Pengertian Sabar: Memaknai Kata Sabar

Anda pasti begitu akrab dengan satu kata "sabar". Bagaimana tidak, setiap kita berkeluh pada orang lain tentang apapun, kata pertama yang mereka ucapkan pasti "sabar". Akan tetapi, sudahkah mereka mengetahui pengertian sabar? Sebagai pembelajaran, kita runut pengertian sabar yang kerap digadang-gadangkan sebagai bentuk peduli dan respon pertama itu.
Pengertian Sabar
Sabar merupakan buah dari ketakwaan kepada Allah swt. Sabar terhadap cobaan dan ketentuan Allah swt merupakan sikap konsisten seorang mukmin. Sabar merupakan sikap yang akan mendorong setiap mukmin untuk senantiasa berpegang teguh pada kitab Allah swt, bukan melemparkannya dengan dalih beratnya cobaan. Sabar seperti ini adalah sabar yang akan semakin menambah kedekatan seorang hamba kepada Rabbnya, bukan semakin jauh.
Allah swt berfirman:
”Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya). Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap[967]: "Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha suci Engkau, Sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim." (TQS. Al Anbiya:87)
Pembagian Sabar
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah membagi kesabaran seorang mukmin ke dalam dua kelas.
- Sabar yang semestinya. Kesabaran ini merupakan sikap sabar yang sudah sepatutnya dimiliki umat Islam ketika menghadapi ujian yang tidak ada lagi pilihan baginya, selain menerima dengan kesabaran. Hal ini seperti kesabaran seorang mukmin ketika menghadapi sakit, kematian orang yang dicintai, kehilangan harta benda akibat bencana alam atau pencurian, dan musibah lainnya. Kesabaran atas semua hal tersebut akan bernilai kebaikan, ia akan mendapatkan pahala dan keridaan Allah swt atas kesabarannya, serta diampuni dosanya.
- Sabar ikhtiyarian. Sikap sabar ini merupakan sikap sabar yang ditunjukkan umat Islam dalam memelihara imannya atas segala rintangan yang hendak menghilangkan keimanannya tersebut. Sabar ikhtiyarian adalah sikap sabar yang dipilih seorang muslim secara sadar atas berbagai paksaan yang hendak mencabut keimanan dan ketakwaanya kepada Allah swt. Hal ini sebagaimana sikap Nabi Yusuf AS yang lebih memilih penjara daripada harus melayani hawa nafsu istri pembesar Mesir. Dalam hal ini, Nabi Yusuf AS lebih memilih taat dan sabar di atas risiko yang harus dihadapinya.
Begitupun kesabaran yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya ketika mereka dipaksa meninggalkan Islam. Kaum Kuffar mengancam beliau dan para sahabat dengan pembunuhan, pemboikotan, penyiksaan, hingga pengusiran dari Mekkah. Rasulullah SAW dan para sahabat lebih memilih itu semua daripada harus menanggalkan keimanannya dan mereka bersabar atas pilihan tersebut.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, ”Kesabaran Nabi dan para sahabatnya lebih utama daripada yang dilakukan Nabi Yusuf AS. Jika Yusuf dihadapkan pada dua pilihan, antara maksiat kepada Allah atau penjara, Rasulullah dan para sahabatnya menghadapi pilihan yang lebih berat, yaitu menanggalkan keimanan atau mengalami penyiksaan, pembunuhan, dan pengusiran."
Setiap ujian yang ditimpakan kepada orang-orang beriman akan diberi pahala sesuai dengan tingkat kesabarannya. Allah swt akan mencatatnya sebagai amal saleh seperti para mujahid yang menahan rasa lapar, haus dan penderitaan, serta rasa letih yang luar biasa. Demikianlah sikap sabar yang harus kita pahami dan amalkan. Semoga bermanfaat!






