Beragam Peninggalan Agama Islam di Nusantara
Sejarah telah mencatat dengan jelas bahwa agama Islam untuk pertama kali masuk ke wilayah nusantara melalui perantaraan para pedagang dari Persa, Gujarat dan Cina. Dengan demikian sejarah peninggalan agama Islam ini pun terkait erat dengan kebudayaan para pedagang dari ketiga wilayah tersebut.
Beragam peninggalan sejarah Islam yang bisa kita temukan antara lain melalui arsitek mesjid, sastra, tradisi-tradisi keagamaan, kaligrafi dan seni musik.
Keraton Kasepuhan dan Kanoman di Cirebon merupakan artifak peninggalan sejarah Islam yang sangat kuat pengaruh tradisi Persia dan Cina. Pada beberapa hiasan ornamen dinding keraton, dipasang beragam hias keramik dari Dinasti Ming. Tentang hiasan keramik pada dinding keraton Kasepuhan ini erat kaitannya dengan legenda percintaan Putri Ong Tien dengan Sultan Syarif Hidayatullah.
Demikian halnya dengan Keraton Kesultanan dan Keraton Pakualam di Yogyakarta dan Solo, menunjukan baik dari bentuk arsitekturnya maupun ragam hias yang ada di kedua keraton tersebut, dipengaruhi tradisi para pembawa agama Islam ke tanah Jawa.
Peninggalan sejarah Islam dalam bentuk mesjid bisa kita temui di Mesjid Banten Lama yang beratap tumpang, seperti halnya atap Mesjid Keraton Surakarta, Yogyakarta dan Cirebon. Sementara Mesjid Demak yang dibangun para wali. Berbeda dengan mesjid-mesjid tadi, Mesjid Agung Kudus memiliki arsitektur yang khas yang menara yang bangun dasarnya serupa.
Beberapa mesjid lain menjadi peninggalan yang penting bagi sejarah Islam, yaitu Mesjid Kota Waringin yang dibangun penyebar Islam pertama di Kalimantan Tengah, Mesjid Raya Deli yang dibangun pada saat Sultan Iskandar Muda berkuasa.
Sementara itu peninggalan dalam bentuk makam bisa kita temui di Makam Walisongo, Makam Imogiri Yogyakarta, Makam Sunan Langkat di Langkat, dan Makam Raja-raja Gowa.
Di dunia peninggalan sejarah Islam bisa kita temui, di antaranya adalah bejana kaca setinggi 37 cm peninggalan tahun 1300 saat Dinasi Mamluk, Siria. Kemudian ada beja perunggu setinggi 16,5 cm peninggalan abad 12 saat Dinasti Seljuk, Persia berkuasa.
Perhiasan dari butiran-butiran benang emas sepanjang 7 cm peninggalan abad 11 dari Siria, saat Dinasti Fatimid berkuasa. Ada pula ada pertengahan abad ke-15 dari Dinasti Mamluk berupa hiasan gading yang ditatahkan pada kayu ukuran 9,5 cm x 5,8 cm.
Peninggalan lain dari Dinasti Seljuk, Persia, abad ke-12 adalah kaki-kaki menyerupai kaki meja setinggi 48.3 cm terbuat dari perunggu. Dinasti Mamluk dari Siria, juga meninggalkan teko yang terbuat dari kaca, kemudian Dinasti Seljuk meninggalkan teko berukir dari bahan keramik berwana hijau dan biru setinggi 27 cm.
Perhiasan batu pirus pada cincin emas setinggi 3,2 cm peninggalan lain Dinasti Seljuk, Persia dari abad ke-12 termasuk artifak yang bernilai tinggi yang menjadi kekayaan milik sejarah Islam dunia.






