Memahami Pengertian Skenario
Ilustrasi penulis skenario
Senang menulis? Ada banyak pilihan yang bisa ditekuni jika ingin menulis. Bisa memilih untuk menjadi penulis novel, penulis artikel, atau penulis skenario, misalnya. Menjadi penulis sebuah skenario, terlebih jika dijalankan secara profesional mempunyai prospek yang bagus. Penghasilan juga cukup bagus. Jangan takut tidak mendapatkan rezeki yang bagus. Seorang penulis besar itu bisa mendapatkan penghidupan yang layak sama seperti pegawai lainnya.
Sensitivitas Tinggi
Berbeda dengan penulis jenis lain, seorang penulis sebuah skenario tak hanya membutuhkan bakat dan keterampilan dalam mengolah cerita namun juga memerlukan kemampuan yang berhubungan dengan hitungan matematis. Skenario yang dibuat harus sesuai dengan kemampuan rumah produksi dalam mewujudkannya menjadi sebuah film atau sinetron. Setiap adegan diperhitungkan dengan saksama. Slot untuk iklan juga harus dipertimbangkan. Tanpa adanya pemasukan dari iklan, maka biaya untuk produksi bisa kacau dan tidak terpenuhi.
Sebuah sinetron berdurasi 30 menit saja bisa menghabiskan biaya produksi lebih dari Rp 60 juta, bahkan hingga ratusan juta rupiah. Biaya ini belum termasuk blocking time atau biaya untuk membeli waktu tayang di televisi. Banyak pertimbangan teknis yang tidak ada kaitannya dengan teknik penulisan, waktu penulisan, dan lain-lain. Sebelum membuat sebuah skenario, seorang penulis harus mendapatkan informasi yang detail tentang semua yang berhubungan dengan teknik pembuatan sebuah penayangan.
Seorang pembuat skenario memang tidak harus berpikir mengenai detil pembiayaan ini. Akan tetapi, ia selalu diberi ketentuan oleh produser agar membuat cerita yang efektif, realistis, dan tidak melampaui anggaran yang telah ditetapkan. Jadi, tidak hanya sekadar membuat cerita yang bagus. Cerita menarik itu terkadang tidak ada unsur moralnya sama sekali karena memang tidak lebih hanya memberikan hiburan dan bukannya dimaksudkan untuk memberikan pelajaran tertentu.
Walaupun ada juga pembuat skenario yang cukup idealis dan tidak mau membuat skenario asal jadi, biasanya slot untuk cerita seperti ini tidak banyak. Menonton televisi itu sebagai hiburan dan bukan sebagai cara mencari ilmu. Pendapat seperti itu memang bisa dihargai. Bangsa ini memang membingungkan. Banyak yang berkoar agar bangsa ini mempunyai prinsip dalam membuat tontonan yang bisa menjadi tuntunan. Tetapi ternyat penguasa jagad media, berpikiran lain sehingga seperti inilah jadinya.
Korea Selatan saja telah melarang penggunaan rok mini di media mereka demi menyelamatkan generasi muda. Kini Korea Selatan juga sedang membuat pelarangan adanya pornoaksi. Bagaimana dengan Indonesia yang katanya mayoritas beragama Islam? Ada keengganan untuk melarang semua yang berbau keduniawian ini. Mereka berpendapat bahwa mereka tidak bisa makan dan tidak bisa minum serta mempunyai harta termasuk rumah yang layak kalau tidak lebih mengikuti keinginan orang-orang tertentu.
Skenario yang ditulis oleh penulis pemula banyak yang tak memperhitungkan segi moralitas ini. Ceritanya memang bagus, namun sulit diproduksi karena membutuhkan teknik kamera yang mahal, kolosal, dan visual effect yang rumit yang berujung pada membengkaknya biaya produksi. Cerita yang bertahan di layar televisi dalam waktu yang lama itu, biasanya dibuat oleh seorang pembuat skenario yang handal. Andaikan cerita ini mampu memberikan pembelajaran yang baik, maka hal ini tidak menjadi masalah.
Yang menjadi masalah adalah cerita yang ditujukan untuk anak-anak, ditonton oleh anak-anak, tetapi alurnya malah membuat anak-anak berpikir untuk melakukan hal-hal yang dilarang agama. Bahwa ada kehebatan yang didapatkan dari cara-cara yang tidak benar, hal ini sangat bertentangan dengan ajaran agama. Suatu keunggulan itu harus dilatih. Tidak ada yang gratis lalu bisa melakukan sesuatu dengan hebatnya. Tidak adanya penjelasan proses mendapatkan sebuah kekuatan, maka hal ini akan semakin membuat bangsa ini malas dan hanya berpikir pendek.
Para pembuat skenario ini harus mempunyai latar belakang pendidikan dan psikologis yang baik serta mempunyai ilmu dan pandangan hidup yang hebat agar apa yang ia hasilkan akan menjadi baik. Bila yang ia hasilkan tidak baik, pengaruhnya akan sangat luar biasa terhadap para penonton. Apalagi ketika anak-anak tidak mempunyai kegiatan lain yang lebih baik daripada menonton. Vitamin untuk jiwa mereka menjadi tidak bermutu.
Prospek Pembuat Skenario
Kalau tak ada prospek yang bagus, rasanya tak ada yang mau menekuni suatu kegiatan atau pekerjaan. Demikian juga dengan menulis skenario. Menjadi penulis atau pembuat skenario secara profesional memiliki prospek yang cerah. Hitung saja, ada berapa banyak stasiun televisi di Indonesia, baik yang mengudara secara nasional maupun lokal? Hampir semua stasiun televisi menayangkan sinetron lokal setiap hari.
Walaupun kisah yang disajikan terkadang begitu anstrak, nyatanya banyak juga yang terpaksa menontonnya daripada tidak ada kegiatan lain atau daripada mengganggu orang lain. Televisi telah menjadi kebutuhan pokok bagi sebagian besar orang. Anak-anak tumbuh dengan televisi. Kalau ada yang pembuat skenario yang baik yang sangat berkomitmen dengan pendidikan sekaligus mempunyai kreativitas yang tinggi, maka hal ini akan membuatnya laris dan kehidupannya pun akan sejahtera.
Padahal selain sinetron, setiap stasiun televisi juga menayangkan program acara nonfiksi yang juga membutuhkan skenario. Itu berarti, ada peluang yang sangat bagus yang dapat ditangkap oleh seorang pembuat skenario. Berapa penghasilan seorang pembuat skenario? Jika naskah untuk satu episode dibayar Rp 1 juta rupiah dan tayang empat kali dalam sebulan, setidaknya seorang penulis skenario dapat memperoleh Rp 4 juta dalam satu bulan atau Rp 48 juta dalam satu tahun.
Jumlah yang jauh lebih besar daripada gaji seorang karyawan atau PNS golongan III. Ini hanya hitungan awal. Biasanya seseorang itu tidak hanya mempunyai satu ketrampilan. Ia bisa saja mempunyai ketrampilan lainnya. Misalnya, penulis yang juga seorang guru atau seoarng pengusaha. Jadi, menjadi penulis itu adalah pekerjaan yang lainnya yang bahkan bisa memberikan penghasilan yang jauh lebih besar dari pekerjaan utamanya.
Untuk menjadi seorang pembuat skenario yang handal, membaca dan mengamati serta senang melakukan perjalanan ke banyak tempat, mungkin harus menjadi bagian dari hidupnya. Kalau tidak seperti itu, agak sulit baginya membayangkan bagaimana setting atau latar belakang cerita yang akan diangkat. Ia juga harus banyak teman dari berebagai profesi agar kisah yang dibuat tidak monoton dan hanya bercerita tentang dua atau tiga jenis profesi saja.
Bila sering melakukan perjalanan dan sering mendengar apa yang diucapkan orang-orang biasa, ia akan mempunyai banyak sekali referensi gaya bahasa. Gaya bahasa inilah yang akan membuat ceritanya menjadi menarik dan sangat berwarna. Biasanya pembuat skenario itu secara penampilan tidak dikenal. Orang hanya bisa membayangkan siapa penulisnya dan mungkin juga tidak peduli dengan penulis ceritanya kecuali namanya.
Hal ini malah menjadi suatu keuntungan tersendiri sehingga tidak akan ada yang mengganggu ketika ia keluyuran ke mana-mana. Berbeda dengan artis yang lebih dikenal oleh masyarakat. Kesimpulannya adalah apapun yang akan dilakukan, komitmen pada kebaikan itu harus tetap ada.
Penghasilan seorang penulis skenario bisa lebih besar jika:
* Penulis skenario sudah ahli
Penulis skenario dalam kategori ini bahkan bisa mengantongi belasan juta rupiah dari satu episode yang ditulisnya.
* Ditayangkan stripping
Sebuah sinetron yang ditayangkan secara stripping atau setiap hari jelas akan memberikan penghasilan yang lebih besar pada penulis skenario. Dengan honor Rp 1 juta per episode saja sudah bisa mengantungi Rp 30 juta per bulan. PNS golongan apa atau karyawan pada level apa yang mendapat gaji sebesar itu per bulannya?
* Rating bagus
Jika sinetron yang diproduksi berdasarkan skenario seorang penulis mendapat rating yang bagus, honor yang diterima oleh penulis skenario itu pun akan meningkat.
* Produktif
Meskipun tak menangani naskah skenario stripping, penulis skenario tetap dapat mempeoleh penghasilan besar jika menghasilkan banyak skenario lepas.
Waktu Kerja
Penulis skenario dapat bekerja dari mana saja, tak perlu harus berkantor di sebuah rumah produksi atau stasiun televisi. Datang ke kantor hanya sesekali saja. Namun tidak berarti pekerjaan sebagai penulis skenario ini dapat dilakukan dengan bersantai saja. Tetap ada tanggung jawab yang harus diselesaikan. Penulis skenario stripping atau kejar tayang bahkan harus siap bekerja melewati jam kerja biasa. Menulis puluhan episode dalam waktu dua minggu tentu bukan pekerjaan ringan. Namun, hasil yang diperoleh seimbang. No pain, no gain.

