TBC, Penyakit Bakteri Mycobacterium Tuberculosis
Indonesia menduduki peringkat ke-3 penderita TBC dunia. Hal ini sangat mengkhawatirkan. Bagaimana tidak, dari tahun ke tahun posisi ini tidak juga mau turun. Dalam mengantisipasi hal ini, pemerintah sudah melakukan berbagai cara. Misalnya saja dengan cara pengobatan gratis bagi para penderita TBC.
Penyebab penyakit TBC pertama kali dideskripsikan pada 24 Maret 1882 oleh seorang ilmuwan berkebangsaan Jerman, Robert Koch (1843-1910). Sejak saat itu, 24 Maret diperingati sebagai hari TBC dunia. Dan atas temuannya itu, Robert Koch dianugerahi hadiah Nobel dalam bidang fisiologi dan pengobatan pada 1905.
Tuberkulosis atau tuberkulosa biasa kita kenal sebagai penyakit TB atau TBC. Penyakit ini merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang bernama Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini dapat menyerang seluruh tubuh manusia dan teralirkan melalui pembuluh darah. Meskipun demikian, bakteri Mycobacterium tuberculosis biasanya menginfeksi dan menyerang paru-paru. Penyakit TBC sudah ada sejak lebih dari 200 tahun yang lalu.
Di Amerika, penyakit TBC ini pernah menjadi penyebab kematian terbesar. Akan tetapi, pada 1940, para ilmuwan berhasil menemukan obat untuk penanggulangan penyakit ini. Perlahan-lahan, penyakit ini pun menghilang. Namun, karena ternyata bakteri TBC dapat inaktif dalam tubuh manusia, pada 1984, kasus TBC ini mulai muncul lagi.
Mycobacterium tuberculosis adalah bakteri penyebab tuberculosa yang mempunyai takson, filum: Actinobacteria, ordo: Actinomycet, sub ordo: Corynebacterineae, famili: Mycobacteriaceae, genus: Mycobacterium.
Membelah Diri
Bakteri ini adalah jenis bakteri obligat aerob, artinya bakteri ini dapat hidup jika di lingkungannya ada oksigen. Tanpa oksigen, bakteri ini tak dapat hidup. Mycobacterium tuberculosis berkembang biak secara membelah diri setiap 16 hingga 20 jam. Berbeda dengan bakteri biasa yang membelah lebih cepat, bahkan dalam hitungan menit (contohnya saja E. coli yang membelah kurang dari 20 menit).
Bakteri ini ukurannya sangat kecil, yaitu sepersepuluh juta hinga dua persepuluh juta meter atau 0,1-0,2 mikrometer. Bentuknya batang kecil dan kebal terhadap desinfektan. Bakteri ini juga mampu bertahan hidup di tempat yang kering. Ia juga bersifat parasit terhadap inangnya.
Bakteri TBC mempunyai dinding sel tebal yang mengandung zat lilin. Zat lilin ini berperan dalam terbentuknya fase atau formasi granoluma atau bintil atau nodul yang terlihat pada hasil foto rontgen paru-paru penderita TBC.
Gejala
Bakteri TBC dapat menyebar melalui udara dari orang ke orang. Bakteri tersebut dapat keluar dari tubuh penderita ketika ia batuk atau bersin. Akan tetapi, meskipun setiap orang dapat menghirup udara yang terkontaminasi ini, tak semua orang dapat langsung menderita TBC, bergantung pada kekebalan tubuhnya. Biasanya, pada orang yang lemah kekebalan tubuhnya, seperti bayi, anak-anak, orang yang terkena virus HIV, atau penderita diabetes mellitus, bakteri dengan mudah berkembang biak dan menimbulkan penyakit TBC.
Gejala yang dialami penderita yang positif TBC itu antara lain kehilangan berat badan 3 bulan berturut-turut; kehilangan nafsu makan; demam dan berkeringat di malam hari; batuk selama minimal 2 minggu berturut-turut yang disertai darah dan dahak; pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang tidak sakit di daerah leher ketiak dan lipatan paha; serta bila dirontgen tampak cairan di dada.
Bakteri M. Tuberculosis resisten atau kebal terhadap antibiotik (seperti penisilin). Sehingga, untuk pengobatan TBC sangat dianjurkan untuk tidak memakai antibiotik. Pengobatan isoniasid (INH) dengan dosis 5 mg per kg berat tubuh pasien selama 6 bulan banyak terbukti ampuh mengobati penyakit ini.






