Penyakit pada Telinga yang Menyerang Balita

Apakah bayi Anda pernah mengalami flu yang memburuk dan kira-kira 5 hari kemudian diikuti demam serta telinga mengeluarkan cairan berwarna bening bercampur nanah? Jika ya, kemungkinan besar bayi Anda mengalami infeksi telinga, sebuah penyakit pada telinga yang umumnya menyerang balita. Jika dalam kondisi parah, penyakit ini pun dapat menghilangkan pendengaran secara permanen.
Waspadai Flu yang Kian Memburuk
Flu merupakan penyakit yang seringkali menyerang balita. Jika bayi Anda terkena flu yang ditandai dengan hidung beringus tanpa disertai demam dan bayi masih nampak ceria, Anda tidak perlu membawanya ke dokter. Flu biasanya akan hilang sendiri setelah tiga sampai lima hari. Jika dalam jangka waktu lima hari flu belum mereda dan malah memburuk (disertai demam), sudah saatnya Anda menghubungi dokter karena bisa saja bayi Anda mengidap penyakit lain, seperti infeksi telinga.
Mengapa Balita Rentan Terkena Infeksi Telinga?
Jawabannya terdapat pada pola kebiasaan mereka dan struktur telinga bayi yang memang berbeda dengan orang dewasa. Bayi yang terkena flu umumnya menolak untuk membuang ingusnya. Meskipun telah banyak alat penyedot ingus (respirator hidung) yang dijual di apotek-apotek, banyak dari orang tua yang merasa belum terbantu dengan alat ini.
Alasannya bayi mereka memberontak, membanting respiratornya, atau malah menendang orang tuanya. Dalam kondisi demikian, orang tua seringkali memilih untuk kalah dan merasa lemah menaklukkan bayinya. Lalu, berpura-pura bahwa semua akan baik-baik saja. Jangan salah. Struktur telinga bayi yang berbeda dari orang dewasa membuat ingus balita yang tidak dibuang dengan paksa tadi terperangkap di telinga bagian tengah (di tuba estachius).
Struktur tuba estachius yang pendek dan lebar ternyata membuat kuman dan lendir mudah memasuki telinga melalui kerongkongan. Jika ini terjadi, bayi Anda akan mengalami infeksi telinga. Itulah sebabnya salah satu gejala penyakit ini adalah mengeluarkan cairan yang berwarna bening dan kuning seperti nanah. Cairan tersebut adalah ingus dan bakteri atau kuman yang terperangkap.
Akan tetapi, tidak semua gejala infeksi telinga selalu disertai dengan keluarnya cairan dari telinga. Pada kasus yang lebih ringan, telinga tidak mengeluarkan cairan, tetapi badan bayi Anda mengalami demam dan sangat rewel. Terutama, di malam hari. Bayi yang terkena infeksi telinga akan susah tidur dan menangis terus-menerus. Dia juga akan mudah sekali marah.
Pencegahan dan Pengobatan
Hal terbaik yang dapat Anda lakukan agar bayi terhindar dari infeksi telinga adalah sebagai berikut.
- Berikan ASI. Pemberian ASI mengurangi risiko terkena infeksi telinga.
- Kendalikan alergen. Alergen makanan, terutama produk olahan berbahan susu, turut berperan atas terjadinya infeksi telinga.
- Minimalisasi kontak dengan anak yang sakit agar tidak tertular pengakit (flu).
- Beri makan dalam posisi tegak lurus terutama ketika bayi sedang menyusu. Kondisi ini mengurangi kesempatan cairan terperangkap di telinga tengah.
- Rawatlah flu dengan baik
- Jaga lintasan hidung agar tetap bersih (dengan cara membuang ingus bayi agar tidak ada ingus yang terperangkap di telinga tengah).
Jika bayi Anda terserang infeksi telinga, langkah pertama yang perlu Anda lakukan adalah memberinya paracetamol untuk mengurangi rasa sakit dan obat tetes telinga. Dosis paracetamol pada bayi 1 sendok teh (5 ml) diminum 3 kali sehari. Sementara pemberian obat tetes telinga, disesuaikan dengan tingkat parahnya infeksi.
Jika gejala infeksi telinga tidak sampai membuat bayi Anda mengeluarkan cairan atau lendir yang mirip nanah dari telinganya, mungkin Anda dapat memberinya 1 tetes dua kali sehari. Akan tetapi, dalam kasus yang lebih parah (telinga mengeluarkan cairan), diperlukan 1 atau 2 tetes 3 kali sehari.
Pemberian antibiotik tidak selalu diperlukan. Jika kondisinya tidak terlalu parah, infeksi akan sembuh dalam waktu kurang lebih tiga hari. Namun, jika dalam jangka waktu tersebut infeksi tidak membaik, antibiotik mungkin diperlukan. Infeksi telinga yang sangat parah dapat menghilangkan fungsi pendengaran secara permanen.






