Mengenal Penyakit Pencernaan Sindrom Fungsional Hipogastrium
Harni (bukan nama sebenarnya) seorang karyawati sebuah perusahaan swasta sering mengeluh sakit yang luar biasa di bagian perut bawahnya, berulang kali ia minum obat resep dokter namun tidak ada yang ampuh. Entah sudah berapa kali pula ia mencoba pengobatan alternatif namun tetap saja hasilnya nihil. Akibatnya di kantor ia sering tidak masuk, padahal di lingkungan kerjanya ia termasuk jajaran pimpinan yang disegani karena terkenal dengan disiplin tinggi yang diterapkan kepada para bawahannya.
Ia malu bila ternyata tidak mampu menjadi contoh yang baik karena sering tidak masuk akibat penyakit perutnya yang misterius ini. Namun penyakit anehnya ini terungkap setelah ia tak sengaja mengobrol dengan salah seorang kawannya yang seorang psikolog, ternyata Harni ditenggarai menderita penyakit pencernaan Sindrom fungsional hipogastrium. Penyakit apakah itu?
Sindrom Fungsional Hipogastrium
Penyakit pencernaan yang umumnya kita ketahui adalah diare, wasir, kanker usus, dan sembelit (konstipasi). Semua penyakit pencernaan tesebut umumnya menyerang organ-organ pencernaan seperti esofagus, lambung, duodenum, jejunum, ileum, kolon, kolon sigmoid, maupun rektum.
Namun tak banyak yang tahu dengan sindrom fungsional hipogastrium, gangguan pencernaan yang mengenai saluran cerna bagian bawah ini juga dikenal sebagai spastic colon, irritable colon, colitis nervosa, dan obstipasi spastic.
Penderita penyakit ini akan biasanya mengeluhkan rasa sakit pada perut bawah pusat, diare atau obstipasi (sembelit), namun setelah dilakukan pemeriksaan pada saluran pencernaan bawahnya ternyata tidak ditemukan penyebab spesifik seperti infeksi, peradangan atau gangguan anatomis lainnya. Feses penderita yang keluar biasanya berbentuk seperti potlot atau tahi kambing (obstipasi spastik).
Sindrom fungsional hipogastrium ini dikategorikan penyakit saluran pencernaan yang berhubungan dengan faktor psikologis. Penderita sindrom ini pada umumnya memiliki harapan-harapan yang tidak terwujud setelah merasa telah memberi “lebih” kepada orang lain.
Mereka secara sadar telah memberi banyak kepada orang lain namun secara tidak sadar mereka mengharapkan lebih banyak lagi dari orang-orang di sekelilingnya. Pada akhirnya mereka akan berterus terang meminta pengakuan akan prestasi-prestasinya selama ini dan telah memberi “terlampau banyak” tapi tidak mendapatkan “imbalan” sesuai yang diharapkan.
Sindrom ini umumnya terjadi di dunia kerja yang beriklim keras penuh persaingan dengan intrik yang kasar. Iklim kerja seperti itu menyebabkan banyak yang mengambil jalan “tebar pesona” dengan pamrih seperti di atas. Pengobatan bagi penderita sindrom ini haruslah melibatkan psikiater untuk dapat membuka komunikasi dan “membongkar” keinginan yang terpendam penderitanya.
Ikhlas Kunci Sehat
Sindrom fungsional hipogastrium ini mengajarkan kita untuk dapat bekerja dengan ikhlas tanpa pamrih. Bila kita harus memberi maka berilah dengan ikhlas tanpa ada harapan untuk mendapatkan sesuatu di kemudian hari.
Pemberian yang sedikit namun dilandasi dengan niat yang ikhlas pasti akan terbayar berlipat ganda dengan cara yang tak terduga-duga di kemudian hari. Sebaliknya, pemberian yang kita lakukan walau sebanyak apa pun, namun bila diiringi dengan harapan yang tinggi di kemudian hari tak akan mendatangkan keuntungan apa pun selain rasa sakit hati.
Jadi, bila Anda ingin sehat, ikhlaslah dalam memberi!






