logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Pendidikan    Kuliah    Mahasiswa

Penulisan Karya Ilmiah yang Benar


Ilustrasi penulisan karya ilmiah yang benar
Jika Anda seorang pelajar, mahasiswa, jurnalis atau mungkin seorang yang terjun di dunia penelitian, tentulah Anda akan sering-sering berkubang dalam penulisan karya ilmiah. Teknik penulisan untuk karya ilmiah tentu saja tidak sama dengan gaya penulisan sebuah artikel atau gaya penulisan surat. Ada langkah-langkah tertentu yang harus diikuti. Tanpa mengikuti langkah yang telah baku itu, artinya penulisan sebuah karya itu tidak dianggap ilmiah. Maka dari itu, penulisan karya ilmiah yang benar adalah mutlak bagi Anda.

Penulisan Karya Ilmiah

Mari kita kaji bersama tentang seperti apakah penulisan karya ilmiah yang dianggap benar ditinjau dari karakteristiknya. Sebelumnya Anda perlu mengetahui bahwa karya ilmiah merupakan media yang dapat memaparkan berbagai gagasan atau ide keilmuan, baik berupa konsep, fakta, prinsip, teori, prosedur dan lain sebagainya. Dan demi keefektifannya, penulisan karya ilmiah ini harus didasarkan pada beberapa asas. Bila telah mengikuti asas-asas itu, maka karya ini baru akan dianggap karya olmiah.

Asas-asas tersebut adalah asas keobjektifan, asas kejelasan, asas keringkasan, asas kelogisan, asas kepaduan, asas koherensi, dan asas penekanan. Asas-asas tersebutlah yang menjadi bibit dari terbentuknya karakteristik penulisan sebuah karya ilmiah yang benar. Dengan memahami asas-asas tersebut, karya itu akan bisa dijadikan sebuah referensi dan bisa dimanfaatkan. Perlu diketahui bahwa pelajar dan kaum intelektual Indonesia lainnya, masih belum terlalu bersemangat membuat karya ilmiah.

Bukan Sekedar Syarat

Karya ilmiah yang mereka buat biasanya hanya sebagai syarat untuk kelulusan atau karena ingin ikut lomba. Karya ilmiah itu belum menjadi suatu kesenangan dan kebahagiaan ketika bisa membuatnya. Padahal kalau karya ilmiah itu bisa bermanfaat dan digunakan dalam aplikasi yang baik sehari-hari, maka karya itu akan menjadi amal jariyah bagi yang membuatnya. Sisi keilmuan memang perlu ditonjolkan, tetapi untuk menambah semangat, sisi spiritual juga perlu diperhatikan agar ada kemauan yang lebih untuk terus berkarya.

Waktu yang ada harus dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin agar menjadi satu hal yang akan bisa berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Kalau hanya digunakan untuk bermain dengan ponsel yang dipenuhi dengan berbagai aplikasi, terkadang waktu terbuang percuma. Membuat karya ilmiah itu mungkin sulit pada awalnya karena memang banyak hal yang harus dilakukan. Bacaan sebagai referensi harus ada walaupun belum banyak. Lalu waktu penelitian dan diskusi dengan banyak orang.

Waktu bermain dan bersenang-senang seolah habis. Padahal membuat karya ilmiah bisa juga cukup menyenangkan. Semakin sering melakukannya, akan semakin banyak referensi yang dibaca dan itu artinya semakin banyak juga bahan yang bisa dijadikan sebagai acuan. Lama-kelamaan akan menjadi seseorang yang dianggap ahli dalam bidang penelitian dan pembuatan karya ilmiah. Tidak banyak orang yang bisa seperti ini. Itulah mengapa harus ada semangat yang membara bagaimana agar bisa menjadi seorang peneliti.

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan

Tidak penting untuk berbasa-basi lagi, silahkan Anda menyimak kelima karakteristik penulisan sebuah karya ilmiah yang benar sebagaimana berikut:

1. Objektif
Penggambaran yang objektif adalah penggambaran atas sesuatu dengan sebenar-benarnya sesuai dengan keadaan atau kondisi dari sesuatu tersebut. Hasil dari pengggambaran objektif inilah yang kemudian disebut dengan fakta. Tidak ada penambahan, tidak ada pengurangan. Penggambaran apa adanya. Tidak mudah mungkin untuk bisa membuat tulisan yang berdasarkan fakta, dengan latihan semua akan terasa mudah.

Hal ini mengimplikasikan bahwa penulisan yang memihak (tidak netral), yang berorientasi pada si penulis, yang emosional, dan yang ekstrem haruslah dihindari sejauh-jauhnya. Anda perlu contoh? Perhatikanlah bagaimana kalimat-kalimat berikut membawa unsur subyektfitas:

* Gunung berapi yang meletus telah menimbulkan kerugian fisik dan psikis bagi kita. (Kita dan kata ganti orang lainnya seperti kami, saya, aku, dan lain-lain menunjukkan adanya subyektivitas). Kerugian seperti apa tidak digambarkan.
* Sosiolog pasti membahas berbagai gejala sosial yang terjadi di masyarakat. (Kata pasti dan kata-kata semisal wajib, harus, perlu, tentu, mutlak, dan fardhu menunjukkan adanya unsur absolut dan ekstrem)

Selanjutnya, penulisan karya ilmiah yang benar ditunjukkan dengan kalimat berikut:
* Gunung berapi yang meletus telah menimbulkan kerugian fisik dan psikis bagi masyarakat di sekitarnya. (Kata kita diubah dengan kata yang lebih obyektif, yakni masyarakat disekitarnya)
* Sosiolog pastilah membahas berbagai gejala sosial yang terjadi di masyarakat. (Kata pasti dirubah dengan pastinya untuk memunculkan netralitas)

2. Konsisten
Di samping obyektivitas, konsistensi merupakan karakteristik yang paling menampakkan perbedaan antara karya ilmiah dengan jenis karya lainnya. Anda dapat memakai diksi dan kata yang bervariatif ketika Anda menulis cerita pendek atau novel. Tetapi di sini, untuk menunjukkan pada sesuatu yang sama, Anda dituntut untuk selalu menggunakan atau mengulang kata dan frasa kata yang sama pula.

Apabila di awal Anda menggunakan kata penulis untuk menunjukkan pribadi Anda, maka Anda juga harus menggunkan kata penulis jika Anda ingin menunjukkan pribadi Anda lagi, alih-alih menggunakan kata aku, saya, atau kami. Kecuali ketika membuat laporan menulisan tentang penelitian tindakan kelas. Bila dibuat dalam bahasa Inggris, laporannya boleh menggunakan kata ‘I’ karena penelitian ini memang menekankan apa yang dilakukan oleh sang peneliti.

Dan sebalikanya, jika Anda menggunakan kata penafsiran dan interpretasi atau kegiatan dan aktivtas pada satu karya ilmiah, dalam hal ini Anda dapat dikatakan sebagai orang yang tidak konsisten. Kalau terlihat ketidakkonsistenan dalam sebuah karya ilmiah, karya itu tidak akan dilirik lagi dan dianggap sebagai karangan bebas biasa. Tentu saja tidak ada yang mau diperlakukan seperti itu. Oleh karena itu, bimbingan dan arahan dari pembimbing atau guru sangat penting.

3. Cendekia
Cendekia akan menuntun Anda dalam membuat kalimat yang tepat, cermat, tidak ambigu, dan masuk akal. Perhatikanlah kalimat berikut: Karbohidrat yang memadai dapat memberikan efek kenyang serta tenaga untuk bergerak dan mencegah kelesuan.

Kalimat di atas mengandung tiga pemahaman, yaitu (1) Karbohidrat yang memadai dapat memberikan efek kenyang, (2)  tenaga untuk bergerak dan (3) mencegah kelesuan. Kerancuan dalam kalimat ini menjadikan kita bertanya-tanya tentang benarkah karbohidrat yang memadai dapat mencegah kelesuan?

Selain itu, kata dalam kalimat tersebut juga tidak setara. Perhatikan penggunaan kata memberikan, tenaga, dan mencegah. Di antara kata memberikan dan mencegah sebagai kata kerja, kata tenaga menyimpang dari kesetaraan karna kata tenaga tersebut merupakan kata benda.

Kalimat di atas lebih cendekia apabila direvisi menjadi:
Karbohidrat yang memadai dapat memberikan efek kenyang, menambah tenaga untuk bergerak, dan mencegah kelesuan.

Dalam bahasa Inggris, kalaimat seperti ini adalah kalimat yang paralel. Kalau menggunakan kata kerja, maka selanjutnya setelah koma, juga menggunakan kata kerja. Begitu juga kalau menggunakan kata sifat, setelah koma jug akata sifat. Tidak boleh membuat kalimat seperti, “Dia adalah seorang guru dan sangat cantik serta penuh dedikasi.” Kalimat yang baik adalah “Dia adalah seorang guru wanita yang cantik dan berdedikasi.”

Tidak mudah untuk bisa menulis kalimat seperti itu. Latihan dan bimbingan memang penting disamping memang ada kemauan untuk terus mengasah diri agar bisa membuat tulisan dengan kalimat yang tidak terlalu panjang tetapi tepat dan mudah dipahami.

4. Ringkas dan Jelas
Semakin sedikit adalah semakin baik. Semakin sedkit kata yang Anda gunakan dalam membangun satu kalimat, semakin baik pula bangunan kalimat Anda, tentu tanpa mengaburkan gagasan atau ide kalimat itu sendiri. Dengan kata lain, dalam penulisan karya ilmiah yang benar, Anda dilarang untuk bertee-tele. Contoh kalimat yang bertele-tele adalah:

Pernyataan yang dikeluarkan presiden masih samar dan tidak menunjukkan penjelasan apapun mengenai tanggapan atas topik yang aktual karena hanyalah mengulang  fakta-fakta yang telah diketahui publik.

Bandingkanlah dengan kalimat berikut ini:
Pernyataan yang dikeluarkan presiden masih samar. (Cukup ringkas dan jelas untuk menyita waktu pembaca dengan percuma).

5. Formal
Karakteristik formal dalam penulisan karya ilmiah yang benar ditemukan dalam penggunaan kata, frasa kata, dan kalimat. Untuk menulis dengan formal, Anda cukup berpegang pada EYD (Ejaan yang Dibenarkan). Untuk membuat tulisan sesuai dengan kaidah bahasa yang digunakan, penggunaan kamus, sangat penting. Selanjutnya, tidak ada ruginya membaca buku panduan menulis dalam bahasa Indonesia.

Selamat menulis!

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Akuntansi Manajemen, Pengertian dan Penerapannya dalam Perusahaan
  • Apa Itu Permeabilitas Tanah?
  • Tujuan Penulisan Karya Ilmiah Bagi Mahasiswa
  • Syarat Makalah Penulisan Karya Ilmiah
  • Kerancuan Penulisan Gelar Dokter
  • Budidaya Pertanian dengan Melihat Komposisi Tanah
  • Mencermati Pernak Pernik Kehidupan Anak Kuliah
  • Begitu Beragamnya Beasiswa 2010
  • Kuliah Singkat, Mengapa Tidak?
  • Sistematika Penulisan Karya Tulis Ilmiah, Laporan Hasil Penelitian
  • IP - Intelektual Mahasiswa dan Senjata Mencari Pekerjaan
  • Peluang Beasiswa Depdiknas
  • Sistematika Penulisan Laporan Penelitian
  • ITB - Masih Tetap Kampus Orang-orang Hebat
  • Metode Penulisan Karya Tulis Ilmiah Secara Umum
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA