logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Kesehatan    Gaya Hidup Sehat    Menjaga Kesehatan

Parkinson - Penyakit pada Sistem Koordinasi


Ilustrasi penyakit pada sistem koordinasi

Jika Anda kesulitan mengancingkan baju dan mengikat tali sepatu, padahal sebelumnya tidak begitu, hati-hatilah! Atau jika Anda sering mengalami gejala tremor (gemetar) tangan dan kaki ketika sedang beristirahat, besar kemungkinan bahaya besar menanti. yaitu Parkinson, penyakit pada sistem koordinasi, khususnya sistem saraf.

Sistem Saraf pada Manusia

Saraf merupakan bagian dari tubuh manusia. Saraf adalah serat yang dapat menghubungkan organ-organ tubuh dengan sistem saraf pusat, yaitu otak dan sumsum tulang belakang dan antara bagian sistem saraf dengan yang lainnya.

Saraf dapat membawa implus ke otak atau pusat saraf. Salah satu bentuk saraf adalah neuron, tapi tidak semua neuron itu berbentuk saraf karena banyak sekali yang tidak membentuk saraf.

Sistem saraf pada manusia adalah sistem yang mengatur dan mengoordinasikan sebagian besar gerakan, perilaku, dan fungsi tubuh, salah satu bagian dari sistem saraf adalah otak.

Unit terkecil dari sistem saraf ini adalah neuron yang diikat oleh sel-sel glia. Pada sistem saraf ini, sel-sel saraf terdiri dari jutaan sel yang saling berhubungan dan sangat fital dalam perkembangan pikiran, bahasa, dan ingatan pada manusia. Sistem saraf ini mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia. Fungsi dari sistem saraf ini adalah sebagai berikut.

  • Sistem saraf berfungsi sebagai penerima informasi dalam bentuk stimulasi.

  • Sistem saraf berfungsi untuk memproses informasi yang diterima oleh manusia.

  • Sistem saraf berfungsi untuk memberi respon dan reaksi terhadap stimulasi.

Dalam sistem saraf manusia, sel saraf (Neuron) dapat dibagi menjadi beberapa bagian. Bagian-bagian sel saraf tersebut mempunyai fungsi yang berbeda-beda untuk kehidupan manusia.

Sel saraf ini juga dibagi atas beberapa bagian utama, yaitu badan sel saraf, dendrit, dan akson. Badan sel saraf mempunyai fungsi sebagai pengendali kerja sel saraf. Di dalam badan sel terdapat sitoplasma dan inti sel. Kemudian dari badan sel ini keluar akson (neurit) dan dendrit.

Akson atau neurit mempunyai fungsi sebagai pengirim implus dari badan sel saraf ke jaringan lainnya. Sedangkan, dendrit mempunyai fungsi untuk mengirim implus ke badan sel saraf. Di dalam badan sel terdiri dari satu dendrit.

Selain itu, berdasarkan fungsinya, sel saraf dibagi menjadi empat bagian, yaitu saraf sensorik, saraf motorik, saraf asosiasi (penghubung), dan saraf adjustor. Berikut ini adalah penjelasannya.

1. Saraf Sensorik

Saraf sensorik ini mempunyai fungsi untuk menghantarkan implus atau pesan dari reseptor ke sistem saraf pusat, yaitu otak (ensefalon) dan sumsum tulang belakang (medulla spinalis). Ujung akson dari saraf sensorik ii berhubungan dengan saraf asosiasi atau penghubung (intermediet).

2. Saraf Motorik

Saraf ini mempunyai fungsi sebagai pengirim implus dari sistem saraf pusat ke otot atau kelenjar yang hasilnya berupa tanggapan tubuh terhadap suatu rangsangan. Saraf motorik ini, badan selnya berada pada sistem saraf pusat.

Dendrit pada saraf motorik ini sangat pendek berhubungan dengan akson, sedangkan akson sangat panjang di dalam sistem saraf pusat. Hal tersebut berfungsi untuk menghubungkan sel saraf motorik dengan sel saraf sensorik atau dengan sel saraf lainnya yang ada di dalam sistem saraf pusat.

3. Saraf Asosiasi (penghubung)

Saraf ini berfungsi untuk menghubungkan sel saraf motorik dengan sel saraf sensorik dan sel saraf lainnya yang ada di dalam sistem saraf pusat. Saraf ini berada pada sistem saraf pusat. Sel saraf asosiasi ini menerima implus dari reseptor sensorik atau sel saraf asosiasi lainnya.

4. Saraf Adjustor

Pada sel saraf yang terakhir ini, sel saraf adjustor mempunyai fungsi sebagai penghubung saraf sensorik dan motorik di dalam sumsum tulang belakang dan otak.

Di dalam sistem saraf itu ada dua sistem yang ada, yaitu saraf pusat dan saraf tepi. Saraf pusat mempunyai fungsi sebagai pusat koordinasi yang terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang. Selain itu, terdapat sumsum lanjutan di antara otak dan sumsum tulang belakang. Di dalam otak dan sumsum tulang belakang terdapat tiga materi esensial, yaitu sebagai berikut.

  • Badan sel

  • Serabut saraf

  • Sel-sel neuroglia

Saraf tepi termasuk bagian dari sistem saraf. Sistem saraf tepi ini adalah semua saraf dan ganglion di luar sistem saraf pusat yang terdiri atas dua bagian, yaitu sebagai berikut.

  • Sistem saraf sadar (somatik) yang mempunyai fungsi mengatur kerja organ tubuh secara sadar. Sistem saraf sadar ini terdiri dari 12 pasang serabut saraf otak dan 31 pasang serabut saraf sumsum tulang belakang (nervus spinalis).

  • Sistem saraf tak sadar (autonom) berfungsi untuk mengatur kerja organ dalam tanpa dipengaruhi oleh kesadaran, bekerja secara otomatis, seperti jantung. Sistem saraf ini terdiri dari sistem saraf simpatetik dan saraf parasimpatetik.

Pengetahuan tentang saraf memang harus dipelajari lebih dalam agar dapat diketahui seluk beluk penyakit saraf. Masyarakat Indonesia memiliki istilah sendiri untuk penderita penyakit saraf ini, seperti ayan, tremor, dan parkinson. Berikut ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai penyakit Parkinson.

Motorik Halus

Pada manusia, terdapat sistem yang mengatur dan mengendalikan kerja alat tubuh agar bekerja serasi dan sesuai dengan fungsinya. Sistem tersebut dinamakan sistem koordinasi yang terbagi atas dua, yaitu sistem saraf dan hormon. Untuk penyakit Parkinson, umumnya memiliki gejala awal yang menyerang kemampuan motorik halus penderita.

Kemampuan ini diatur oleh sistem saraf pusat (otak). Ketika seseorang terkena Parkinson, ada gangguan serius pada neurotransmiter (penghantar rangsangan pada otak) yaitu dopamin. Jumlah dopamin berkurang dan hubungan dengan sel saraf dan otot lainnya juga lebih sedikit. Hal ini mengakibatkan gerakan tubuh tidak luwes karena otot-otot menjadi kaku.

Penderita Parkinson akan mengalami kesulitan mengontrol gerak tubuhnya, terutama pada otot di tangan, kaki, dan wajah. Akibatnya, aktivitas sehari-hari penderita menjadi terganggu. Untuk aktivitas seperti berjalan saja, harus dilakukan dengan susah payah.

Postur tubuh pun cenderung bungkuk, baik ketika duduk atau pun berdiri. Ekspresi penderita juga tidak ekspresif karena kekakuan otot pada wajah. Akibat kejiwaannya, penderita Parkison rentan mengalami depresi karena merasa tidak berdaya dan tidak bergairah untuk hidup.

Penyebab Parkinson yang Masih Misteri

Walaupun sebagian ahli kedokteran meyakini penyakit Parkinson cenderung diturunkan atau penyakit keturunan, tapi faktor penyebabnya bukanlah genetik. Seseorang yang menderita Parkinson, tidak selalu dikarenakan orang tuanya juga mengalami hal sama. Hingga sekarang, belum ditemukan bukti-bukti medis yang dapat menyimpulkan penyebab utama Parkinson secara meyakinkan.

Pada beberapa kasus, penyebab Parkinson memang dapat ditentukan dengan pasti. Seperti karena komplikasi serius dari virus yang menyebabkan peradangan otak, ataupun efek samping dari obat-obatan atau racun yang menghalangi kerja dopamin, seperti pada obat anti psikosa atau schizophrenia. Hanya saja, itu semua bersifat kasuistik. Penyebab secara umum dari Parkinson masih misteri.

Untuk mengobati penyakit Parkinson, ada beberapa terapi yang biasa dilakukan. Yaitu, terapi obat-obatan yang menggunakan Levodopa (L-dopa), Inhibitor dopa dekarboksilasi, Bromokriptin, Antikolinergik, Antihistamin, Amantadin, dan Selegiline.

Selain terapi obatan-obatan, terapi fisik, suara, dan gen juga mulai digunakan mengobati penyakit yang banyak diderita manusia di atas usia 40 tahun ini. Bahkan, metode pencangkokan saraf pun mulai ditempuh.

Tapi, semua metode terapi tersebut hanya bersifat mengobati gejala ringan dari Parkinson dan menghambat perkembangannya. Jadi, bukan untuk menghilangkan gejala atau menyembuhkan penyakit pada sistem koordinasi tersebut. Hingga sekarang, Parkinson masih merupakan penyakit yang tak bisa disembuhkkan.

Untuk itu, perlu adanya penyuluhan tentang penyakit pada sistem saraf. Pengetahuan tentang ilmu saraf di Indonesia masih kurang, hanya dikalangan para pelajar yang belajar di idang kesehatan saja. Akibatnya, kesadaran masyarakat akan hidup sehat dan terhindar dari penyakit saraf masih kurang.

Dengan kesadaran akan penyakit pada sistem koordinasi, diharapkan masyarakat Indonesia dapat menciptakan pola hidup yang sehat, salah satunya adalah olah raga yang teratur.

Pola hidup yang teratur memang sulit diterapkan pada zaman sekarang karena semakin majunya teknologi, maka manusia akan semakin sibuk. Kesibukan manusia tersebut membuat pola hidup tidak teratur.

Manusia tidak ada waktu untuk melakukan olah raga. Padahal olah raga itu sangat penting bagi kesehatan manusia, terutama bagi kesehatan otot saraf. Penyakit saraf pun terjadi bukan pada kalangan orang tua saja, tapi kalangan muda pun sudah banyak yang terjangkit penyakit pada sistem koordinasi ini. Untuk itu, mulailah melakukan pola hidup yang teratur dengan olah raga yang cukup.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Waspadai Stroke! Pembunuh Nomor Tiga di Indonesia
  • Tips Menjaga Kebugaran Dan Kesehatan
  • Penyebab Puting Terasa Sakit
  • Menjaga Kesehatan Ibu Hamil
  • Artikel Kesehatan: Pola Makan Sehat
  • Mengenal Penyakit Asam Urat
  • Ayo Ketahui Cara Berhenti Merokok!
  • Bahaya Pemakaian Narkoba
  • Tema Makalah Pencemaran Lingkungan
  • Penyakit pada Telinga yang Menyerang Balita
  • Ada Apa dengan Lupus?
  • Menu Makanan Sehat untuk Anak - Kreativitas Ibu adalah Kuncinya
  • Menjaga Kesehatan Bayi Sejak Dini
  • Trik Berhenti Merokok Bagi Anda Perokok Abadi
  • Pentingnya Kesehatan Mental
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA