal? Jika kita sebagai orang tua yang tugasnya tak lain menjaga anak kita. Mungkinkah kita bisa menjaga mereka sambil tergolek di ranjang pesakitan?
Jangankan mencari nafkah untuk keluarga, yang ada bisa jadi keuangan keluarga porak poranda sebab dana yang ada tersedot pada biaya pengobatan penyakit akibat merokok. Mencegah memang selalu lebih baik dari mengobati.
Efek bagi Perokok Pasif
Merokok tidaklah baik, apalagi di sekitar keluarga dan sahabat , kecuali jika Anda memang berniat membunuh perlahan orang yang Anda sayangi. Sudah banyak kejadian menimpa istri atau suami yang sebenarnya tidak merokok terkena imbas dari pasangannya.
Alhasil seorang istri bisa menderita sesak nafas karena suaminya hobi merokok. Sudah banyak contoh dari perokok pasif yang di masa tuanya terpaksa mengidap penyakit paru-paru padahal dia tidak merokok.
Pernahkah Anda merasakan susahnya bernafas seperti yang dialami penderita asma? Jika belum pernah, Anda bisa mencoba menutup hidung dan mulut Anda hingga kesulitan bernafas. Itulah yang dialami orang yang kita sayangi ketika paru-paru mereka ikut sakit akibat menjadi perokok pasif.
Bagaimana Rokok Bisa Membunuh?
Anak adalah dambaan setiap orang tua. Jika singa si raja rimba saja takkan memakan anaknya, akankah kita menjadi makhluk yang lebih bengis dari singa?
Pernahkah Anda mendangar tentang karbon monoksida. Yakni sebuah carbon yang berikatan dengan oksigen tunggal (CO)? Karbon monoksida bersifat sangat toksik dan kerap menyebabkan keracunan. Gas yang sulit terdeteksi karena tidak berwarna dan tidak berbau ini dapat merusak sistem sarat pusat dan jantung.
Permasalahan terjadi karena salah satu hasil buangan rokok adalah karbon monoksida yang juga dapat menurunkan kemampuan darah membawa oksigen. Dan ketika masuk ke dalam tubuh ibu hamil, CO beserta zat toksik lain seperti tar yang merusak paru-paru, arsanik (racun semut putih), toluene (pelarut industri) dll, berpotensi menyebabkan keguguran.
Tak ubahnya sebuah aktivitas pengguguran terselubung bukan? Ironis sekali ketika banyak orang berbicara tentang hak asasi manusia tapi di sisi lain justru tanpa sadar melanggarnya. Sebab menggugurkan sama artinya dengan membunuh, melanggar hak hidup.
Ingin Anak Anda tidak Cerdas dan Mudah Stress?
Selain keguguran yang dapat mengancam jiwa, nikotin dalam rokok yang terserap dalam tubuh ibu hamil berpotensi menurunkan volume otak serta menurunkan konektivitas sel-sel otak janin. Jadi jangan heran jika Anda tidak menghentikan kebiasaan merokok (termasuk perokok pasif), Anak yang Anda sayangi cerderung kurang cerdas.
Tak hanya itu, banyak penelitian telah membuktikan bahwa anak yang dikandung oleh ibu yang kerap merokok, akan mudah stress dan tempramental. Kasihan bukan, anak yang semestinya dijaga dengan baik justru dibekali dengan hal-hal yang tidak baik.
Bahkan sebuah studi di Brisbane Australia, menyatakan bahwa anak yang dikandung oleh ibu yang perokok berat berpeluang tiga kali lebih besar untuk merokok di usia remajanya, yakni di bawah 14 tahun. Dan ketika berusia di atas 14 tahun bepotensi dua kali lebih besar untuk merokok dibanding mereka yang dikandung oleh ibu yang tidak merokok.
Pilihan ada di tangan kita. Setidaknya, bagi yang tidak merokok, baiknya jangan pernah coba-coba. Apalagi yang merasa tidak jantan tanpa merokok. Semua itu tidaklah benar. Dan bagi yang terlanjur menjadi perokok, perlu kiranya kita renungkan pengaruh merokok dari segi psikologi seperti diungkapkan di atas.






