Pengasuhan
Jika membicarakan tentang pengasuhan, tentu yang pertama kali terlintas adalah hal-hal yang berkaitan dengan dunia anak. Pengasuhan adalah pengalaman, keterampilan, kualitas, dan tanggungjawab orangtua dalam mendidik dan merawat anak-anaknya. Dalam pola pengasuhan anak, ada dua faktor yang saling berkaitan untuk tumbuh kembang anak. Dua hal tersebut adalah interaksi ibu dan anak, dan komunikasi timbal balik. Hal inilah kemudian dapat disimpulkan bahwa pengasuhan merupakan bentuk interaksi dan pemberian stimulasi dari orang dewasa yang ada di sekitar kehidupan anak.
Orangtua yang berperan sebagai pengasuh utama anak di rumah memiliki pola pengasuhan sendiri. Pola pengasuhan ini harus lah mengajarkan anak untuk bisa hidup mandiri, matang, percaya diri, memiliki rasa ingin tahu, bersahabat, dan berorientasi untuk sukses.
Dalam pelaksanaannya, terdapat dua unsur penting dalam pengasuhan anak yang dilakukan oleh orantua, di antaranya sebagai berikut:
- Responsiveness, yaitu tingkat responsive dari orangtua ke anak berupa dukungan dan kehangatan kepada anak.
- Demandingness, yaitu tuntutan dari orangtua kepada anak berupa aturan dan konsekuensi atas perbuatan yang telah anak lakukan.
Unsur ini harus dimiliki oleh orangtua, untuk memberikan pola pengasuhan yang baik terhadap anaknya.
Pola Pengasuhan Anak
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, pengasuhan yang dilakukan oleh orangtua kepada anaknya tentu berbeda-beda. Pola pengasuhan ini dilakukan sebagai cara interaksi orangtua kepada anaknya. Pada dasarnya terdapat dua tipe dalam pengasuhan. Tipe atau pola pengasuhan ini di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Gaya Pelatihan Emosi (Parental Emotional Styles)
Seperti dari namanya, gaya pelatihan ini menangani masalah emosi anak. Gaya pengasuhan ini terbagi menjadi dua bagian, bagian pertama adalah gaya pelatihan emosi, dan selanjutnya adalah gaya pengabaian emosi. Berikut adalah penjelasan bagian dari gaya pelatihan emosi:
a. Gaya Pelatih Emosi (Coaching)
Gaya pelatih emosi ini merupakan cara pengasuhan yang dilakukan orangtua untuk membantu anak menangani emosinya terutama emosi negatif. Orangtua tipe ini mampu menilai emosi negatif anak sebagai kesempatan untuk menciptakan keakraban tanpa hilangnya sifat sabar yang dimilikinya.
Bentuk dari pengasuhan ini berhubungan dengan kepercayaan orangtua terhadap anak untuk mengatur emosi dan menyelesaikan suatu masalah. Bentuk pengasuhan anak ini sangat mengedepankan peran orangtua yang harus bersedia untuk meluangkan waktunya ketika anak sedih, marah, dan takut serta mengajarkan cara untuk mengungkapkan emosi yang dapat diterima oleh orang lain.
b. Gaya Pengabai Emosi (Dismissing Parenting Style)
Pola pengasuhan anak seperti ini dilakukan oleh orangtua yang tidak memiliki kesadaran dan kemampuan untuk mengatasi emosi anak. Orangtua yang memiliki pola asuh seperti ini akan menganggap bahwa saat anak sedih mereka akan bersikap cengeng, sehingga orangtua tidak akan menyelesaikan masalah anak dan beranggapan bahwa emosi anak yang seperti itu akan hilang dengan sendirinya.
2. Gaya Pendisiplinan
Seperti halnya dengan gaya pengasuhan orangtua, gaya pendisiplinan pun memiliki banyak ragamnya. Terdapat tiga gaya pendisiplinan yang biasa berlaku dalam pola pengasuhan anak. Berikut adalah gaya pendisiplinan pada anak:
a. Otoriter (authoritarian)
Pola asuh ini menekankan pada pemberian aturan ketat dan adanya otoritas dari orangtua untuk menetapkan aturan yang bersifat kaku dan harus dilaksanakan serta tanpa adanya penjelasan mengapa aturan tersebut harus dilakukan. Orangtua dengan pola pengasuhan seperti ini biasanya menerapkan pengawasan yang tinggi kepada anak dan mendikte segala perbuatan yang seharusnya dilakukan anak. Selain itu, orangtua dengan pola pengasuhan seperti ini juga tidak mengharapkan anak membantah keputusan yang telah ditetapkan.
b. Demokratis (authoritative)
Pola asuh ini menempatkan orangtua sebagai partner serta juga pembimbing yang memberikan aturan-aturan dalam perjalanan. Orangtua di sini memberi batasan yang tinggi terhadap anak dan juga memberikan penjelasan sesuai dengan pola pikir anak. Selain itu, orangtua juga memberikan toleransi kepada anak.
Orangtua dengan pola asuh seperti ini tidak hanya memberikan batasan dan aturan kepada anak, tetapi juga memberikan konsekuensi yang bersifat naluriah kepada anak apabila mereka melakukan kesalahan kepada anak. Selain itu, orangtua tipe ini juga menjelaskan pentingnya aturan yang telah disepakati dan mengapa aturan tersebut harus dijalankan oleh anak.
c. Membiarkan (permissive)
Pola asuh ini menunjukan sifat orangtua yang memberi kelonggaran lebih kepada anak. Orangtua dengan pola asuh seperti ini memberi aturan atau batasan yang longgar terhadap anak dan kurang memberikan pengarahan atau penjelasan dalam memahami masalah kehidupan kepada anak.
Orangtua tipe ini lebih responsif terhadap kebutuhan anak, namun tidak memberikan batasan yang tepat mengenai perilaku anak, sehingga anak dapat membuat aturan, jadwal, dan aktivitas sesuka sendiri.
Pola-pola asuh terhadap ini memang sangat penting untuk diketahui. Hal ini dikarenakan tumbuh kembang anak ketika dewasa akan terbentuk dengan pengaruh yang cukup besar dari pola pengasuhan orangtuanya.
Metode dan Teknik Pengasuhan
Dalam mengasuh anak, ada beberapa metode yang harus disesuaikan dengan karakteristik anak, di antaranya adalah sebagai berikut;
1. Pemberian Rewards atau Penghargaan
Pemberian penghargaan atau reward pada anak biasanya dalam bentuk mainan, uang, makanan, dan lain sebagainya. Bentuk penghargaan lain kepada anak bisa juga dalam bentuk keistimewaan, seperti hadiah yang memungkinkan anak memperoleh banyak kebebasan dan kesempatan. Bentuk penghargaan ini bisa berupa waktu main yang lebih banyak, memperbolehkan anak meminjam mainan yang disukainya, dan lain sebagainya.
Saat memberikan rewards atau penghargaan, orangtua harus memperhatikan waktu. Pemberian rewards secara spontan ditujukan sebagai hadiah karena anak telah melakukan perbuatan yang baik dan bukan untuk menyogok anak. Rewards bukan untuk mengubah perilaku anak tapi untuk menghargai hasil karya anak.
2. Disiplin
Disipilin yang ditanamkan kepada anak dapat berupa penentuan kepercayaan diri anak, sehingga mereka memiliki kontrol yang ada pada diirnya. Teknik disiplin pada anak di antaranya adalah sebagai berikut;
- Memberi batasan dan aturan. Dengan adanya batasan dan aturan anak akan terhindar dari masalah. Selain itu, pemberian batasan dan aturan juga harus tetap memastikan anak untuk mengerti alasan ditetapkannya aturan tersebut.
- Konsekuensi. Bentuk disiplin ini dilakukan dengan cara membiarkan anak mencoba pengalamannya sendiri.
- Mengasingkan atau menghukum anak di luar, ketika anak kecil dihukum di dalam kamar, pastikan orangtua harus duduk bersamanya di dalam kamar dan biarkan menangis. Setelah tenang berikan penjelasan kepada anak atas apa yang telah diperbuatnya. Ajarkan juga untuk minta maaf sebelum ia dibiarkan keluar kamar.
- Menunjukkan perasaan kecewa pada anak ketika ia berbuat salah.
- Menahan kebebasan anak ketika ia berbuat kesalahan, hal ini bisa dilakukan selama kurang lebih setengah sampai satu jam. Hal ini untuk membuat anak mengetahui hukuman dan konsekuensi yang harus mereka terima.
Time-out
Time-out adaah proses bagi anak untuk menenangkan diri dan menyadari kesalahan yang telah mereka perbuat. Time-out ini bukan merupakan hukuman, melainkan sebuah kesempatan yang diberikan kepada anak untuk memperoleh kontrol atas perilaku yang telah ia perbuat. Tujuan dari time-out ini adalah mengajarkan anak untuk mengontrol diri, mengakhiri perlikau yang keliru, dan memberi kesempatan untuk merenungi perilakunya.
Role Modeling
Dalam metode ini, anak diberikan kesempatan untuk mengamati tingkah laku, perbuatan, persepsi, pemikiran, cara berkomunikasi dengan orang dewasa, sehingga hal tersebut dapat mengubah pola pikir akan perilaku yang baik dan perilaku yang buruk.
Selain metode-metode tersebut, terdapat beberapa metode lain, seperti memberikan dorongan semangat kepada anak untuk bisa melakukan perbuatan yang baik. Selain itu, metode pengasuhan anak juga bisa dilakukan dengan memberikan perhatian yang lebih untuk perilaku anak yang baik. Hal ini akan membuat anak lebih membiasakan diri untuk melakukan perbuatan yang baik, sehingga perbuatan yang kurang baik mulai ia tinggalkan.
Demikian lah pembahasan mengenai pengasuhan pada anak, semoga bermanfaat.

