logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Kesehatan    Macam-Macam Penyakit    Artikel Umum Macam-Macam Penyakit    Penyakit Anthrax

Teror Penyakit Anthrax yang Menjadi Senjata Biologis

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Tahukah Anda penyakit anthrax? Sebelum membahas lebih jauh penyakit anthrax, simaklah cerita singkat berikut. Saat musim gugur 2001, beberapa surat yang berisi bubuk putih misterius sampai di kantor senat dan di beberapa kantor media di Amerika Serikat. Kepanikan pun terjadi, bubuk misterius tersebut ternyata merupakan Bacillus anthracis yang berbentuk spora. Dan benar saja, akibat spora tersebut 22 orang terinfeksi dan 5 orang meninggal dunia. Apa sih sebenarnya Bacillus anthracis itu?

Tentang Penyakit Anthrax

Bacillus anthracis adalah nama suatu bakteri yang menyebabkan penyakit anthrax. Bakteri ini mampu membentuk spora jika keadaan lingkungannya tidak memungkinkan (istirahat). Itu sebabnya, spora dari bakteri ini sering digunakan sebagai senjata biologis (bioweapon) yang dipakai untuk membuat teror. Contoh nyatanya adalah teror yang menimpa senat dan media di Amerika Serikat 2001 silam.

Penyakit anthrax adalah penyakit yang berpontensial fatal. Artinya, penyakit ini bisa menyebabkan kematian si penderita. Secara alami, bakteri Bacillus anthracis  jarang melakukan kontak langsung dengan manusia. Biasanya, bakteri ini hanya menyerang sapi, kuda, domba, dan kambing. Adapun jika menginfeksi manusia, penyakit anthrax hanya menimpa orang-orang yang berada di peternakan.

Jenis-jenis Penyakit Anthrax

Jenis-jenis penyakit anthrax bisa dibedakan berdasarkan tempat-tempat bakterinya menyerang.

  • Cutaneous anthrax. Yaitu penyakit anthtrax yang menyerang jaringan kulit.
  • Gastrointestinal anthrax. Yaitu penyakit anthrax yang menyerang perut akibat memakan makanan yang terkontaminasi bakteri anthrax.
  • Inhalational anthrax. Yaitu penyakit anthrax yang menyerang saluran pernapasan akibat menghirup spora bakteri anthrax.
  • Oropharyngeal anthrax. Yaitu penyakit anthrax yang menyerang tenggorokan akibat memakan makanan yang terkontaminasi bakteri anthrax.

Dari keempat jenis penyakit anthrax di atas, Inhalational anthrax adalah jenis yang paling mematikan dan cutaneous anthrax adalah yang paling banyak terjadi.

Penyebab Penyakit Anthrax

Penyebab penyakit anthrax adalah bakteri Bacillus anthracis. Cara masuknya ke dalam tubuh kita adalah dengan cara penempelan bakteri Bacillus anthracis langsung di kulit; mengonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri Bacillus anthracis; atau menghirup udara yang terkontaminasi spora bakteri Bacillus anthracis.

Gejala Penyakit Anthrax

Gejala yang terjadi saat menderita penyakit anthrax tergantung kepada jenis penyakit anthrax yang dideritanya.

  • Cutaneous anthrax. Gejalanya berupa benjolan yang awalnya kecil dan kemudian membesar. Benjolan ini bisa sangat gatal. Masa inkubasinya (masa yang dibutuhkan dari sejak masuk hingga menjadi penyakit) adalah sekitar 5 -7 hari. Lalu, benjolan menjadi terisi cairan dengan diameter 1-3 cm. Lama-kelamaan, benjolan berair ini akan membentuk luka seperti lecet dengan bagian pinggiran yang kemerah-merahan. Di hari ke-7 hingga ke-10 terjadi pembengkakan kelenjar getah bening; sakit kepala; dan demam.
  • Inhalational anthrax. Gejalanya pertama muncul di hri ke-1 sampai hari ke-7. Akan tetapi menghilang setelah 60 hari. Gejala yang terjadi pada inhalational anthrax biasa adalah berupa flu, sakit tenggorokan, demam, dan sakit otot. Adapun untuk inhalational anthrax yang tidak biasa (membahayakan), gejala bisa ditambah dengan sesak napas dan demam tinggi. Kematian bisa terjadi dalam 24-36 jam setelah gejala berkembang.
  • Gastrointestinal anthrax. Gejala terjadi di hari ke-1 sampai ke-6 yang berupa kerusakan/borok lambung; borok lidah dan tonsil; sakit tenggorokan; hilang selera makan; muntah-muntah; dan demam. Gejala ini bisa ditambah dengan sakit bagian perut; muntah darah; dan berak darah. Dalam 2 hingga 4 hari; cairan akan mengisi rongga perut. Kematian akan terjadi di hari ke-2 sampai hari ke-5
  • Oropharyngeal anthrax. Gejala yang terjadi berupa demam; pembengkakan kelenjar getah bening di leher; sakit tenggorokan yang berat; susah menelan; serta sakit lambung dan lidah.

Pengobatan Penyakit Anthrax

Semua penyakit anthrax secara efektif dapat diobati dengan menggunakan antibiotik, seperti penicillin, doksisiklin, atau ciproflaksin.

Pada inhalational dan gastrointestinal anthrax, pemberian antibiotik harus segera diberikan pada saat penderita melakukan kontak dengan bakteri anthrax. Hal ini karena pada saat gejala timbul, anthrax jenis ini tidak merespon terhadap antibiotik. Perawatan di rumah sakit yang berfasilitas lengkap merupakan keharusan bagi penderita penyakit anthrax.

Pencegahan Penyakit Anthrax

Beberapa obat dapat mencegah penyakit anthrax setelah calon penderita berkontak langsung dengan spora bakteri anthrax. Jika Anda berisiko untuk berkontak dengan bakteri anthrax, Anda bisa melakukan vaksinasi yang dilakukan dalam 5 suntikan selama 18 bulan. Dan jika Anda terkena bakteri anthtrax, Anda bisa langsung meminta antibiotik pada dokter.

Pencegahan penyakit anthtrax yang berupa penghindaran terhadap kontak dengan bakteri anthrax adalah tindakan yang lebih baik.

Penyakit Anthrax pada Anak

Sebenarnya gejala penyakit anthrax yang muncul pada anak-anak ataupun pada orang dewasa sama saja, yaitu demam, mual, panas tinggi, gangguan saluran pernafasan, mencret dan gangguan lainnya. Intinya, gejala penyakit anthrax pada anak sama seperti penyakit anak lainnya. Sementara itu, masa inkubasinya antara 1-5 hari untuk tipe kulit, 2-5 hari untuk tipe pencernaan, dan 3-4 hari untuk tipe pernafasan, bergantung dari daya tahan tubuh setiap anak. 

Jika anak divonis oleh dokter terkena penyakit anthrax, kita jangan langsung panik sebab penyakit anthrax dapat dibasmi dengan mudah. Syaratnya, jika penyakit anhtarx pada anak ini sudah terdeteksi dari awal san belum mencapai stadium akhir. Pengobatan penyakit ini hanya dengan memberikan antibiotik secara bertahap sesuai kondisi tubuh si anak, yaitu jika antibiotik pertama tidak bereaksi, akan diganti dengan antibiotik kedua dan seterusnya. 

Musim Penyakit Anthrax - Ribuan Ternak Merapi Disuntik Vaksin

Merebaknya penyakit anthrax akhir-akhir ini, membuat banyak pihak waspada, termasuk pemerintah Kabupaten Magelang yang melaksanakan upaya pemeriksaan kesehatan populasi ternak di wialyah sekitar lereng Merapi. Untuk mencegah ternak terjangkit penyakit anthrax, salah satu upayanya adalah dengan penyuntikan vaksinasi, teruatama pascaerupsi Merapi yang menyebabkan kondisi kesehatan ribuan ternak menurun dan berpotensi terserang penyakit anthrax. 

Dua lembaga yang terlibat dalam pencegahan penyakit anthrax ini adalah Perhimpunan Dokter Hewan (PDHI) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang juga pernah memberi bantuan ternak kepada warga di sekitar Merapi pascaerupsi. Ketua PDHI cabang III Jateng mengatakan bahwa sekitar 16 petugas terlibat dalam program peningkatan kesehatan ternak dan pencegahan penyakit anthrax, yaitu sebanyak tujuh dokter hewan dan sembilan tenaga medis. 

Selain pemeriksaan kesehatan hewan ternak dan pencegahan penyakit anthrax, dilakukan juga pelatihan mengenai pengolahan pakan ternak yang diadakan di tujuh desa di tiga kecamatan. Dilakukan juga pelayanan kesehatan hewan untuk mencegah penyakit anthrax yang diselenggarakan di 12 desa. Sementara itu, dananya berasal dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (PNPB). 

Selama erupsi Merapi berlangsung, terjadi penurunan tingkat kesehatan hewan yang berpeluang melahirkan penyakit anthrax, khususnya di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III. Penyebabnya adalah karena banyak ternak sapi, kerbau, kambing, dan domba, kekurangan makanan (terutama hijauan makanan ternak) setelah ditinggal para pemiliknya. 

Selain status kesehatan ternak turun dan menyebabkan penyakit anthrax, tingkat populasi ternak di sana pun menrurun pascaerupsi. Sebelum erupsi Merapi terjadi, teradapat kurang lebih 6000 ekor. Sekarang, hanya tersisa kurang lebih 4000 ekor. Sementara itu, ternak jenis lainnya seperti kambing atau domba pun jumlahnya menurun pascaerupsi. Sebelum erupsi, jumlah ternak ini mencapai 8000 ekor lebih. Sekarang, diperkirakan tersisa hanya 6000 ekor. 


Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Memahami Penyakit Rabies
  • Mengenal Gejala dan Pengobatan Penyakit TBC
  • Penyebab Penyakit Anemia dan Pengobatannya
  • Deteksi Dini dan Pencegahan Penyakit Rematik
  • Mekanisme Alergi: Kenali Alergen Agar Tidak Alergi
  • Jenis-jenis Penyakit di Sekitar Kita
  • Penyakit Kulit Herpes Bukan Penyakit Seksual
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA