Peninggalan Sejarah Islam Di Aceh

Banyak teori yang menggambarkan masuknya Islam di Nusantara. Beberapa pakar berpendapat bahwa Islam masuk ke Nusantara melalui kontak perdagangan dengan Gujarat (sekarang India). Beberapa pendapat lain menyatakan Islam masuk setelah melakukan kontak dengan bangsa Arab. Sumatera, khususnya tanah Aceh, disebut sebagai salah satu jalur masuknya agama Islam di Nusantara. Banyak sekali peninggalan sejarah Islam di Aceh, Negeri Serambi Mekkah.
Kerajaan Samudera Pasai merupakan kerajaan pertama yang ditemukan sebagai kerajaan Islam. Berbagai bukti arkeologis mendukung fakta bahwa kerajaan Samudera Pasai merupakan sebuah kerajaan Islam.
Salah satu bukti arkeologis yang banyak diterima adalah adanya situs makam raja-raja kerajaan yang ditemukan di daerah Geudong, sebelah timur Lhokseumawe. Bukti reruntuhan bangunan kerajaan juga ditemukan di daerah ini.
Situs makam raja yang paling terkenal dan bisa dijadikan rujukan sebagai salah satu bukti sejarah yang otentik adalah makam Sultan Malik Al-Shaleh. Sultan Malik Al-Shaleh merupakan raja Islam pertama di Indonesia.
Sebelum masuk Islam, Sultan Malik Al-Shaleh bernama Meurah Silu. Pada masa pemerintahan Sultan Malikul Dhahir, Kerajaan Samudera Pasai menjadi pusat perdagangan di daerah Asia. Kerajaan Samudera Pasai banyak didatangi oleh pedagang-pedagang dari daratan Asia, Afrika, Cina, dan Eropa.
Berita mengenai bukti adanya Islam di Samudera Pasai dapat dilihat dari berita Ibn Batutta. Menurut berita Ibn Batutta, Kerajaan Samudera Pasai merupakan pusat perdagangan yang sibuk. Para penduduk di kerjaan tersebut sangat berbeda dan ramah kepada setiap pendatang.
Menurutnya, bahkan raja sendiri pun sangat menghormati seorang tamu. Raja Samudera Pasai ketika itu, Sultan Malik Dhahir memimpin rakyatnya dengan hati nurani. Tercatat bahwa sultan sangat melindungi dan perhatian terhadap fakir miskin.
Kerajaan Samudera Pasai merupakan kerajaan besar hasil penggabungan kerajaan-kerjaan kecil di sekitarnya. Kerajaan-kerajaan kecil tersebut banyak terletak di daerah Peurlak, Aceh Utara. Kerajaan-kerajaan kecil seperti Rimba Jreum dan Seumerlang berasimilasi menjadi satu kerajaan yang lebih besar yang kemudian dikenal dengan nama Kerajaan Samudera Pasai.
Seperti halnya kisah sejarah yang lain, kisah masuknya Islam di Samudera Pasai dimulai dengan adanya usaha jalinan kekeluargaan. Sang pembawa risalah, Abdullah Ibnu Muhammad Ibnu Abdul Kadir menikah dengan salah satu putri dari raja Kerajaan Islam Peurlak, Ganggang Sari.
Dari pernikahan tersebut, mereka dianugerahi dua orang putra yakni Malik Al-Shaleh dan Malik Al-Dhahir. Keduanya bahkan kemudian menjadi pewaris tahta kerajaan.
Dari bukti perjalanan penyebaran Islam di Aceh tersebut, bukti-bukti kuat seperti adanya nisan makan Sultan Malik Al-Shaleh dan reruntuhan Kerajaan Samudera Pasai semakin menegaskan bahwa Islam pernah diterima di tengah-tengah masyarakat.






