logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Ilmu Sosial    Ilmu Pendidikan

Pengertian Prestasi Belajar: Ranah Afektif


Prestasi belajar tersusun oleh dua kata yaitu prestasi dan belajar. Prestasi adalah hasil dari sebuah proses yang telah dilakukan. Sedangkan belajar  bisa diartikan sebagai suatu kegiatan menggali ilmu dan keterampilan baik melalui bimbingan seorang pengajar maupun secara mandiri. Jadi pengertian prestasi dalam belajar adalah hasil yang tampak dari kegiatan menggali ilmu dan keterampilan.

Prestasi dalam belajar bisa dinilai dari tiga aspek yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Aspek kognitif adalah aspek penilaian yang menyangkut pada kemampuan berpikir, menganalisa dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kerja otak.

Aspek afektif yaitu aspek yang berkaitan dengap sikap, nilai dan perilaku atau lebih pada pengelolaan emosi dan rasa. Sedangkan aspek motorik adalah aspek yang berkaitan dengan kemampuan fisik dalam merespon setiap informasi atau pengetahuan baru. Sering juga disebut dengan keterampilan olah fisik (skill).

Prestasi Belajar Afektif

Untuk memahami prestasi dari belajar afektif, tentu terlebih dahulu kita harus memahami ranah afektif itu sendiri. Perilaku harus memiliki dua kriteria untuk diklasifikasikan sebagai ranah afektif dalam penilaiannya. Klasifikasi pertama merupakan perilaku yang melibatkan perasaan dan emosi seseorang. Dan klasifikasi kedua adalah tipikal perilaku seseorang.

Kriteria lain yang termasuk kedalam ranah afektif adalah intensitas, arah, dan target. Intensitas dalam ranah afektif ini menyatakan derajat atau kekuatan dari perasaan yang dimiliki oleh seseorang. Beberapa perasaan dapat lebih kuat dari perasaan yang lainnya, seperti perasaan cinta lebih kuat dari perasaan senang ataupun suka.

Untuk arah pada ranah afektif, arah ini menekankan pada arah perasaan yang berkaitan dengan orientasi positif atau negatif dari perasaan yang menunjukkan apakah perasaan itu baik ataukah buruk. Arah perasaan inilah yang nantinya terbentuk dalam diri peserta didik dan mempengaruhi prestasi dalam proses belajarnya.

Target prestasi dalam belajar di ranah afektif lebih cenderung kepada timbulnya ide dalam setiap diri peserta didik. Target prestasi dalam belajar ini secara umum dapat berupa suatu hal, seperti sikap dan perilaku.

Arah nilai dalam prestasi proses belajar dapat berupa positif dan negatif. Selanjutnya, intensitas nilai dapat dikatakan tinggi atau rendah tergantung pada situasi dan nilai yang diacu oleh setiap peserta didik.

Definisi lain mengenai prestasi dalam belajar yang terkait dengan ranah afektif ini disampaikan oleh Tyler. Tyler mendefinisikan prestasi proses belajar dalam ranah afektif sebagai nilai yang dijadikan suatu objek, aktivitas, ataupun ide yang dinyatakan oleh seorang individu dalam mengarahkan minat, sikap, dan kepuasannya.

Kemudian, dijelaskan bahwa manusia belajar menilai suatu objek, aktivitas, dan juga ide, sehingga objek ini menjadi pengatur penting adanya minat, sikap, dan kepuasan terhadap diri seorang peserta didik. Oleh karena itu, satuan pendidikan harus membantu peserta didik untuk memperoleh kebahagiaan individu dan memberikan kontribusi positif terhadap masyarakat lainnya.

Menurut Andersen, ada dua metode yang dapat digunakan untuk mengukur prestasi dalam ranah afektif. Metode tersebut diantaranya metode observasi dan metode laporan diri. Penggunaan metode observasi berdasarkan pada asumsi bahwa karakteristik afektif dapat dilihat dari perilaku atau perbuatan yang ditampilkan dan direaksikan sebagai suatu sifat psikologi.

Metode laporan diri lebih diasumsikan sebagai pengetahuan akan keadaan afektif seseorang yang merupakan sikap alami dalam dirinya. Namun hal ini menuntut kejujuran dalam mengungkapkan karakteristik afektif diri sendiri.

Prestasi dari proses belajar di ranah afektif sangat berhubungan dengan sikap dan nilai. Prestasi belajar bidang afektif antara lain berupa kesadaran beragama yang diyakini oleh setiap individu. Tingkatan prestasi dalam belajar ini diantaranya sebagai berikut;

  • Reciving/attending, yakni kepekaan dalam menerima rangsangan atau stimulus dari luar. Rangsangan ini dapat berupa masalah situasi atau gejala.
  • Responding atau jawaban, yakni reaksi dari perasaan kepuasan dalam menjawab rangsangan dari luar yang datang pada dirinya.
  • Valuing atau penilaian, yakni prestasi dalam belajar yang berkenaan dengan nilai kepercayaan terhadap gejala atau rangsangan yang muncul.
  • Organisasi, yakni pengembangan nilai ke dalam satu sistem nilai lain. Selain itu, kemantapan dan prioritas nilai juga termasuk kedalam tingkatan prestasi dalam ranah afektif ini.
  • Karakteristik nilai atau internalisasi nilai, yakni padu-padan dari semua sistem nilai yang telah dimiliki oleh seorang individu untuk mempengaruhi kepribadian dan tingkah lakunya.

Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa ranah afektif berkaitan dengan sikap dan perilaku. Hasil atau prestasi dalam belajar afektif tampak pada seberapa besar perubahan watak dan perilaku peserta didik.

Watak dan perilaku yang dimaksud diantaranya minat, sikap, emosi, perasaan dan nilai. Jadi pengertian prestasi dalam belajar pada ranah afektif  adalah seberapa besar perubahan sikap, watak dan perilaku peserta didik setelah melalui serangkaian aktivitas belajar.

Ciri-ciri Hasil Belajar Afektif

Ciri-ciri hasil belajar afektif akan nampak nyata pada sikap dan tingkah laku keseharian peserta didik. Prestasi belajar afektif peserta didik dapat dilihat dari hal-hal seperti berikut:

  • Minat dan perhatiannya terhadap materi pelajaran yang diberikan, terutama pelajaran agama. Hal ini akan menunjukkan seberapa besar keyakinan peserta didik dalam proses pembelajaran dalam dirinya.
  • Kedisiplinannya dalam mengikuti pelajaran. Kedisiplinan dalam belajar merupakan kunci prestasi alam proses belajar pada peserta didik.
  • Motivasi yang tinggi untuk mempelajari tata krama, moral, dan pelajaran agama. Hal ini dapat menunjukkan nilai dari sikap dan perhatian dari peserta didik dalam proses pembelajarannya.
  • Penghargaan dan rasa hormat terhadap pendidik (guru). Rasa hormat dari peserta didik kepada gurunya dapat meningkatkan penilaian dari ranah afektif peserta didik.
  • Semangat belajar dan rasa ingin tahu yang tinggi. Dengan rasa ingin tahu yang tinggi dapat meningkatka motivasi positif bagi peserta didik.

Cara Penilaian

Menilai prestasi dalam belajar afektif sangat berbeda jauh dengan menilai prestasi belajar kognitif. Mengingat yang dinilai pada ranah afektif ini adalah hal yang abstrak dan sangat subyektif. Kemampuan yang dinilai antara lain kemampuan menerima, memperhatikan, merespon, menanggapi dan mengorganisasikan suatu masalah.

Skala yang digunakan dalam penilaian adalah skala sikap. Yang dimaksud dengan sikap di sini adalah kecenderungan perilaku terhadap sesuatu atau permasalahan. Sederhananya sikap baru terbentuk ketika peserta didik dihadapkan pada permasalahan dan objek tertentu. Hasilnya berupa pengelompokan sikap seperti menerima (positif), menolak (negatif) dan netral (nol). Bisa juga dibentuk dalam interval nilai tertentu.

Meningkatkan Kemampuan Afektif

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana meningkatkan kemampuan afektif pada peserta didik? Karena kemampuan ini berkaitan dengan sikap dan nilai maka upaya untuk meningkatkannya pun harus berbasis nilai dan perilaku.

Pihak yang berperan penting dalam peningkatan kemampuan afektif ini adalah pihak yang terkait dalam pendidikan terutama pada pendidikan moral dan perilaku. Contohnya guru pendidikan agama, guru pendidikan budi pekerti, guru Bimbingan Konsling (BK), dan lain sebagainya yang berkaitan dengan hal tersebut. Namun tidak menutup kesempatan bagi pihak lainnya untuk ikut membentuk watak dan perilaku yang baik pada peserta didik.

Lingkungan keluarga juga berperan penting dalam meningkatkan kemampuan afektif anak. Bimbingan ini bisa diberikan dalam bentuk contoh, teladan ataupun nasehat. Teladan yang baik dari orang terdekat sangat efektif dalam membentuk sikap dan perilaku terpuji pada anak atau peserta didik.

Lingkungan masyarakat juga dapat memberikan pengaruh walaupun dalam persentase tertentu. Oleh karena itu, kondisikan anak (peserta didik) agar berbaur dalam lingkungan yang sehat (baik), agar sikap mental yang berkembang pada dirinya adalah sikap mental yang positif.

Demikianlah pembahasan mengenai prestasi belajar pada bidang afektif yang dapat disampaikan. Semoga dengan adanya pembahasan ini dapat membantu Anda mengenai prestasi anak dalam perilaku dan moralnya.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Pengertian Pembelajaran dan Aplikasinya dalam Dunia Pendidikan
  • Makna dan Pengertian Analisis
  • Mengenal Macam-Macam Ideologi di Dunia
  • Kajian Ilmu Komunikasi: Telusur Bahasa Ababil
  • Mengenal Huruf Dasar Aksara Jawa dan Eksistensinya
  • Perjuangan Hidup di Jakarta
  • Dampak Positif Globalisasi
  • Mengenal Lebih Dekat Model-model Pembelajaran
  • Pengetahuan Ibu Tentang ASI
  • Pengertian Metode dan Metode Pembelajaran
  • Memahami Metodologi Penelitian Pendidikan
  • US Embassy Jakarta – Gerbang Menuju Amerika Serikat
  • Mengenal jenis bunga
  • Perkembangan Ilmu Pengetahuan
  • Beberapa Pengertian Pendidikan
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA